Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan, NCKL berhasil meraih kenaikan kinerja di sepanjang kuartal I 2026. NCKL meraih pendapatan sebesar Rp 29,63 triliun pada 2025 dan Rp 6,81 triliun pada kuartal I-2026.
Hal ini disebabkan adanya faktor peningkatan kapasitas produksi serta reli harga nikel global di awal tahun yang sempat menyentuh kisaran US$ 18.500 per ton akibat sentimen pengetatan kuota produksi (RKAB) domestik oleh pemerintah.
“Setelah sempat melonjak di Januari, harga nikel global kembali fluktuatif dan terkoreksi ke level kisaran US$ 17.200 per ton pada Maret-Juni 2026 karena bayang-bayang oversupply global dan perlambatan makro,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (30/6/2026).
Di sisi lain, terdapat tekanan biaya operasional dan kenaikan biaya penambangan atau logistik yang mulai membayangi margin keuntungan jangka panjang.
“Hal ini yang menyebabkan harga saham NCKL mengalami penurunan,” tuturnya.
Baca Juga: Telkom Indonesia (TLKM) Masih Hadapi Persaingan Sengit, Cermati Rekomendasi Analis
Melansir RTI, sejak awal tahun 2026 saham NCKL sudah turun 30,67% year to date (YTD).
Hasil RUPST NCKL hari ini (30/6) dinilai bisa membawa dua katalis penting yang diproyeksikan mampu menahan kejatuhan harga saham. Yakni pembagian dividen dan persetujuan buyback saham senilai Rp 1 triliun.
Harita Nickel berencana membagikan dividen sebesar Rp 2,7 triliun dari buku tahun 2025. Jumlah ini setara 30% dividend payout ratio (DPR), sama dengan DPR tahun 2024.
Jumlah tersebut mengindikasikan dividen Rp42,64 per saham dan dividend yield sekitar 5,3%, berdasarkan harga saham NCKL pada intraday Selasa (30/6) di Rp800 per saham.
Sayangnya, cum date dan tanggal pembayaran belum diumumkan.
Ke depan, NCKL dinilai memiliki keunggulan integrasi vertikal yang kuat. Pabrik HPAL milik perseroan memproduksi nikel kelas I (MHP/Sulfate) untuk ekosistem baterai kendaraan listrik (EV), yang memiliki nilai tambah jauh lebih tinggi dibanding feronikel konvensional.
Baca Juga: IHSG Berpotensi Lanjut Menguat, Cermati Saham Rekomendasi Analis, Rabu (7/1)
Kapasitas produksi diproyeksikan meningkat bertahap menuju target 305.000 ton yang memperkuat volume penjualan.
“Ada juga potensi pemulihan sektor properti dan manufaktur China, seperti data ekspansi manufaktur terbaru, yang dapat mengerek kembali permintaan stainless steel,” katanya.
Sementara, sentimen negatif berasal dari risiko pasokan global yang melimpah dari produsen berbiaya rendah di luar negeri berpotensi membatasi reli harga rata-rata (Average Selling Price/ASP).
“Tren penurunan kadar bijih nikel domestik secara industri juga menuntut biaya pengolahan yang lebih tinggi untuk mempertahankan kualitas output,” tuturnya.
Sayangnya, Nafan masih merekomendasikan wait and see untuk saham NCKL.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














