Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) berhasil membalikkan kinerja keuangan secara signifikan pada semester pertama 2026. Perusahaan ini mencatatkan pemulihan dari posisi rugi menjadi laba bersih sebesar US$ 283 juta, seiring dengan lonjakan kontribusi bisnis energi serta perbaikan kinerja pada segmen kimia.
Selam periode kuartal II-2026, TPIA membukukan laba bersih sebesar US$ 137 juta. Menurut Analis Sucor Sekuritas, Andreas Yordan Tarigan dalam riset 31 Juli 2026, laba kuartal II tersebut turun tipis 6% secara kuartalan akibat normalisasi margin bisnis energi, capaian tersebut tetap menunjukkan momentum pemulihan yang kuat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi pendapatan, TPIA mencatat pertumbuhan signifikan sepanjang enam bulan pertama 2026. Total pendapatan TPIA meningkat 84% secara tahunan menjadi US$ 5,35 miliar. Sementara itu, pendapatan pada kuartal II-2026 tumbuh 23% secara kuartalan dan 29% secara tahunan menjadi US$ 2,95 miliar.
Baca Juga: Menakar Prospek Saham Konglomerat Usai Rilis Kinerja Semester I-2026
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kinerja positif dari dua segmen utama TPIA, yakni energi dan kimia.
Bisnis energi menjadi kontributor utama terhadap peningkatan kinerja TPIA. Pada kuartal II-2026, segmen energi membukukan pendapatan sebesar US$ 1,88 miliar, meningkat 29% dibandingkan kuartal sebelumnya.
Namun, margin segmen energi mengalami tekanan menjadi 18% dari 38% pada kuartal I-2026. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh penyesuaian biaya bahan baku minyak mentah (crude oil).
Di sisi lain, bisnis kimia menunjukkan tren pemulihan yang semakin kuat. Pendapatan segmen kimia meningkat 38% secara kuartalan menjadi US$ 1,50 miliar pada kuartal II-2026, didorong oleh kenaikan harga jual produk Polypropylene (PP) dan Polyethylene (PE).
Perbaikan harga jual tersebut turut membantu menekan kerugian operasional segmen kimia secara signifikan. Kerugian operasional yang sebelumnya mencapai US$ 148 juta pada kuartal I-2026 berhasil dipangkas menjadi hanya US$ 21 juta pada kuartal II-2026.
Andreas menilai TPIA berada dalam posisi strategis untuk memanfaatkan perubahan rantai pasok global serta potensi stabilisasi margin kilang (refining margins) di sekitar level US$ 15 per barel.
Andreas menilai transformasi TPIA menjadi perusahaan yang lebih terintegrasi di sektor energi, kimia, dan infrastruktur menjadi katalis positif bagi pertumbuhan jangka panjang. Menurut dia, perubahan profil bisnis tersebut membuat TPIA tidak lagi hanya bergantung pada siklus industri petrokimia, melainkan berkembang menjadi emiten compounder dengan basis bisnis yang lebih beragam.
Dengan fundamental keuangan yang semakin kuat serta strategi diversifikasi bisnis yang berjalan efektif, Andreas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham TPIA.
Sucor Sekuritas menetapkan target harga saham TPIA sebesar Rp 6.200 per saham. Rekomendasi tersebut mencerminkan optimisme terhadap prospek pertumbuhan perseroan, seiring pemulihan bisnis kimia, penguatan segmen energi, serta ekspansi portofolio usaha yang memberikan peluang pertumbuhan berkelanjutan.
Baca Juga: Rupiah Berpotensi Terkoreksi Kamis (6/8), Ini Proyeksi Pergerakannya
Hingga akhir 2026, Sucor Sekuritas memperkirakan pendapatan dan laba bersih TPIA masing-masing akan mencapai US$ 10,87 miliar dan US$ 668 juta. Sedangkan proyeksi di tahun 2027, pendapatan TPIA akan mencapai US$ 11,43 miliar dan labanya sebesar US$ 795 juta.
Harga saham TPIA ditutup turun 0,48% di Rp 2.060 per saham pada Rabu (5/8/2026). Sementara dalam lima hari saham TPIA turun 5,5%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
