Reporter: Kenia Intan | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten farmasi PT Kalbe Farma Tbk membukukan kinerja yang memuaskan sepanjang tahun 2021. Perusahaan dengan kode saham KLBF ini mencatat kenaikan hingga dua digit baik dari sisi penjualan bersih maupun laba bersih.
Mengutip laporan keuangannya, KLBF mengantongi penjualan bersih Rp 26,26 triliun atau naik 13,62% secara tahunan atau year on year (yoy). Asal tahu saja, pada tahun 2020, KLBF mencatatkan penjualan bersih Rp 23,11 triliun.
Sementara itu, laba bersih Kalbe tercatat naik 16,48% yoy menjadi Rp 3,18 triliun. Sebelumnya, laba Kalbe Farma dibukukan Rp 2,73 triliun.
Analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandu Dewanto mencermati, realisasi kinerja KLBF di tahun 2021 itu masih sejalan dengan ekspektasinya. Berdasar kinerja kinerja kuartal ketiga tahun lalu, dia mengestimasikan penjualan KLBF mencapai Rp 26 triliun dan laba Rp 3,1 triliun di akhir tahun 2021.
Baca Juga: Kalbe Farma (KLBF) Tak Khawatir Permintaan Layanan Tes Covid-19 Berkurang
"Realisasi kinerja ini sedikit di atas proyeksi yang kami," kata Pandu kepada Kontan.co.id, Jumat (1/4). Adapun pertumbuhan KLBF juga relatif kuat dibanding penjualan rata-rata lima tahun terakhir yang meningkat sekitar 5,3% per tahun.
Pandu mengamati, rata-rata emiten sektor kesehatan (healthcare) memang membukukan kinerja yang baik di tahun 2021. Ini terdorong kondisi pandemi yang memicu pola hidup masyarakat yang lebih peduli dengan kesehatan. Masyarakat lebih banyak mengkonsumsi suplemen untuk menjaga daya tahan tubuh, sehingga berdampak pertumbuhan yang lebih kuat bagi produsen suplemen dan obat seperti KLBF.
Adapun di tahun 2022, KLBF diperkirakan akan berat untuk menyaingi kinerja di tahun 2021. Faktornya, kondisi pandemi yang mulai membaik sehingga pola hidup masyarakat berpotensi berubah. Selain itu, ada kemungkinan masyarakat mulai jenuh mengonsumsi suplemen karena merasa kondisi sudah aman.
Baca Juga: Bukan Karena Pengembangan Vaksin Dihentikan, Ini Pemberat Saham Kalbe Farma
Di sisi lain, rata-rata pertumbuhan tahun lalu memang termasuk tinggi, di atas rata-rata tiap tahunnya. Sehingga, akan sulit bagi Kalbe Farma untuk menggenjot pertumbuhan yang lebih tinggi lagi. Dilihat dari gross profit margin-nya, Pandu melihat ada penurunan dari sekitar 48% pada tahun 2017 menjadi di kisaran 43%.
"Hal ini menunjukkan usaha KLBF untuk dapat menggenjot volume penjualan meski mengorbankan profit margin," jelasnya. Adapun potensi kenaikan harga bahan baku yang sebagian besar berasal dari impor juga menjadi ancaman lain yang perlu diperhatikan.
Di tahun 2022 ini, pendapatan KLBF diestimasikan akan menyentuh Rp 29 triliun dengan laba Rp 3,4 triliun. Target tersebut mempertimbangkan optimisme manajemen yang membidik pertumbuhan double digit 11%-15% dan operating profit margin di kisaran 14,5%-15,5%. Di sisi lain, kondisi ekonomi semakin membaik sehingga kenaikan harga jual yang diterapkan oleh Kalbe akan dapat terserap dengan baik oleh konsumen.
Baca Juga: Pesta Sudah Usai, Simak Bagaimana Nasib Bisnis Tes PCR dan Antigen
Saat ini, KLBF diperdagangkan pada kisaran forward PE sekitar 22 kali, dengan PBV sekitar 3,4 kali. Angka tersebut masih dibawah rata-rata PE dan PBV tiga tahun terakhir di kisaran 26 kali dan 4 kali. Dus, masih cukup wajar jika tahun ini KLBF dapat mencapai Rp 1.900 per saham
Akan tetapi, karena potensial upside yang terbatas, Pandu cenderung rekomendasikan hold untuk harga saat ini. Selain itu, potensi pertumbuhan laba dan pendapatan yang cenderung lebih lambat dibanding sektor lain diprediksi belum terlalu menarik minat investor.
Sementara secara teknikal, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana melihat, pergerakan KLBF masih rawan terkoreksi. Terlebih, apabila KLBF menembus level support di Rp 1.580 dan Rp 1.520. Indikator MACD dan Stochastic pun juga mendukung pelemahan tersebut.
"Kami perkirakan menguat menguji Rp 1.690 sebagai resistance dan investor dapat buy on weakness terlebih dahulu," ujar Herditya kepada Kontan.co.id, Jumat (31/3). Apabila tembus Rp 1.690 maka selanjutnya KLBF berpeluang menguji Rp 1.780.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News