kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.639.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.676   -107,00   -0,60%
  • IDX 6.668   72,11   1,09%
  • KOMPAS100 872   13,18   1,53%
  • LQ45 663   10,90   1,67%
  • ISSI 232   2,15   0,94%
  • IDX30 371   5,78   1,58%
  • IDXHIDIV20 459   8,65   1,92%
  • IDX80 100   1,57   1,60%
  • IDXV30 127   2,77   2,24%
  • IDXQ30 119   2,33   2,00%

Laba J Resources (PSAB) Melonjak 803%, Investor Diminta Waspadai Keuntungan One-Off


Kamis, 03 September 2026 / 18:04 WIB
Laba J Resources (PSAB) Melonjak 803%, Investor Diminta Waspadai Keuntungan One-Off
ILUSTRASI. PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) (Dok/PSAB)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) membukukan lonjakan laba hingga 803% pada semester I-2026.  

Menurut laporan keuangan yang dipublikasikan di keterbukaan informasi, Selasa (1/9/2026), PSAB mencatatkan laba bersih sebesar US$ 177,89 juta di semester I 2026, melonjak 803% secara tahunan (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 19,69 juta.

Sementara dari sisi top line, penjualan perusahaan tercatat sebesar US$ 160,64 juta, naik sekitar 14,5% yoy dari US$ 140,30 juta pada semester I 2025. 

Baca Juga: Yield SBN Bergejolak, Cermati Strategi Masuk Bertahap dan Tenor Pendek

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan lonjakan laba bersih PSAB hingga 803%, sementara penjualan hanya tumbuh 14,5%, menunjukkan bahwa peningkatan laba tidak semata-mata berasal dari pertumbuhan bisnis operasional. 

Ada kontribusi yang sangat besar dari keuntungan non-recurring, khususnya terkait transaksi divestasi aset tambang Doup. Kondisi ini membuat pertumbuhan laba bersih terlihat jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatan. 

"Artinya, secara fundamental bisnis inti PSAB memang mengalami perbaikan, tetapi lonjakan laba hingga ratusan persen tidak bisa seluruhnya dianggap sebagai pertumbuhan laba yang berulang," kata Hendra kepada Kontan, Rabu (2/9/2026) malam.

Investor perlu melihat kualitas laba tersebut dengan memisahkan kontribusi keuntungan dari aksi korporasi dengan laba yang berasal dari kegiatan pertambangan. 

Dengan demikian, kenaikan laba 803% merupakan katalis positif bagi perusahaan, terutama karena dapat memperkuat posisi keuangan. Tetapi untuk menilai keberlanjutan kinerja PSAB, pertumbuhan produksi emas, harga jual emas, biaya produksi dan arus kas operasional tetap menjadi indikator yang lebih penting.

Prospek Kinerja PSAB

Untuk prospek hingga akhir 2026, Hendra melihat PSAB masih memiliki peluang yang cukup menarik. Katalis utama berasal dari harga emas yang masih berada pada level tinggi, sehingga memberikan ruang bagi perusahaan untuk mempertahankan margin dan meningkatkan profitabilitas apabila volume produksi dapat dijaga. 

Baca Juga: Cuan Reksadana Saham Naik 3,6% di Agustus, Ini Racikan Manajer Investasi

Selain itu, penguatan neraca setelah adanya keuntungan dari transaksi divestasi memberikan fleksibilitas lebih besar bagi perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasional maupun mengembangkan aset pertambangan. 

Namun, tantangan PSAB ke depan adalah memastikan pertumbuhan laba tidak hanya berasal dari keuntungan satu kali, tetapi juga diikuti peningkatan kinerja bisnis inti. Produksi emas menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan karena harga emas yang tinggi tidak akan memberikan dampak maksimal terhadap pendapatan apabila volume produksi justru melemah. 

Dus, semester II-2026 akan menjadi periode penting untuk melihat apakah PSAB mampu mengonversi momentum harga emas menjadi peningkatan produksi, pendapatan, margin dan arus kas. Risiko lainnya adalah volatilitas harga emas, kenaikan biaya operasional, faktor teknis pertambangan serta potensi penurunan harga emas apabila sentimen global berubah.

Secara terpisah, Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menerangkan prospek PSAB masih cukup menarik dari sisi bisnis emas, tetapi pertumbuhan laba kemungkinan akan jauh lebih normal dibanding semester I karena keuntungan divestasi tadi tidak berulang. 

"Faktor pendukung utamanya adalah harga emas yang masih berada pada level tinggi, sehingga tetap memberikan ruang bagi margin operasi apabila produksi dan biaya tambang dapat dijaga," ujar Elandry. 

Secara global, emas juga masih memperoleh dukungan dari kebutuhan safe haven, ketidakpastian geopolitik dan kekhawatiran terhadap nilai mata uang, meskipun dalam jangka pendek volatility masih tinggi

Investor juga perlu mencermati kemampuan PSAB menjaga produksi dan efisiensi dari aset tambang yang tersisa setelah divestasi Doup. Risiko lainnya berasal dari potensi impairment atau write-off aset, kenaikan biaya operasional, serta koreksi harga emas apabila yield obligasi dan dolar AS kembali menguat. 

"Jadi untuk sisa 2026, saya melihat fundamental operasional PSAB masih berpeluang mendapat dukungan dari harga emas, tetapi investor sebaiknya tidak menggunakan pertumbuhan laba 803% semester I sebagai baseline karena sebagian besar berasal dari one-off gain," tambah Elandry. 

Baca Juga: Rupiah Menguat, Data Tenaga Kerja AS dan Suku Bunga The Fed Jadi Sorotan

Fokus pasar ke depan akan kembali kepada produksi, cash cost, margin dan kemampuan perusahaan menghasilkan laba berulang dari operasi inti.

Dari sisi saham, Hendra melihat PSAB masih menarik untuk pendekatan trading buy atau speculative buy, tetapi sebaiknya tidak mengejar harga ketika sudah mengalami kenaikan cukup tajam. Target harga untuk saham ini berada di level Rp660 per saham. 

Secara keseluruhan, PSAB memiliki kombinasi katalis fundamental dan teknikal yang cukup menarik, mulai dari harga emas yang tinggi, penguatan posisi keuangan, hingga potensi perbaikan kinerja operasional. Namun, investor tetap harus membedakan antara laba yang bersifat berulang dengan keuntungan non-recurring

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×