Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Mata uang safe haven berpotensi menguat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, terutama setelah memanasnya konflik antara Israel dan Iran.
Ketidakpastian tersebut mendorong pergeseran aliran dana global dari aset berisiko menuju instrumen yang dianggap lebih aman.
Melansir Trading Economics pada Minggu (9/3) pukul 11.30 WIB, indeks dolar AS (DXY) berada di level 98,9 menguat 2,22% sebulan.
Baca Juga: Saat Daya Beli Turun, Saham Ritel MIDI, MAPI, MAPA, ACES Mana yang Menarik?
Adapun pairing valas USD/JPY berada di level 157,4 atau menguat 1,03% sebulan. Kemudian USD/CHF juga menguat 1,81% sebulan jadi 0,78.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo menilai kondisi geopolitik yang sangat tegang pada awal Maret 2026 telah mengubah peta aliran modal global secara signifikan.
Dana institusi mulai mengalir ke aset perlindungan nilai, termasuk mata uang safe haven.
“Dampak masuknya dana institusi ke valas safe haven kali ini berpotensi sangat masif karena adanya war premium yang jarang terjadi. Hilangnya pemimpin tertinggi sebuah negara dan gangguan pada jalur energi vital dapat memicu lonjakan permintaan aset lindung nilai,” ujar Sutopo kepada Kontan, Selasa (3/3/2026).
Ia menambahkan, tren bullish pada mata uang safe haven sudah mulai terlihat sejak pembukaan pasar awal pekan ini.
Lonjakan indeks volatilitas pasar mendorong algoritma perdagangan institusional melakukan langkah de-risking atau mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp16.925 pada Akhir Pekan, Cek Proyeksi Senin (9/3)
Menurutnya, dampak peristiwa ini tidak bersifat sementara. Pasar valas berpotensi tetap berada dalam fase penguatan selama ketegangan militer di kawasan Teluk Persia belum menunjukkan tanda deeskalasi yang jelas.
Selain faktor geopolitik, terdapat sejumlah katalis lain yang dapat menopang penguatan mata uang safe haven. Sutopo menyebut persistensi inflasi di Amerika Serikat serta ketidakpastian kebijakan perdagangan global turut mendukung penguatan dolar AS.
Ia menilai data produsen terbaru menunjukkan perusahaan mulai meneruskan beban tarif kepada konsumen, yang mengindikasikan inflasi masih sulit turun. Kondisi ini berpotensi membuat The Fed mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.
Di sisi lain, penghentian program quantitative tightening oleh bank sentral AS pada akhir 2025 juga menciptakan keseimbangan baru likuiditas dolar di pasar global. Ketika permintaan safe haven meningkat, keterbatasan likuiditas tersebut justru dapat memperkuat nilai dolar.
Bagi investor ritel, Sutopo menilai Swiss Franc berpotensi menjadi mata uang yang paling menarik. Hal ini didukung oleh independensi kebijakan moneter Swiss serta besarnya cadangan emas negara tersebut, yang menjadikannya salah satu aset lindung nilai paling stabil.
“Strategi yang rasional bagi investor ritel adalah buy on dip pada pasangan seperti USD/CHF atau emas. Dalam kondisi perang aktif, koreksi harga biasanya hanya bersifat sementara sebelum tren kenaikan berlanjut,” jelasnya.
Untuk proyeksi semester I 2026, Sutopo memperkirakan indeks dolar AS berpotensi menguji kisaran 100,00 hingga 102,50 jika konflik geopolitik semakin meluas.
Baca Juga: Asing dalam Sepekan Masih Catat Net Buy Rp 2,23 Triliun Efek Crossing Saham SGRO
Sementara itu, pasangan USD/JPY diproyeksikan bergerak volatil di rentang 152,00–158,00. Adapun USD/CHF diperkirakan cenderung melemah menuju kisaran 0,7500–0,7650 yang mencerminkan penguatan franc Swiss terhadap dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













