Reporter: Yuliana Hema | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten konglomerasi, PT Astra International Tbk (ASII) tertekan pada kuartal I-2025 karena penurunan kontribusi dari divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi, dan Energi.
Melansir laporan keuangan per 31 Maret 2026, ASII membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 78,66 triliun. Ini turun 5,63% secara tahunan atau Year on Year (YoY) dari Rp 83,36 triliun.
Adapun laba yang dapat diatribusikan kepada entitas induk ASII turun 15,61% secara tahunan menjadi Rp 5,85 triliun di kuartal I-2025 dari capaian kuartal I-2025 sebesar Rp 6,93 triliun.
Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyampaikan, kinerja ASII pada kuartal pertama di 2026 ini masih berada di bawah ekspektasi.
Baca Juga: Laba Astra Tertekan Awal 2026, Begini Penjelasan Bos Astra (ASII)
“Meskipun bisnis otomotif dan jasa keuangan tumbuh positif, penurunan tajam pada segmen alat berat dan pertambangan menjadi beban utama,” jelasnya dalam riset, Rabu (29/4/2026).
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menambahkan kembali beroperasinya Tambang Emas Martabe oleh PT United Tractors Tbk (UNTR) pada Mei 2026 berpotensi memulihkan kinerja ASII di kuartal dua mendatang.
“Ini harusnya bisa mendorong pemulihan margin karena tambang emas ini memiliki margin 8% yang jauh lebih tinggi dan stabil dibanding jasa batubara atau penjualan alat berat,” katanya saat dihubungi Kontan, Rabu (29/4/2026).
Selain itu, kata Nafan, pergerakan harga emas dunia yang masih kuat pada tahun buku 2026 bisa menjadi katalis tambahan dari Tambang Emas Martabe yang akan membantu menyeimbangkan dan berfungsi sebagai hedging.
Lebih lanjut, Nafan merekomendasikan accumulative buy ASII dengan target harga di Rp 7.900. Pada akhir perdagangan Rabu (29/4), ASII parkir di level Rp 6.050 per saham atau menguat 0,41% secara harian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













