CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Kinerja reksadana Narada buruk dalam tiga hari ini, berikut kata pengamat


Jumat, 15 November 2019 / 08:30 WIB
Kinerja reksadana Narada buruk dalam tiga hari ini, berikut kata pengamat

Sumber: TribunNews.com | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham- saham portfolio reksadana Narada Aset Management (NAM) mengalami penurunan dan anjlok hingga angka 25% dalam kurun waktu tiga hari berturut-turut.

Penyebab turunya saham - saham tersebut lantaran kegagalan membayar bayar fasilitas margin di beberapa perusahaan sekuritas seperti Kiwoom Sekuritas, Samuel Sekuritas, KGI, Mega Capital dan beberapa perusahaan lainnya senilai Rp 150 miliar.

Baca Juga: Ini penyebab Bareksa suspensi dua reksadana Narada Aset Manajemen

Saham-saham NAM yang turun sendiri mencakup PT Terregra Asia Energy Tbk (TGRA) mengalami penurunan dari Rp 850 per lembar menjadi Rp 314 per lembar, PT Dafam Property Indonesia Tbk (DFAM) turun dari Rp1,100 per lembar menjadi Rp 466 per lembar, PT Forzaland Indonesia Tbl (FORZ) turun dari Rp 900 per lembar menjadi Rp 298 per lembar, PT Borneo Olah Sarana Tbk (BOSS) turun dari Rp500 per lembar menjadi Rp 179.

Peneliti Indef Abdul Manaf Pulungan menilai, anjloknya saham NAM hingga potensi kegagalan membayar penempatan dana nasabah disebabkan dari faktor internal perusahaan asset management perusahaan itu sendiri

"Biasanya dari sisi internal perusahaan karena perusahaan asset itu biasanya mereka menghimpun dana dari domestik dan mereka menjanjikan return yang sangat tinggi bagi investor," ungkap dia kepada wartawan, Kamis, (14/11).

Abdul menjelaskan, ketika perusahaan asset management itu menetapkan yield yang tinggi mereka harus melepaskan instrumen yang tinggi ke investasi - investasi yang kurang secure.

Baca Juga: Bareksa stop pembelian reksadana Narada Aset Manajemen, ada apa?

"Misalnya, ratingnya katakan di bawah peluang untuk default sangat tinggi. Jadi karena ada desakan return yang harus dikasih pemilik dana jadi tidak secure," ungkap dia.

Dengan janji mengembalikan return yang tinggi, kata dia, para perusahaan tersebut juga terbiasa untuk membuat profil sebaik mungkin. Namun tidak memikirkan risiko ke depanya.

"Biasanya perusahaan (asset management) yang baru cari berkembang biasa cari muka dulu. Yang terpenting mereka populer dulu tanpa memikirkan risiko ke depan. Nah ini yang tidak diawasi oleh otoritas karena dia profilnya di awal - awal bagus tapi keterbukaan risikonya tinggi," beber dia.

Dengan kondisi demikian, dia menyarankan, agar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat bertindak tegas kepada perusahaan asset management NAM yang berpotensi gagal membayar penempatan dana nasabah.

OJK sendiri saat ini telah mensuspend transaksi dari NAM. Dengan begitu NAM hanya boleh menerima pinjaman uang yang sifatnya penyelesaiannya untuk transaksi broker.

"Kalau tidak ditindak tegas seperti itu akan berdampak secara sistemik. Karena satu perusahaan mempunyai hubungan dengan perusahaan lain dan perusahaan itu juga mempunyai hubungan bank. Jadi berdampak dan mengancam sistem keuangan," pungkasnya. (FX Ismanto)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Narada Berpotensi Gagal Bayar Penempatan Investasi, Pengamat Bicara Internal Perusahaan




TERBARU

Close [X]
×