Reporter: Dimas Andi | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja keuangan PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) tertekan sepanjang 2025 lalu. Walau begitu, DOID terus aktif melakukan upaya perbaikan kinerja secara bertahap.
Sebagaimana diketahui, pendapatan DOID menurun 16% year on year (yoy) menjadi US$ 1,48 miliar pada 2025, terutama disebabkan oleh penurunan volume. Dalam hal ini, volume overburden removal DOID turun 19% yoy menjadi 439 juta bank cubic meters (bcm), sedangkan produksi batubara turun 6% yoy menjadi 84 juta ton.
Hasil tersebut mencerminkan gangguan pada kuartal pertama, kendala cuaca, serta kontribusi yang lebih rendah dari site yang mengalami ramp-down dan yang telah selesai beroperasi.
Baca Juga: Wika Gedung (WEGE) Catat Nilai kontrak Baru Rp 464,67 Miliar per Maret 2026
EBITDA DOID turun menjadi US$ 175 juta dengan margin 14%, dipengaruhi oleh volume yang lebih rendah, biaya pesangon lebih tinggi, serta kenaikan biaya bahan bakar.
DOID turut membukukan rugi bersih sebesar US$ 128 juta pada 2025 yang dipicu oleh penurunan EBITDA, penyisihan piutang usaha dari kontrak di Australia yang telah berakhir, serta penurunan nilai aset pada operasional di Australia dan Amerika Serikat (AS).
Faktor-faktor tersebut sebagian diimbangi oleh keuntungan nilai wajar sebesar US$ 41 juta dari investasi Grup di 29Metals seiring pemulihan harga sahamnya sepanjang tahun, keuntungan selisih kurs sebesar US$ 36 juta, serta pembalikan pencadangan piutang di Australia setelah putusan Mahkamah Agung Queensland yang memenangkan BUMA Australia dengan penyelesaian keuangan yang diharapkan terealisasi pada 2026.
Direktur BUMA International Grup Iwan Fuad Salim mengatakan, tahun 2025 merupakan tahun yang menantang bagi DOID. Gangguan yang DOID hadapi pada kuartal pertama berdampak signifikan terhadap produksi dan pendapatan, sekaligus menunjukkan area-area di mana pendekatan perusahaan dapat
diperkuat.
DOID pun merespons dengan cepat melalui pengetatan disiplin operasional, penguatan pengendalian biaya dan fundamental pemeliharaan, serta pengambilan langkah-langkah tegas guna menjaga likuiditas dan memperkuat neraca keuangan.
"Langkah-langkah tersebut mendorong peningkatan produktivitas, biaya, dan arus kas sepanjang tahun, serta memberikan fondasi yang lebih kuat saat kami memasuki 2026," ujar dia dalam keterbukaan informasi, beberapa hari lalu.
Iwan menambahkan, DOID menyongsong tahun 2026 dengan fondasi operasional yang lebih kuat, neraca keuangan yang lebih tangguh, serta basis kontrak yang lebih terjamin.
"Prioritas kami jelas, yaitu mendorong keunggulan operasional, menjaga disiplin biaya dan belanja modal, memperkuat pengelolaan kas, serta mewujudkan pemulihan menjadi kinerja keuangan yang konsisten, sembari terus mengejar pertumbuhan baik secara organik maupun anorganik,” jelas Iwan.
Baca Juga: WIKA Gedung (WEGE) Mencatat Rugi Rp 630,36 Miliar pada Tahun 2025, Ini Penyebabnya
Secara terpisah, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai, kombinasi gangguan operasional akibat kendala cuaca, kenaikan beban keuangan, hingga tingginya beban penyusutan berpengaruh besar terhadap penurunan kinerja top line dan botom line DOID.
Walau begitu, besar kemungkinan kinerja keuangan DOID akan pulih pada 2026. Hal ini ditopang oleh kenaikan harga batubara global yang akan mendorong produsen untuk menaikkan target produksi, sehingga secara langsung meningkatkan volume overburden removal dan pengambilan batubara bagi DOID sebagai pelaku jasa pertambangan.
"Strategi yang perlu diterapkan DOID adalah optimalisasi utilitasi aset dan efisiensi biaya operasional," kata dia, Selasa (31/3/2026).
Wafi juga menyebut, langkah DOID melalui Bukit Makmur Mandiri Utama Pte Ltd (BUMA SG) untuk menambah kepemilikan sahamnya di 29Metals Limited cukup positif. Aksi korporasi tersebut akan menurunkan ketergantungan DOID terhadap komoditas batubara termal, memperkuat profil ESG perusahaan melalui diversifikasi ke sektor mineral, hingga membuka akses pendanaan global.
"Ekspasi internasional perlu dilanjutkan oleh DOID," imbuh dia.
Wafi pun merekomendasikan beli saham DOID dengan target harga di level Rp 500 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













