kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.024.000   -25.000   -0,82%
  • USD/IDR 16.955   12,00   0,07%
  • IDX 7.509   -201,44   -2,61%
  • KOMPAS100 1.046   -31,01   -2,88%
  • LQ45 769   -18,71   -2,38%
  • ISSI 264   -8,34   -3,06%
  • IDX30 409   -9,83   -2,34%
  • IDXHIDIV20 505   -10,04   -1,95%
  • IDX80 118   -3,40   -2,81%
  • IDXV30 136   -2,76   -1,99%
  • IDXQ30 132   -2,88   -2,13%

Konflik Israel-Iran Berpotensi Mendongkrak Valas Aset Safe Haven


Jumat, 06 Maret 2026 / 11:05 WIB
Konflik Israel-Iran Berpotensi Mendongkrak Valas Aset Safe Haven


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Eskalasi konflik di Timur Tengah antara Israel dan Iran berpotensi memicu pergerakan signifikan pada mata uang safe haven global. 

Melansir Trading Economics pada Jumat (6/3) pukul 10.48 WIB, DXY berada di level 98,9 menguat 2,22% sebulan. Adapun pairing valas USD/JPY berada di level 157,4 atau menguat 1,03% sebulan. Kemudian USD/CHF juga menguat 1,81% sebulan jadi 0,78.

Research and Development ICDX, Taufan Dimas Hareva menjelaskan, pada fase awal ketidakpastian geopolitik biasanya terjadi aliran dana besar dari investor institusi menuju aset yang paling likuid, terutama dolar Amerika Serikat. 

Kondisi ini berpotensi mendorong penguatan indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY).

Baca Juga: Pefindo Sematkan Peringkat idAA untuk Jasa Marga (JSMR), Prospek Stabil

“Namun penguatan ini biasanya lebih bersifat respons cepat terhadap sentimen risiko, bukan tren struktural jangka panjang kecuali jika konflik meluas dan mengganggu stabilitas ekonomi global, terutama pasokan energi,” ujar Taufan kepada Kontan, Selasa (3/3/2026).

Ia menambahkan, respons pasangan mata uang seperti USD/JPY dan USD/CHF juga dapat lebih kompleks. Hal ini karena yen Jepang dan franc Swiss juga dikenal sebagai aset safe haven yang sering menjadi tujuan aliran dana saat kondisi pasar memasuki fase risk off ekstrem.

“Dalam kondisi kepanikan tinggi, yen dan franc justru bisa menguat terhadap USD. Artinya tren bullish tidak otomatis terjadi di semua pasangan berbasis USD karena arus lindung nilai bisa terbagi antara USD, yen, dan franc,” jelasnya.

Selain faktor geopolitik, pasar valas global saat ini juga mencermati arah kebijakan moneter bank sentral utama dunia. 

Data inflasi Amerika Serikat yang masih relatif tinggi memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, sehingga menopang daya tarik dolar AS.

Di sisi lain, Bank of Japan mulai memberi sinyal normalisasi kebijakan moneter secara bertahap. Dalam jangka menengah, langkah ini berpotensi mendukung penguatan yen Jepang. 

Baca Juga: Rupiah Spot Melemah 0,06% ke Rp 16.915 per Dolar AS pada Jumat (6/3) Pagi

Sementara itu, Swiss National Bank dinilai tetap responsif terhadap volatilitas global sehingga franc Swiss tetap menarik saat ketidakpastian meningkat.

Taufan menambahkan, faktor lain yang juga mempengaruhi dinamika pasar valas adalah pergerakan harga minyak dunia, kondisi pasar obligasi AS, serta perkembangan ekonomi di China dan Eropa yang turut mempengaruhi selera risiko global.

Dalam kondisi saat ini, dolar AS masih menjadi safe haven paling likuid dan paling banyak diakses investor institusi. 

Namun jika konflik semakin meluas dan volatilitas meningkat tajam, yen Jepang berpotensi menjadi mata uang yang mencatatkan kinerja terbaik karena historisnya sangat sensitif terhadap lonjakan risk aversion global.

Franc Swiss juga dinilai menarik sebagai alternatif defensif dengan volatilitas yang relatif lebih terkendali. Bagi investor ritel, Taufan menyarankan untuk tidak mengejar euforia jangka pendek dan tetap disiplin dalam manajemen risiko.

“Pendekatan yang lebih bijak adalah memanfaatkan momentum secara bertahap karena pergerakan aset safe haven dapat berbalik cepat jika tensi geopolitik mereda,” katanya.

Untuk proyeksi Semester I 2026, Taufan memperkirakan DXY berpotensi bergerak di kisaran 96 hingga 101, sangat bergantung pada arah kebijakan The Fed serta stabilitas geopolitik global. 

Sementara pasangan USD/JPY diperkirakan berada pada rentang 150 hingga 158, dengan risiko penurunan jika normalisasi kebijakan Bank of Japan berjalan lebih agresif.

Adapun pasangan USD/CHF diproyeksikan bergerak di kisaran 0,74 hingga 0,80 dengan kecenderungan stabil hingga melemah apabila arus dana global lebih condong menuju franc Swiss sebagai aset lindung nilai utama.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Financial Statement in Action AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026

[X]
×