kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.769.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Rupiah Berpotensi Lanjut Tertekan, Simak Proyeksinya untuk Senin (18/5/2026)


Minggu, 17 Mei 2026 / 20:00 WIB
Rupiah Berpotensi Lanjut Tertekan, Simak Proyeksinya untuk Senin (18/5/2026)
ILUSTRASI. Analis memperkirakan rupiah pada perdagangan Senin (18/5/2026) berpotensi melemah di kisaran Rp 17.590 hingga Rp 17.660 per dolar AS.(TRIBUNNEWS/Jeprima)


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan awal pekan depan. Sentimen eksternal dinilai masih menjadi faktor utama yang membebani pergerakan mata uang Garuda.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar Amerika Serikat (AS) atau DXY naik 0,47% menjadi 99,28 pada penutupan perdagangan Jumat (15/5/2026). 

Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 0,39% menjadi Rp 17.597 per dolar AS. Adapun, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) pada Rabu (13/5) ditutup pada level Rp 17.496 per dolar AS.

Baca Juga: IHSG Berpotensi Sideways Bearish, Tekanan MSCI dan Asing Masih Dominan

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah pada perdagangan Senin (18/5/2026) berpotensi melemah di kisaran Rp 17.590 hingga Rp 17.660 per dolar AS.

"Faktor utamanya masih berasal dari eksternal, terutama ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang kembali meningkat," ujar Ibrahim kepada Kontan, Minggu (17/5/2026).

Ia menyoroti memanasnya situasi di sekitar Selat Hormuz setelah Iran dikabarkan menyita kapal asal China. Di sisi lain, konflik Israel dengan Hamas dan serangan ke Lebanon Selatan juga dinilai memperburuk sentimen pasar global.

Menurut Ibrahim, kondisi tersebut berpotensi mendorong penguatan dolar AS sekaligus memicu kenaikan harga minyak mentah dunia. 

Dampaknya, tekanan terhadap perekonomian domestik semakin besar, terutama dari sisi impor energi.

Baca Juga: Rupiah Diproyeksi Masih Tertekan Setelah Libur Panjang

"Indonesia masih memiliki impor minyak yang besar, sehingga membutuhkan dolar AS dalam jumlah tinggi. Selain itu ada kebutuhan pembayaran utang jatuh tempo dan pembagian dividen," kata Ibrahim. 

Ia juga menilai peralihan sebagian masyarakat dari simpanan rupiah ke valuta asing turut menambah tekanan terhadap rupiah.

Di tengah tekanan tersebut, Ibrahim mengatakan pemerintah dan Bank Indonesia (BI) terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar dan strategi pembiayaan utang.

Menurut dia, pemerintah disebut tengah menyiapkan penerbitan surat utang dalam denominasi yuan atau Panda Bond di pasar China dengan nilai sekitar Rp 2 triliun hingga Rp 4 triliun. Langkah itu dinilai dapat membantu BI memperkuat intervensi di pasar valas.

“Bank Indonesia tidak bisa bekerja sendiri, sehingga membutuhkan dukungan pemerintah untuk menahan pelemahan rupiah lebih lanjut,” ungkapnya.

Baca Juga: MSCI Masih Freeze, Saham Konglomerat Dituntut Punya Cerita Baru

Sementara itu, Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong menilai rupiah kembali melemah pada Senin (18/5/2026) merespons sentimen risk off global pada hari Jumat. 

"Dolar AS menguat cukup besar di tengah sell off semua asset termasuk obligasi, saham, kripto dan mata uang," ujar Lukman. 

Menurut Lukman, aksi tersebut dipicu kekecewaan investor akan hasil pertemuan Xi dan Trump terkait perang Iran AS dan selat Hormuz. 

Lukman memperkirakan rupiah pada Senin (18/5) akan bergerak di kisaran Rp 17.550 - Rp 17.650 per dolar AS. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×