kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.753   44,00   0,25%
  • IDX 6.525   7,36   0,11%
  • KOMPAS100 852   3,39   0,40%
  • LQ45 644   2,00   0,31%
  • ISSI 229   -0,13   -0,06%
  • IDX30 360   1,47   0,41%
  • IDXHIDIV20 443   4,53   1,03%
  • IDX80 97   0,33   0,34%
  • IDXV30 124   2,23   1,83%
  • IDXQ30 115   0,70   0,62%

Peta Market Cap BEI Berubah, BREN dan DSSA Mulai Tergusur


Senin, 31 Agustus 2026 / 19:00 WIB
Peta Market Cap BEI Berubah, BREN dan DSSA Mulai Tergusur
ILUSTRASI. IHSG ditutup menguat 100,12 poin (ANTARA FOTO/Putra M. Akbar)


Reporter: Yuliana Hema | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan yang terjadi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun berjalan ini turut menyebabkan pergeseran peta emiten dengan kapitalisasi pasar alias market cap terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Jika dibandingkan dengan posisi akhir 2025, banyak saham yang berada puncak klasemen berguguran. Di mana, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi saham yang paling turun signifikan. 

Berdasarkan data penutupan 31 Desember 2025 market cap BREN sebesar Rp 1.298 triliun. Namun hingga akhir perdagangan Senin (31/8), kapitalisasi pasar emiten Prajogo Pangestu ini hanya tersisa Rp 444 triliun menempati urutan ke lima. 

Saham juga PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mengalami penyusutan market cap yang besar. Pada akhir 2025, kapitalisasi pasar DSSA mencapai Rp 778 triliun, tetapi kini hanya tersisa Rp 214 triliun. 

Bahkan, ada saham yang keluar jajaran 10 saham dengan kapitalisasi pasar terbesar, yakni PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang di akhir 2025 masih punya market cap sebesar Rp 606 triliun dan kini hanya Rp 169 triliun. 

Baca Juga: Market Cap BEI Terkini: BBCA Kembali Jadi Jawara, DCII Salip BREN

Di saat sejumlah saham mengalami tekanan, beberapa saham berhasil naik peringkat. PT Bayan Resources Tbk (BYAN), misalnya, dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 469 triliun dan menempati posisi keempat. 

Lompatan signifikan juga dialami oleh saham PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA). Entitas Grup Sinarmas itu berhasil masuk ke jajaran 10 besar dengan market cap sebesar Rp 265 triliun per Senin (31/8/2026).  

Sementara di posisi puncak masih duduki oleh saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan market cap sebesar Rp 790 triliun. Lalu disusul saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan kapitalisasi pasar Rp 488 triliun. 

Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia, Fath Aliansyah menjelaskan penurunan BREN dan DSSA dipicu oleh keputusan penyedia indeks global maupun domestik yang mengeluarkan kedua saham itu dari konstituennya. 

Seperti diketahui, MSCI mengeluarkan BREN dan DSSA dalam rebalancing Mei 2026. Keduanya didepak karena masuk dalam kategori konsentrasi kepemilikan tinggi alias High Shareholding Concentration (HSC). 

FTSE Russell juga mengeluarkan DSSA dalam rebalancing Juni 2026. Sebebanya sama oleh MSCI, karena saham DSSA masuk dalam kategori HSC dan jumlah saham beredar bebeas atau free float. 

“Penurunan ini tidak hanya terlihat di kedua saham itu, tetapi saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar lainnya. Meskipun penurunannya tidak signifikan dua saham tersebut,” jelasnya kepada Kontan, Senin (31/8/2026).   

Sementara itu, Fath mencermati saham seperti BYAN yang mengalami kenaikan peringkat disebabkan oleh penurunan di saham-saham market cap besar dan tekanan saham BYAN tidak sebesar lainnya. 

Baca Juga: Klasemen Market Cap BEI Bergeser, BBCA Kembali Teratas, DCII Menyalip BREN

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan perubahan peta kapitalisasi pasar saham terbesar di BEI sepanjang 2026 mencerminkan perubahan ekspektasi investor terhadap valuasi dan fundamental emiten.

“Perubahan peta kapitalisasi pasar saham-saham terbesar di BEI sepanjang 2026 merupakan kombinasi antara re-rating atau de-rating valuasi, perubahan ekspektasi terhadap prospek fundamental emiten, serta sentimen dan rumor korporasi,” katanya. 

Ambil contoh, BYAN dikabarkan akan diakuisisi oleh Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam. Sementara kenaikan saham MORA karena aksi mergernya dengan PT Eka Mas Republik atau yang  dikenal dengan MyRepublic. 

Nafan mengingatkan, untuk BYAN, risiko koreksi tetap terbuka apabila rumor akuisisi tidak terealisasi. Investor yang masuk berdasarkan ekspektasi aksi korporasi berpotensi melakukan profit taking atau sell on news.

“Apabila rumor akuisisi tersebut pada akhirnya tidak terealisasi, ada risiko koreksi tetap ada karena sebagian investor yang masuk berdasarkan ekspektasi aksi korporasi dapat melakukan profit taking atau sell on news,” jelasnya. 

Di sisi lain, masuknya MORA ke jajaran emiten berkapitalisasi pasar terbesar mencerminkan ekspektasi terhadap sinergi pasca merger dengan MyRepublic, terutama melalui perluasan basis pelanggan dan efisiensi operasional.

“Masuknya MORA ke jajaran kapitalisasi pasar terbesar juga mencerminkan ekspektasi pasar terhadap sinergi pasca merger dengan MyRepublic, terutama dari sisi perluasan basis pelanggan, efisiensi operasional, dan penguatan posisi di industri fixed broadband,” ucap Nafan.

Sementara itu, Nafan menyebut penurunan market cap BREN, DSSA, dan TPIA menunjukkan normalisasi valuasi setelah sebelumnya mengalami apresiasi tinggi. Kondisi tersebut membuat investor semakin selektif terhadap keberlanjutan pertumbuhan laba dan kualitas fundamental.

“Penurunan market cap BREN, DSSA, dan TPIA menunjukkan adanya normalisasi valuasi setelah sebelumnya mengalami apresiasi yang sangat tinggi, sehingga investor menjadi lebih selektif terhadap pertumbuhan laba dan kualitas fundamental,” kata dia. 

Menurutnya, perubahan market cap dapat menjadi sinyal awal untuk melakukan screening saham. Namun, ukuran tersebut belum cukup menjadi dasar keputusan beli atau jual tanpa mempertimbangkan valuasi dan fundamental.

Adapun dari saham-saham yang masuk dalam jajaran 10 besar, Nafan masih menjagokan saham perbankan. Dia merekomendasikan BBA dengan target harga di Rp 7.900, BBRI Rp 3.440 dan BMRI Rp 4.720. 

Baca Juga: Market Cap Saham Konglomerasi Ambruk, BBCA Kembali Memimpin

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×