Reporter: Akmalal Hamdhi | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT United Tractors Tbk (UNTR) berpotensi didukung kilau harga emas dan kuatnya dolar Amerika Serikat (AS).
Di lain sisi, amblesnya harga batubara dapat membebani bisnis UNTR.
Head of Indonesia Research and Strategy JP Morgan Sekuritas, Henry Wibowo melihat, kenaikan saham UNTR telah mengungguli Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam setahun terakhir.
Hal ini karena volume kontrak pertambangan yang tangguh, kenaikan harga emas dan reli Dolar Amerika Serikat (AS).
JP Morgan Sekuritas memandang, faktor-faktor meliputi berkilaunya harga emas, reli dolar AS, serta kontrak pertambangan yang solid masih akan menjadi katalis positif bagi kinerja UNTR di 2025.
Baca Juga: Entitas Energi Terbarukan UNTR, Arkora Hydro (ARKO) Dirikan Anak Usaha Baru
Seperti diketahui, harga emas baru-baru ini melampaui level US$ 2.900 per ons troi dengan kenaikan dari awal tahun sekitar 12% year to date (ytd). Tim komoditas global JP Morgan memproyeksikan, emas akan mencapai US$ 3.000 per ons troi pada akhir tahun 2025.
Henry menilai, kepemilikan UNTR atas Martabe dan Sumbawa Jutaraya (SJR) yang menargetkan total produksi sebesar 240 ribu ons emas untuk panduan 2025, menjadikannya salah satu dari sedikit perusahaan tercatat di Indonesia yang memiliki eksposur terhadap aset emas utama.
Harga emas yang lebih tinggi juga akan berdampak positif terhadap laba United Tractors. Setiap kenaikan harga emas sebesar 5% diperkirakan akan meningkatkan laba UNTR sebesar 2%.
Pada saat yang sama, rupiah telah terdepresiasi sekitar 2% ytd terhadap dolar AS. Mata uang negeri paman sam diperkirakan tetap lebih kuat dalam waktu dekat di tengah meningkatnya konflik perdagangan.
Henry berujar, UNTR menjadi penerima manfaat dari penguatan dolar AS, dengan sebagian besar pendapatan UNTR terkait dengan dolar AS dan beberapa biaya yang dikeluarkan dalam Rupiah misalnya, biaya tenaga kerja, Depresiasi & Amortisasi (D&A).
"Lingkungan dolar yang kuat saat ini dapat menjadi landasan bagi UNTR untuk berpotensi mengungguli pasar Indonesia yang lebih luas," ungkap Henry dalam riset 12 Februari 2025.
Baca Juga: Investor Mesti Bersiap, Dividen Emiten Batubara bisa Menciut Akibat Dua Sentimen Ini
Henry menjelaskan, analisis sensitivitas JP Morgan menunjukkan bahwa setiap perubahan 5% pada harga emas akan mempengaruhi laba sebesar 2%. Sedangkan, setiap penguatan USDIDR sebesar 5% akan mempengaruhi laba UNTR sebesar 10%.
Selain itu, P/E 2025 UNTR sebesar 4,8x dianggap menarik dan imbal hasil dividennya sebesar 8% dapat memberikan bantalan penurunan lebih lanjut. Oleh karena itu, UNTR menjadi salah satu pilihan utama di Indonesia.
"Kami melihatnya (saham UNTR) sebagai tempat berlindung yang relatif aman dalam situasi makro yang bergejolak saat ini," sebut Henry.
JP Morgan memproyeksi, laba UNTR tetap tangguh di 2025 karena perusahaan grup Astra ini mengarahkan pertumbuhan tahunan satu digit di seluruh lini bisnis. Namun perlu diantisipasi risiko utama dari volatilitas harga batubara dan biaya bahan bakar yang lebih tinggi.
Henry menambahkan, mandat solar B40 juga dapat meningkatkan harga bahan bakar di lapangan tahun ini, tetapi manajemen UNTR yakin bahwa Pama dapat meneruskan kenaikan biaya kepada pelanggan dan mempertahankan lintasan marginnya.
Analis RHB Sekuritas Indonesia, Fauzan Djamal dan Muhammad Wafi melihat, prospek UNTR bakal positif di tahun 2025. Dalam riset yang dipublikasikan Selasa (7/1), Fauzan dan Wafi menyoroti empat faktor yang dapat menopang kinerja UNTR pada tahun ini.
