Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sukuk Ritel (SR) seri SR025 masih memiliki daya tarik di tengah meningkatnya persaingan antar-instrumen investasi. Namun, ruang pertumbuhan penjualannya diperkirakan lebih terbatas karena kupon yang lebih rendah dan kondisi likuiditas investor ritel.
SR025 mulai ditawarkan kepada investor ritel pada Jumat (21/8/2026). Pemerintah menetapkan kupon tetap sebesar 6,80% per tahun untuk SR025 tenor 3 tahun dan 6,90% per tahun untuk tenor 5 tahun.
Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih, mengatakan prospek permintaan SR025 masih positif. Namun, karakter permintaannya diperkirakan lebih selektif.
SR025 memiliki total kuota nasional sebesar Rp 20 triliun yang terbagi atas kuota Rp 15 triliun untuk SR025-T3 dan Rp 5 triliun untuk SR025-T5.
Setelah sepekan ditawarkan, berdasarkan data terbaru pada Jumat (28/8) pukul 12.45 WIB, sisa kuota nasional SR025-T3 tercatat sebesar Rp 11,81 triliun atau 78,76% dari total kuota. Sementara itu, SR025-T5 masih menyisakan kuota sebesar Rp 4,15 triliun atau 83,12%.
Baca Juga: Harga Batubara Menguat 6,9% dalam Sepekan, Apa Faktor Pendorongnya?
"Di tengah tekanan geopolitik yang mengerek harga minyak Brent, tren kenaikan BI Rate sejak Mei 2026 sebesar 100 basis poin menjadi 5,75%, serta melesatnya yield SRBI hingga 7,37% untuk tenor 12 bulan, kami melihat prospek permintaan SR025 tetap positif, namun karakternya akan lebih selektif dibandingkan ORI030," ujar Ratih kepada Kontan, tak lama ini.
Meski kupon SR025 sebesar 6,80%-6,90% lebih rendah dibandingkan kupon ORI030 sebesar 6,90%-7%, Ratih menilai instrumen tersebut masih realistis dan menarik bagi investor ritel.
Salah satu daya tarik SR025 adalah kemampuan investor untuk mengunci imbal hasil dalam jangka panjang. Ratih menyebut, yield SRBI tenor 12 bulan yang mencapai 7,37% hanya memberikan kepastian imbal hasil untuk jangka pendek.
Selain itu, investor SRBI menghadapi risiko reinvestasi ketika tingkat suku bunga nantinya turun. Sementara itu, SR025 menawarkan kupon tetap hingga tiga dan lima tahun.
Dari sisi perpajakan, SR025 juga memiliki keunggulan. Pajak atas imbal hasil SBN ritel sebesar 10%, lebih rendah dibandingkan pajak deposito sebesar 20% maupun instrumen pasar uang tertentu.
Ratih menghitung, imbal hasil bersih SR025 tenor 5 tahun sekitar 6,21% masih atraktif dibandingkan rata-rata bunga bersih deposito perbankan. Di sisi lain, bunga deposito saat ini berada di kisaran 4%-5% per tahun dengan fleksibilitas waktu investasi yang lebih terbatas.
Selain itu, SR025 berbasis sukuk sehingga memiliki pasar tersendiri dari investor yang mengutamakan instrumen syariah.
Tantangan Penjualan SR025
Meski memiliki sejumlah keunggulan, Ratih melihat terdapat beberapa tantangan yang dapat membatasi penjualan SR025.
Pertama, kupon SR025 yang lebih rendah dibandingkan ORI030. ORI030 yang ditawarkan pada Juli 2026 menawarkan kupon 6,90% untuk tenor 3 tahun dan 7% untuk tenor 6 tahun. Sementara SR025 menawarkan kupon 6,80% untuk tenor 3 tahun dan 6,90% untuk tenor 5 tahun.
Baca Juga: BEI Uji Coba Penghapusan Batas Bawah Saham Rp 50, Ini Hasilnya
"Investor ritel yang sensitif terhadap yield membuat perbedaan kupon sebesar 10 bps (0,10%) untuk membatasi alokasi dana pada SR025," kata Ratih.
Kedua, SR025 menghadapi persaingan dengan instrumen pemerintah dan Bank Indonesia lainnya. Yield SRBI tenor 12 bulan pada Agustus 2026 telah mencapai 7,37%. Meski memiliki tenor lebih pendek, tingkat imbal hasil tersebut berpotensi menarik investor dengan dana besar maupun institusi.
Ratih mencatat, outstanding SRBI per 31 Juli 2026 mencapai Rp 1.059,30 triliun atau meningkat 40,3% secara year to date (YtD).
Selain SRBI, investor berpengalaman juga memiliki alternatif obligasi negara seri Fixed Rate (FR) di pasar sekunder. Menurut Ratih, instrumen tersebut berpotensi menjadi pilihan karena saat ini menawarkan yield to maturity (YtM) yang lebih tinggi akibat tertekannya harga obligasi seiring kenaikan BI Rate.
Faktor lain yang dapat menahan penjualan SR025 adalah kondisi likuiditas investor ritel. Pemerintah sebelumnya telah menyerap likuiditas masyarakat sebesar Rp 40 triliun melalui penerbitan ORI030 pada bulan lalu.
Jarak penerbitan yang berdekatan, yakni hanya sekitar tiga minggu, membuat daya beli atau likuiditas investor ritel dinilai belum sepenuhnya pulih untuk kembali melakukan pembelian secara masif.
"SR025 berpotensi tidak memecahkan rekor penjualan ORI030 akibat ketatnya likuiditas pasar saat ini," ungkap Ratih.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














