Reporter: Dimas Andi | Editor: Noverius Laoli
Kendati meraih berbagai capaian positif pada 2024, Investment Analyst Edvisor Profina Visindo Indy Naila menilai, PGAS berpotensi menghadapi sejumlah tantangan seperti kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) yang kembali diberlakukan pada 2025.
Program HGBT memang menguntungkan pelaku industri pengguna gas bumi lantaran harga gas yang dikonsumsi hanya US$ 7 per MMBTU. Namun, PGAS berpotensi mengalami penurunan margin laba ketika kebijakan ini berlangsung.
Di samping itu, terdapat kekhawatiran produksi gas mengalami penurunan dan permintaan tidak begitu kuat, sehingga berisiko melemahkan kinerja operasional hingga margin PGAS.
"Investor sepertinya juga masih melihat momentum dividen," imbuh dia, Rabu (26/3) pekan lalu.
Baca Juga: Kinerja Emiten Bahan Kimia Kurang Menggembirakan, Cek Rekomendasi Analis
Senada, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menyatakan, jika program HGBT diperluas lebih dari 7 sektor industri, maka hal ini dapat mengancam kinerja bottom line PGAS pada masa mendatang.
Saat ini saja, PGAS benar-benar berusaha keras melakukan efisiensi di segala lini untuk menekan risiko dari penerapan HGBT.
"Prospek kinerja PGAS ke depannya juga dipengaruhi perkembangan konsumsi gas di dalam negeri, baik untuk rumah tangga ataupun industri," kata dia, Rabu (26/3).
Nafan merekomendasikan akumulasi beli saham PGAS dengan support di level Rp 890 per saham dan Rp 835 per saham. Dia memasang target harga saham PGAS di level Rp 1.585 per saham, Rp 1.600 per saham, dan Rp 1.750 per saham.
Di sisi lain, Indy tidak menyematkan rekomendasi untuk PGAS. Walau begitu, ia menargetkan harga saham PGAS bisa menyentuh level Rp 1.800 per saham.
Pada Kamis (27/3), harga saham PGAS berada di level Rp 1.555 per saham. Sejak awal tahun, harga saham emiten ini turun 2,20% year to date (ytd).
Selanjutnya: Dampak Ekonomi Lebaran Melambat, Kadin Prediksi Perputaran Uang Turun Hingga 15%
Menarik Dibaca: 12 Obat Asam Lambung Herbal Alami Terbaik yang Dapat Anda Coba
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News