Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah lonjakan yield akibat gejolak geopolitik global dan arah suku bunga yang membayangi pasar obligasi, investor disarankan memprioritaskan instrumen berdurasi pendek serta menerapkan strategi masuk secara bertahap untuk mengamankan imbal hasil yang optimal.
Melansir data Trading Economics per Rabu (2/9), yield Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia tenor 10 tahun tercatat naik 0,239% ke level 7,23%, sementara yield SBN tenor 5 tahun menguat 0,148% ke level 7,09%.
Prospek instrumen utang domestik, baik SBN maupun obligasi korporasi, dinilai masih menjanjikan hingga akhir 2026.
Permintaan pasar terdorong oleh kebutuhan reinvestasi akibat besarnya volume instrumen yang akan jatuh tempo, di samping rekam jejak pengelolaan utang negara yang terjaga serta penawaran yield riil Indonesia yang kompetitif di kawasan Asia berkembang.
Baca Juga: Cuan Reksadana Saham Naik 3,6% di Agustus, Ini Racikan Manajer Investasi
Kendati demikian, pergerakan pasar obligasi saat ini dibayangi oleh serangkaian sentimen negatif.
Dari ranah eksternal, lonjakan harga minyak mentah Brent ke atas level US$ 90 per barel akibat konflik Timur Tengah memicu kecemasan inflasi, ditopang ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan melesatnya yield US Treasury.
Di dalam negeri, kenaikan inflasi dan fluktuasi nilai tukar rupiah turut membayangi persepsi pasar.
Pergerakan indikator global seperti US Treasury memegang peranan krusial terhadap arus modal asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN), mengingat investor asing kerap memantau yield differential dan risiko nilai tukar.
Chief Dealer Fixed Income & Derivatives PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Fudji Rahardjo menilai bahwa instrumen berdurasi pendek menjadi pilihan yang lebih aman dan rasional di tengah tingginya volatilitas.
"Dengan yield tenor 10 tahun sekitar 7,14%, investor masih dapat memanfaatkan level yield yang relatif tinggi secara selektif. Tenor pendek seperti 2-5 tahun terlihat menarik dengan risiko durasi yang lebih terkontrol, sambil mempertahankan ruang untuk penambahan apabila yield tenor 10 tahun kembali mengalami kenaikan," ujar Fudji kepada Kontan, Kamis (3/9/2026).
Sejalan dengan hal tersebut, pelaku pasar diingatkan agar tidak tergesa-gesa dalam menempatkan dana dan lebih disiplin memantau dinamika makroekonomi.
Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto menyarankan investor untuk melakukan penataan portofolio secara bertahap demi meminimalkan risiko pasar yang berubah cepat.
"Karena kondisinya sangat dinamis dan perubahannya sangat cepat, lebih baik masuk secara bertahap. Portfolio kita harus di-balance secara bertahap sambil terus mengikuti perkembangan pasar yang ada," kata Ramdhan.
Baca Juga: Dolar AS Tertekan, Rupiah Menguat ke Rp 17.679 dan Berpeluang Lanjut Besok
Hingga akhir tahun 2026, pergerakan yield SBN diproyeksikan melandai dibanding posisi saat ini jika ketegangan global mereda.
Fudji memproyeksikan yield SBN tenor 5 tahun berada di kisaran 6,7% dan tenor 10 tahun di level 6,9%.
Sementara itu, Ramdhan memperkirakan yield SBN tenor 5 tahun berpotensi bergerak di kisaran 6,5%, sedangkan tenor 10 tahun berpeluang landai ke level 6,8% hingga 6,9%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














