Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja sejumlah emiten holding investasi masih tertekan sepanjang semester I 2026.
Penurunan nilai portofolio saham akibat volatilitas pasar menjadi salah satu faktor utama yang menekan kinerja perusahaan.
Sebut saja PT Provident Investasi Bersama Tbk (PALM) yang mencatatkan kerugian neto atas investasi pada saham dan efek ekuitas lainnya sebesar Rp 670,61 miliar pada semester I 2026.
Baca Juga: Cetak Kinerja Positif, Simak Prospek Saham ADRO dan ADMR
Capaian tersebut berbalik dari laba Rp 587,36 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
PALM juga membukukan rugi yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau rugi bersih sebesar Rp 881,69 miliar pada semester I 2026.
Padahal, pada semester I 2025, PALM masih mencatatkan laba bersih Rp 407,31 miliar.
Provident diketahui memiliki investasi pada PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA).
Tekanan lebih besar terlihat pada PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK). Emtek mencatatkan rugi atas investasi neto sebesar Rp 2,28 triliun per Juni 2026, berbalik dari laba atas investasi neto Rp 1,31 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
EMTK juga membukukan rugi bersih Rp 289,69 miliar pada semester I 2026, berbanding terbalik dengan laba bersih Rp 4,25 triliun pada semester I 2025.
Baca Juga: Peta Market Cap BEI Berubah, BREN dan DSSA Mulai Tergusur
Emtek memiliki investasi reksadana, saham tercatat di bursa, dan instrumen lainnya yang masuk dalam aset keuangan lancar lainnya.
Nilai investasi tersebut masing-masing mencapai Rp 5,71 triliun dan Rp 5,46 triliun.
Sementara investasi jangka panjang yang diklasifikasikan sebagai aset keuangan dan diukur pada nilai wajar masing-masing mencapai Rp 11,53 triliun dan Rp 10,25 triliun.
EMTK diketahui memiliki saham PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), PT Surya Citra Media Tbk (SCMA), dan PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME).
Selanjutnya, PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) mencatatkan kerugian neto atas investasi pada saham dan efek lainnya sebesar Rp 4,83 triliun pada semester I 2026. Kerugian tersebut membengkak 165,6% dibandingkan rugi Rp 1,82 triliun pada semester I 2025.
SRTG juga membukukan rugi bersih Rp 3,87 triliun pada semester I 2026, berbalik dari laba bersih Rp 102,01 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: Yield SBN Naik, Investasi Asuransi, Penjaminan dan Dana Pensiun Menyusut 0,15% YtD
Pada portofolio saham blue chip, Saratoga diketahui menggenggam saham PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI).
Sementara itu, portofolio saham emiten berkembang Saratoga antara lain PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX), PT Samator Indo Gas Tbk (AGII), dan PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA).
Investor Relations Saratoga Mellisa Holidi mengatakan, sebagai perusahaan investasi, pergerakan nilai portofolio perseroan mengikuti dinamika dan fluktuasi pasar modal.
Menurut dia, SRTG tetap konsisten menjalankan strategi investasi jangka panjang dengan fokus pada penciptaan pertumbuhan nilai yang berkelanjutan.
“Fokus utamanya berpusat pada penciptaan pertumbuhan nilai yang berkelanjutan melalui optimalisasi portofolio, peningkatan efisiensi operasional, serta penguatan strategi bisnis di seluruh perusahaan portofolio,” ujar Mellisa kepada KONTAN, Senin (31/8/2026).
Sementara itu, PT Astra International Tbk (ASII) mencatatkan rugi perubahan nilai wajar investasi lain-lain sebesar Rp 837 miliar sepanjang semester I 2026.
Head of Corporate Investor Relations ASII Tira Ardianti menjelaskan, perubahan nilai wajar investasi lain-lain sebesar Rp 837 miliar dicatat dalam penghasilan komprehensif lain sehingga tidak berdampak terhadap laba rugi periode berjalan.
“Sementara itu, kerugian penyesuaian nilai wajar atas investasi ekuitas Grup yang dicatat pada semester pertama 2026 adalah sebesar Rp 259 miliar, terutama mencerminkan fluktuasi nilai pasar (mark-to-market) atas investasi ekuitas Grup,” ujar Tira kepada KONTAN, Senin (31/8/2026).
Baca Juga: Saratoga Investama (SRTG) Rugi Rp 3,87 Triliun Semester I, Ini Strategi Investasinya














