Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Yudho Winarto
Terimbas Volatilitas IHSG
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai, kerugian yang dialami emiten holding investasi tidak terlepas dari volatilitas ekstrem Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Pasalnya, model bisnis perusahaan investasi membuat perubahan nilai portofolio saham tercermin melalui mekanisme mark-to-market atau pengukuran berdasarkan nilai wajar aset.
Baca Juga: Saham Darma Henwa (DEWA) Berpotensi Bangkit, Kontrak SSC Jadi Katalis Utama
“Portofolio yang kemungkinan paling memberatkan eksposur ke saham-saham yang tertekan besar di semester I lantaran kebijakan freeze MSCI, high shareholding concentration (HSC) list, dan net sell asing,” ujar Wafi kepada KONTAN.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai, kerugian keempat emiten tersebut terutama berasal dari unrealized loss akibat penurunan harga saham dalam portofolio, bukan dari kerugian operasional bisnis inti.
Menurut Abida, SRTG menjadi salah satu emiten yang paling terdampak karena memiliki portofolio blue chip sekitar Rp 41,48 triliun pada TBIG, MDKA, ADRO, dan AADI. Saham-saham tersebut terkoreksi seiring dengan pelemahan IHSG.
Sementara itu, EMTK tertekan oleh investasi pada sektor teknologi digital yang cenderung lebih volatil.
“PALM dan ASII juga terdampak fluktuasi harga saham portofolio masing-masing di luar bisnis inti,” ujar Abida kepada KONTAN.
Wafi mengatakan, prospek kinerja holding investasi pada semester II 2026 akan bergantung pada kemampuan pasar untuk memulihkan nilai portofolio yang mengalami unrealized loss.
Menurut dia, sentimen positif dapat berasal dari keputusan MSCI pada November 2026 apabila hasilnya mendukung pasar Indonesia. Pemulihan pasar juga akan memberikan dampak positif terhadap nilai portofolio melalui mekanisme mark-to-market.
Sebaliknya, keputusan MSCI yang negatif serta berlanjutnya volatilitas pasar dapat menjadi sentimen pemberat.
Baca Juga: IHSG Menutup Agustus 2026 dengan Menguat, Simak Arahnya Perdagangan Selasa (1/9)
Diversifikasi Portofolio
Wafi menilai, perusahaan investasi perlu mulai memperhatikan kembali komposisi aset, termasuk persentase kepemilikan pada saham dan obligasi.
Diversifikasi yang lebih besar maupun strategi hedging dapat menjadi pilihan untuk mengurangi eksposur langsung terhadap pergerakan pasar.
“Jawara di tahun 2026 adalah emiten yang punya portofolio paling terdiversifikasi dan minim eksposur saham HSC sehingga kemungkinan paling resilien,” paparnya.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta mengatakan, prospek holding investasi pada semester II 2026 akan sangat bergantung pada tiga variabel utama, yakni arah IHSG, harga komoditas, serta suku bunga global dan domestik.
Baca Juga: Hari Ini Melemah, Begini Prediksi Pergerakan Rupiah, Selasa (1/9)
Jika volatilitas pasar mereda, rupiah lebih stabil, suku bunga turun, serta harga emas, tembaga, dan komoditas energi tetap kuat, potensi pemulihan nilai portofolio SRTG dan PALM cukup besar.
“Sebaliknya, risiko utama adalah capital outflow, risk premium Indonesia yang tinggi, pelemahan rupiah, serta koreksi lanjutan saham-saham komoditas dan teknologi,” ujar Nafan kepada KONTAN.
Menurut Nafan, emiten holding investasi tidak perlu meninggalkan saham hanya karena menghadapi volatilitas jangka pendek.
Periode ketika valuasi saham tertekan justru dapat menjadi peluang untuk melakukan capital allocation secara selektif.
Namun, strategi investasi perlu bergeser dari sekadar mengejar capital gain menuju portofolio yang mampu memberikan kombinasi dividen, arus kas saat ini, dan potensi kenaikan nilai modal.
Instrumen obligasi atau pendapatan tetap juga dapat ditingkatkan sebagai buffer likuiditas. Meski demikian, instrumen tersebut tidak ideal jika menggantikan seluruh eksposur terhadap ekuitas.
Baca Juga: Tak Berizin OJK, Satgas PASTI Hentikan Kegiatan YWWSDC dan RTHAE
“Sebab, holding investasi memiliki keunggulan dalam mengambil posisi jangka panjang pada aset yang undervalued,” katanya.
Untuk rekomendasi saham, Nafan memberikan rekomendasi accumulative buy untuk ASII dengan target harga Rp 5.925 per saham. Sementara itu, Abida memberikan rekomendasi buy untuk ASII dengan target harga Rp 6.850 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














