Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Fenomena El Nino diperkirakan membawa dampak beragam bagi kinerja emiten air minum dalam kemasan (AMDK) pada semester II-2026. Di satu sisi, peningkatan suhu dan musim kemarau yang lebih panjang berpotensi mendorong konsumsi, namun di sisi lain, tekanan biaya produksi membayangi.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari, menjelaskan bahwa secara historis El Nino identik dengan peningkatan konsumsi air minum kemasan.
“Fenomena El Nino biasanya mendorong peningkatan suhu dan memperpanjang musim kemarau, sehingga kebutuhan hidrasi masyarakat meningkat. Hal ini berpotensi mengerek konsumsi AMDK, sejalan dengan proyeksi pertumbuhan industri sekitar 5%-6% hingga akhir 2026,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (30/7/2026).
Baca Juga: Samudera Indonesia (SMDR) Tetapkan Dividen Interim Rp 40,94 Miliar, Catat Jadwalnya
Meski demikian, Brigita mengingatkan bahwa El Nino juga berpotensi memicu inflasi pangan serta mempertahankan inflasi di level tinggi pada paruh kedua tahun ini. Selain itu, harga energi yang masih tinggi turut berisiko meningkatkan biaya kemasan, logistik, dan distribusi.
“Karena itu, investor tidak hanya perlu melihat kenaikan volume penjualan, tetapi juga kemampuan emiten dalam mengonversi pertumbuhan permintaan menjadi laba melalui efisiensi operasional dan pricing power,” tambahnya.
Dari sisi kinerja, peningkatan permintaan dinilai tetap dapat mendorong pertumbuhan pendapatan emiten AMDK. Namun, dampaknya terhadap laba bersih tidak akan merata.
“Emiten dengan brand kuat, jaringan distribusi luas, dan pricing power yang baik akan lebih mudah meneruskan kenaikan biaya ke harga jual. Sebaliknya, perusahaan yang bersaing ketat di harga berpotensi mengalami tekanan profitabilitas,” jelas Brigita.
Lebih lanjut, ia menyoroti kenaikan harga energi yang berpotensi memberikan tekanan ganda, baik dari sisi bahan baku kemasan seperti resin PET maupun dari sisi biaya logistik. Jika harga minyak tetap tinggi akibat tensi geopolitik global, maka tekanan terhadap margin berpotensi meningkat.
“Profitabilitas emiten consumer sangat sensitif terhadap perubahan biaya input. Jika biaya kemasan dan energi kembali naik, ruang ekspansi margin akan semakin terbatas,” imbuhnya.
Secara fundamental, Brigita menilai masing-masing emiten memiliki keunggulan berbeda dalam menghadapi kondisi ini. PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) dinilai memiliki struktur permodalan yang sehat dengan kas kuat dan utang rendah, sehingga fleksibel dalam ekspansi.
Sementara itu, PT Akasha Wira International Tbk (ADES) juga ditopang neraca yang solid dan profitabilitas tinggi, meski valuasinya relatif premium.
Baca Juga: GOTO Berhasil Mencetak Laba Dua Kuartal Beruntun, Simak Prospek Sahamnya
Adapun PT Mayora Indah Tbk (MYOR) unggul dari sisi skala usaha, diversifikasi produk, serta jaringan distribusi nasional yang luas.
“MYOR menunjukkan kemampuan menjaga margin meskipun biaya operasional meningkat, sehingga lebih tangguh menghadapi tekanan biaya. Sementara CLEO dan ADES berpotensi memperoleh manfaat lebih langsung dari peningkatan konsumsi AMDK,” paparnya.
Dari sisi potensi keuntungan, Brigita melihat CLEO dan ADES sebagai pihak yang paling diuntungkan secara langsung dari lonjakan konsumsi air minum kemasan. Namun, MYOR dinilai lebih defensif dalam menjaga profitabilitas di tengah tekanan biaya.
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, IPOT merekomendasikan saham MYOR dengan rating beli.
“Kami merekomendasikan MYOR BUY dengan target harga Rp2.700 per saham, mengingat ketahanan profitabilitasnya yang lebih baik di tengah potensi kenaikan biaya bahan baku dan energi,” tutup Brigita.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














