kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.850.000   -50.000   -1,72%
  • USD/IDR 17.110   58,00   0,34%
  • IDX 7.308   28,38   0,39%
  • KOMPAS100 1.009   3,07   0,31%
  • LQ45 734   0,28   0,04%
  • ISSI 264   3,48   1,33%
  • IDX30 393   -5,78   -1,45%
  • IDXHIDIV20 480   -6,76   -1,39%
  • IDX80 114   0,27   0,24%
  • IDXV30 133   -1,18   -0,87%
  • IDXQ30 127   -1,85   -1,43%

Kinerja Emiten Rokok Diproyeksi Positif di 2026, Cek Rekomendasi Saham HMSP dan GGRM


Kamis, 09 April 2026 / 22:12 WIB
Kinerja Emiten Rokok Diproyeksi Positif di 2026, Cek Rekomendasi Saham HMSP dan GGRM
ILUSTRASI. Rokok Gudang Garam dan Sampoerna Mild (KONTAN/Achmad Fauzie ). Dua emiten rokok, PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM), mencatat kinerja laba yang berlawanan sepanjang 2025.


Reporter: Rashif Usman | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Dua emiten rokok, PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM), mencatat kinerja laba yang berlawanan sepanjang 2025.

Di tengah pelemahan penjualan industri, GGRM mampu mencetak lonjakan laba, sementara HMSP justru mengalami penurunan tipis.

HMSP membukukan laba bersih Rp 6,61 triliun pada 2025, turun 0,54% secara tahunan dari Rp 6,64 triliun. Sebaliknya, GGRM mencatat lonjakan laba bersih 58,69% menjadi Rp 1,56 triliun dari Rp 980,8 miliar pada tahun sebelumnya.

Meski arah laba berbeda, keduanya menghadapi tekanan serupa dari sisi penjualan yang sama-sama menurun. Kondisi ini mencerminkan permintaan industri rokok yang belum sepenuhnya pulih.

Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham Hari Ini dari BRI Danareksa Sekuritas (8/4)

Analis menilai perbedaan kinerja laba kedua emiten lebih dipengaruhi faktor non-operasional dan efisiensi biaya. 

GGRM berhasil mengerek laba terutama dari langkah efisiensi, bukan dari pertumbuhan permintaan. Sementara HMSP terbebani lonjakan pajak satu kali serta penurunan pendapatan bunga.

 

“Jika dilihat dari kinerja operasional inti, laba bersih HMSP pada kuartal III justru tumbuh 24,9% YoY, menandakan pemulihan profitabilitas inti yang sesungguhnya sedang berjalan,” ujar Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand.

Dari sisi struktur bisnis, HMSP dinilai menghadapi tekanan margin lebih besar akibat tren downtrading, pergeseran konsumsi ke produk lebih murah, serta struktur biaya yang relatif kaku. 

Sebaliknya, GGRM diuntungkan oleh efisiensi dan basis laba yang rendah pada tahun sebelumnya.

Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham Emiten Migas Saat Harga Minyak Mendidih

Memasuki 2026, industri tembakau diperkirakan memasuki fase stabilisasi. Tidak adanya kenaikan cukai menjadi sentimen positif bagi margin dan daya beli, meski tekanan dari penurunan volume dan peredaran rokok ilegal masih membayangi.

Pengetatan distribusi rokok ilegal sejak Oktober 2025 dinilai menjadi faktor kunci pemulihan volume penjualan legal. Namun, pemulihan tersebut diperkirakan berlangsung bertahap.


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kontan & The Jakarta Post Executive Pass

[X]
×