Pertama, permintaan alat berat yang masih kuat, khususnya pada segmen mesin besar bisa memberikan margin lebih baik dibandingkan alat berat kapasitas kecil.
Kedua, ketahanan kontraktor tambang terhadap volatilitas harga batubara, dan dengan potensi kontrak tambang yang berkelanjutan.
Ketiga, pendapatan tambahan dari diversifikasi mineral yakni dari penjualan nikel dan emas. Keempat, UNTR memiliki margin yang stabil di tengah tantangan pasar.
"UNTR ditopang permintaan alat berat yang masih kuat, ketahanan kontraktor tambang terhadap volatilitas harga batubara, pendapatan tambahan dari penjualan nikel dan emas, serta margin stabil," tulis Fauzan dan Wafi dalam riset 7 Januari 2025.
Analis Indo Premier Sekuritas Reggie Parengkuan memaparkan, tahun lalu kinerja UNTR lemah, namun sejalan dengan ekspektasi.
Penjualan alat berat Komatsu menurun signifikan menjadi 253 unit pada Desember 2024, lebih rendah -37% Month on Month (MoM). Hasil ini sejalan dengan permintaan dari sektor pertambangan dan kehutanan mengalami penurunan masing-masing -50% MoM menjadi 142 dan 10 unit.
Meskipun demikian, volume penjualan alat berat Komatsu UNTR masih mencapai 4.420 unit di 2024, turun -16% year on year (yoy). Hasil ini sejalan dengan estimasi Indo Premier Sekuritas dan panduan UNTR.
Sementara itu, volume PT Pama Persada Nusantara (PAMA) menurun kemungkinan karena curah hujan yang lebih tinggi. Produksi batubara Pama terus menurun menjadi 11 juta ton pada Desember 2024 (-9% mom). Sedangkan, stripping ratio (SR) tetap relatif stabil pada 8x (-1% mom).
Secara keseluruhan, produksi batubara UNTR melalui PAMA di tahun 2024 mencapai 148 juta ton dengan volume Overburden (OB) sebesar 1.200 mbcm yang masing-masing tumbuh 16% dan 5% yoy.
Reggie menuturkan, penurunan tajam terjadi pada volume penjualan batubara kokas.
Volume penjualan melalui PT Tuah Turangga Agung (TTA) turun 33% MoM menjadi 896kt pada Desember 2024, yang kemungkinan akibat masalah logistik.
Namun, total volume penjualan batubara termal dan batubara kokas UNTR di 2024 masing-masing sebesar 10 Mt dan 3 Mt, bertumbuh 7% dan 27% yoy sejalan dengan perkiraan.
"Volume UNTR lemah di tengah curah hujan yang tinggi, tetapi hasil 2024 sesuai dengan perkiraan kami," kata Reggie kepada Kontan.co.id, Rabu (26/2).
Di lain sisi, Reggie mengamati bahwa volume penjualan emas UNTR tetap stabil pada 22 koz di Desember 2024. Hasil ini membuat volume penjualan emas menjadi 232 koz atau bertumbuh 32% yoy di 2024.
Perlu dicatat bahwa pabrik pengolahan sulfida di Sumbawa tetap sesuai rencana penyelesaian pada bulan April 2025, setelah mengalami penundaan karena masalah teknis. Adapun panduan UNTR pada penjualan emas di 2025, masing-masing 220.000 ons dari Martabe dan 20.000 ons dari Sumbawa.
"Kehadiran pabrik pengolahan Sulfida ini akan mendukung produksi emas UNTR yang dimulai pada kuartal kedua 2025," imbuh Reggie.
Reggie mempertahankan rekomendasi Buy untuk UNTR dengan target harga sebesar Rp 33.000 per saham. Namun perlu diantisipasi risiko penurunan utama dari harga batubara yang lebih rendah yang dikaitkan dengan permintaan China atau India yang lemah.
Henry menyematkan Overweight pada UNTR dengan target harga sebesar Rp 33.000 per saham. Sedangkan, Fauzan dan Wafi merekomendasikan buy UNTR, dengan target harga Rp 36.000 per saham.
Selanjutnya: Bullion Bank Memoles Kinerja Emiten Emas, Cek Rekomendasi Saham Berikut Ini
Menarik Dibaca: Prakiraan Cuaca Jakarta Besok (27/2), Cerah Hingga Hujan Petir
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News