Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja beragam jenis reksadana mencatatkan imbal hasil positif pada awal tahun ini.
Infovesta mencatat Reksadana saham mencatat return tertinggi sebesar 2,0% MoM, sementara IHSG cetak return minus 1,13% secara bulanan.
Menyusul, reksadana campuran mencatat return 1,44% MoM, sementara reksadana pendapatan tetap dan reksadana pasar uang masing-masing mencatat return 0,29% MoM.
CEO Pinnacle Investment, Guntur Putra berpandangan kondisi tersebut didorong oleh pemulihan pasar (market rebound) setelah isu MSCI pada bulan lalu serta membaiknya sentimen terhadap pasar keuangan domestik.
Menurutnya, rebound pasar terjadi seiring komitmen regulator untuk melakukan transformasi positif di pasar modal Indonesia.
Baca Juga: Reksadana Saham Outperform IHSG, Proyeksi Return Bisa Capai 10%-15% di 2026
“Dari sisi OJK dan BEI ada komitmen meningkatkan transparansi, free float, dan keterbukaan pasar untuk membangkitkan kepercayaan investor,” ujar Guntur kepada Kontan, Rabu (5/3/2026).
Selain faktor domestik, stabilisasi ekspektasi suku bunga global turut menopang kinerja reksadana. Pasar mulai melihat peluang pelonggaran kebijakan moneter di negara-negara maju, sehingga mendorong perbaikan harga aset finansial, baik saham maupun obligasi.
Di sisi lain, aktivitas rebalancing portofolio oleh manajer investasi pada awal tahun turut memperkuat performa industri reksadana secara keseluruhan.
Meski demikian, Guntur mengingatkan adanya sejumlah risiko yang perlu diwaspadai dalam jangka pendek.
Di antaranya adalah meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang dapat berdampak pada perekonomian global, serta outlook negatif terhadap Indonesia yang baru saja diumumkan oleh Fitch.
Untuk prospek 2026, Guntur menilai industri reksadana masih cukup konstruktif meski dibayangi ketidakpastian global, seperti dinamika suku bunga, pertumbuhan ekonomi dunia, dan faktor geopolitik.
Baca Juga: Industri Reksadana Masih Prospektif, Simak Proyeksi Kinerja di 2026
Dalam situasi tersebut, strategi investasi yang terdiversifikasi menjadi kunci. Reksadana pendapatan tetap dinilai berpotensi menarik apabila tren penurunan suku bunga terjadi, mengingat harga obligasi biasanya meningkat saat suku bunga turun.
Sementara itu, reksadana saham masih menawarkan potensi pertumbuhan jangka menengah seiring prospek laba emiten domestik.
Adapun reksadana campuran dapat menjadi alternatif bagi investor dengan profil risiko moderat.
Dengan asumsi stabilitas makroekonomi domestik tetap terjaga dan volatilitas global berada dalam batas wajar, Guntur memperkirakan kisaran imbal hasil reksadana pada 2026 berada di level berikut:
Reksadana pasar uang diperkirakan mencetak return 4%–5%, kemudian 6%–8% untuk reksadana pendapatan tetap, 7%–10% untuk reksadana campuran, dan di atas 10% untuk reksadana saham.
Namun ia menegaskan, potensi return yang lebih tinggi pada reksadana saham juga diiringi volatilitas yang lebih besar.
Karena itu, investor perlu menyesuaikan pilihan produk dengan profil risiko dan horizon investasi masing-masing.
Baca Juga: Di Tengah Gejolak Global, Ini Prospek Reksadana Menurut Infovesta
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












