Reporter: Dimas Andi | Editor: Noverius Laoli
Di samping itu, isu yang bersifat korporasi seperti merger atau akuisisi, terutama di sektor industri berbasis komoditas, juga bisa menjadi katalis positif tambahan bagi indeks saham-saham lapis kedua.
Lebih lanjut, saham-saham lapis kedua yang berpeluang jadi unggulan tahun ini adalah emiten yang punya narasi pemulihan kinerja dan arus kas operasional yang positif, khususnya di sektor penunjang migas, perkebunan atau crude palm oil (CPO), dan ritel menengah.
“Secara fundamental, investor institusi bakal cenderung mencari saham mid-cap yang rutin membagi dividen,” tutur Wafi.
Terdapat beberapa saham lapis kedua yang menurut Wafi dapat dipertimbangkan oleh investor pada tahun ini.
Baca Juga: Sektor Kesehatan Tumbuh Pesat di 2025, Cek Prospek dan Rekomendasi Sahamnya di 2026
Di antaranya adalah PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), dan PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) dengan target harga masing-masing di level Rp 580 per saham, Rp 1.650 per saham, dan Rp 1.050 per saham.
Hendra menyebut, selama konflik geopolitik global tidak berkembang menjadi krises sistemik, maka IHSG beserta indeks turunannya termasuk IDX SMC Composite relatif lebih tahan banting.
Terlepas dari itu, pendekatan akumulasi bertahap dan manajemen risiko tetap menjadi kunci agar investor dapat menikmati peluang pada awal tahun tanpa terjebak euforia yang berlebihan.
Baca Juga: Saham Lapis Dua Melaju Kencang, Simak Prospeknya di Tahun 2026
“Strategi investor yang paling relevan untuk memaksimalkan peluang keuntungan adalah tetap disiplin pada kombinasi momentum dan selektivitas sektor,” tandas dia.
Selanjutnya: Menimbang Prospek Kinerja Industri Kaca pada 2026, Ini Sorotan dari Pelaku Usaha
Menarik Dibaca: Fres & Natural Kolaborasi dengan Vilo Gelato, Tawarkan Wangi Baru untuk Anak Muda
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













