Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kebijakan pemerintah memangkas tarif bea masuk impor LPG (propana dan butana) dari 5% menjadi 0% selama enam bulan dinilai dapat memberikan dorongan bagi industri petrokimia. Namun, dampaknya terhadap kinerja emiten sektor ini masih bersifat terbatas.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi mengatakan, pemangkasan tarif tersebut secara langsung menurunkan biaya impor LPG.
“Pemangkasan bea masuk LPG mengurangi landed cost LPG impor secara langsung. Dalam kondisi harga nafta yang masih tinggi dan gangguan pasokan, LPG menjadi lebih ekonomis sebagai feedstock,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (31/7/2026).
Ia memperkirakan, penghematan dari kebijakan ini dapat berkontribusi terhadap penurunan biaya bahan baku sekitar 1% hingga 3%, tergantung pada porsi penggunaan LPG pada masing-masing emiten.
Baca Juga: Menakar Prospek Chandra Asri Pacific (TPIA) Setelah Rilis Kinerja Semester I 2026
Meski demikian, dampak terhadap margin dinilai tidak berdiri sendiri.
“Dampak ke margin ada, tapi tidak sebagai standalone factor. Bisa berkontribusi sekitar 100 hingga 200 basis poin margin improvement untuk emiten yang bisa agresif beralih ke LPG,” jelasnya.
Menurut Wafi, tidak semua emiten petrokimia memiliki kapasitas untuk memaksimalkan manfaat tersebut, terutama yang belum memiliki fasilitas propane dehydrogenation (PDH).
Dari sisi sentimen pasar, kebijakan ini dinilai hanya sebagai faktor pendukung.
“Masa berlaku enam bulan memang menjadi keterbatasan. Namun jika terbukti efektif, peluang perpanjangan cukup tinggi. Insentif ini lebih sebagai supporting factor daripada katalis utama,” katanya.
Ia menambahkan, pergerakan saham sektor petrokimia masih lebih banyak dipengaruhi oleh faktor global, seperti pergerakan harga minyak, petrochemical spread, serta sentimen pasar global.
Adapun emiten yang dinilai paling diuntungkan dari kebijakan ini adalah PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).
Baca Juga: Chandra Asri (TPIA) Raih Pendapatan US$ 5,3 Miliar pada Semester I-2026
“TPIA paling diuntungkan karena memiliki skala terbesar, kapasitas PDH signifikan, serta integrasi vertikal yang memungkinkan efisiensi biaya bahan baku di seluruh rantai nilai,” ungkapnya.
Selain itu, induk usaha PT Barito Pacific Tbk (BRPT) juga berpotensi memperoleh manfaat melalui kinerja konsolidasian.
Untuk rekomendasi, Wafi memberikan target harga saham TPIA di level Rp3.200 per saham.
“Kombinasi kebijakan bea masuk LPG 0%, proyek waste-to-energy sebagai diversifikasi jangka panjang, serta perbaikan petrochemical spread menciptakan multiple catalyst yang belum sepenuhnya tercermin di harga saham,” jelasnya.
Namun demikian, ia mengingatkan adanya risiko, salah satunya status TPIA yang masih masuk dalam kategori high shareholding concentration (HSC) yang dapat membatasi minat beli investor institusi.
Baca Juga: Chandra Asri (TPIA) Lanjutkan Pembangunan CA-EDC Tahap II, Siapkan US$ 1 Miliar
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
