kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.602.000   -2.000   -0,08%
  • USD/IDR 17.681   54,00   0,31%
  • IDX 6.535   -6,68   -0,10%
  • KOMPAS100 866   8,07   0,94%
  • LQ45 659   9,32   1,43%
  • ISSI 225   -2,18   -0,96%
  • IDX30 366   5,04   1,40%
  • IDXHIDIV20 458   8,21   1,83%
  • IDX80 99   1,17   1,20%
  • IDXV30 126   0,85   0,68%
  • IDXQ30 118   2,25   1,94%

Harga Minyak Terus Naik, WTI Berpotensi Tembus US$ 117 dan Brent US$ 120


Senin, 14 September 2026 / 17:31 WIB
Harga Minyak Terus Naik, WTI Berpotensi Tembus US$ 117 dan Brent US$ 120
ILUSTRASI. Harga minyak mentah acuan kompak menguat pada perdagangan awal pekan ini dengan Brent dan WTI berpotensi terus tembus ke atas US$ 115 per barel (REUTERS/Leonardo Fernandez Viloria)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah dunia terus reli dan bertengger di atas level US$ 100 per barel. Bahkan, harga minyak mentah acuan masih berpeluang melanjutkan penguatan hingga akhir 2026. 

Melansir Bloomberg, Senin (14/9/2026) pukul 17.21 WIB, harga minyak mentah acuan jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Oktober 2026 menguat 2,58% di level US$ 102,63 per barel. 

Kemudian harga minyak Brent untuk kontrak pengiriman November 2026 menguat 2,6% menjadi US$ 107,28 per barel.

Baca Juga: Pergantian Menkeu Jadi Perhatian Market, IHSG Ditutup Melemah Tipis

Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mengatakan, secara teknikal tren harga WTI masih menunjukkan kecenderungan bullish. Pada timeframe mingguan, harga WTI masih berpotensi melanjutkan kenaikan menuju level resistance US$ 105 hingga US$ 112 per barel.

Menurut dia, perkembangan menjelang rapat Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed pada 16 September 2026 juga menjadi sentimen yang perlu dicermati pelaku pasar. Ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga AS dapat memberikan ruang pergerakan terhadap harga minyak.

Geraldo menjelaskan, kebijakan The Fed dapat memengaruhi harga minyak terutama melalui pergerakan dolar AS (USD), ekspektasi pertumbuhan ekonomi, dan sentimen risiko.

"Penguatan dolar dapat membuat minyak relatif lebih mahal bagi pembeli non-AS dan menekan permintaan. Suku bunga yang lebih tinggi juga berpotensi memperlambat aktivitas ekonomi AS dan global sehingga menjadi sentimen negatif bagi demand minyak," jelas Geraldo kepada Kontan, Senin (14/9/2026).

Sebaliknya, apabila The Fed memberikan sinyal yang lebih dovish, USD berpotensi melemah dan ekspektasi pertumbuhan ekonomi dapat membaik. Kondisi tersebut berpotensi menjadi katalis positif bagi harga minyak.

Geraldo memperkirakan, tren bullish masih berlanjut hingga akhir 2026. Berdasarkan analisis teknikal pada timeframe bulanan, WTI berpotensi menuju resistance di kisaran US$ 109-US$ 117 per barel.

Sementara itu, harga minyak Brent juga masih memiliki peluang penguatan. Geraldo memproyeksikan Brent berpotensi bergerak menuju level resistance US$ 115-US$ 120 per barel hingga akhir tahun.

Baca Juga: Pefindo Pertahankan Rating Petrosea (PTRO) di Level idA+

Di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia perlu menjadi perhatian bagi Indonesia. Sebagai negara net importer minyak, kenaikan harga minyak global dapat memberikan tekanan melalui sejumlah jalur, mulai dari neraca perdagangan hingga fiskal.

Geraldo mengatakan, kenaikan harga minyak akan meningkatkan biaya impor energi. Kondisi ini berpotensi memperlebar defisit migas dan pada akhirnya menekan surplus perdagangan Indonesia.

Selain itu, kebutuhan dolar AS untuk membayar impor energi juga meningkat. Apabila kenaikan kebutuhan valas tersebut tidak diimbangi dengan penerimaan ekspor, tekanan terhadap nilai tukar rupiah dapat meningkat.

Dari sisi inflasi, harga minyak yang tinggi berpotensi meningkatkan biaya bahan bakar minyak (BBM), transportasi, logistik, hingga biaya produksi. Tekanan tersebut pada akhirnya dapat mendorong inflasi domestik.

"Kebutuhan USD untuk membayar impor energi meningkat. Jika tidak diimbangi oleh penerimaan ekspor, tekanan terhadap IDR dapat meningkat," katanya.

Kenaikan harga minyak juga berpotensi meningkatkan tekanan terhadap APBN. Pemerintah dapat menghadapi kebutuhan fiskal yang lebih besar apabila harus mempertahankan harga energi domestik melalui subsidi maupun kompensasi.

Baca Juga: Jelang FOMC, Rupiah Masih Dibayangi Harga Minyak

Lebih lanjut, harga energi yang bertahan tinggi juga dapat memberikan tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi. Biaya produksi dan transportasi yang meningkat dapat menekan dunia usaha, sementara daya beli masyarakat berpotensi tergerus akibat meningkatnya pengeluaran untuk kebutuhan energi.

"Konsumen juga memiliki disposable income yang lebih kecil karena pengeluaran energi meningkat, sehingga konsumsi dan pertumbuhan ekonomi berpotensi terkena dampak," pungkas Geraldo.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×