Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) membukukan nilai kontrak baru sebesar Rp 464,67 miliar per Maret 2026.
Hadian Pramudita, Direktur Utama PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk mengatakan, perolehan kontrak baru itu mencakup Proyek Sekolah Rakyat, Halte BRT, RSUD Rupit, Hunian ASN dan Hunian Kementerian PU.
Secara rinci, proyek Pembangunan BRT Metropolitan Mebidang – Paket Halte On Corridor memiliki nilai kontak Rp 198,51 miliar. Lalu, proyek pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Rupit di Kabupaten Musi Rawas Utara, Provinsi Sumatra Selatan punya nilai kontrak sebesar Rp128,59 miliar.
Baca Juga: Laba Bersih TOWR, Emiten Afiliasi Grup Djarum, Naik Dua Digit di 2025
“WEGE memiliki fondasi yang kuat untuk bertahan dalam kondisi ketidakpastian ekonomi saat ini. Kami berusaha agar target perolehan kontrak baru tahun ini dapat dicapai dengan hasil yang maksimal,” katanya dalam keterangan resmi yang diterima Kontan, Selasa (31/3).
Sebagai gambaran, anak usaha PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) ini menargetkan raihan nilai kontrak baru sebesar Rp 3 triliun di tahun 2026.
Di sisi lain, WEGE mencatatkan penurunan kinerja sepanjang 2025. Pendapatan perseroan tercatat sebesar Rp 1,62 triliun sepanjang tahun 2025, terkoreksi 55,80% dari Rp 3,67 triliun di tahun 2024.
WEGE pun membukukan rugi tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias rugi bersih Rp 630,36 miliar sepanjang 2025. Ini berbanding terbalik dari laba bersih Rp 67,88 miliar di 2024.
Menurut Hadian, rugi di tahun 2025 merupakan hasil dari langkah proaktif perseroan dalam menerapkan prinsip akuntansi konservatif.
“Langkah ini diwujudkan melalui pengakuan penurunan nilai aset keuangan serta penyisihan pekerjaan dalam proses sebagai bagian dari strategi balance sheet cleaning,” ujarnya.
Baca Juga: WIKA Gedung (WEGE) Mencatat Rugi Rp 630,36 Miliar pada Tahun 2025, Ini Penyebabnya
WEGE juga melakukan strategi deleveraging yang tercermin dalam gearing ratio yang membaik dari 0,07x pada tahun 2025 dari sebelumnya 0,18x pada tahun 2024 dan debt to equity ratio (DER) yang terjaga sebesar 1,05x.
Menurut Hadian, kebijakan tersebut diambil secara sadar untuk memastikan bahwa laporan keuangan WEGE mencerminkan nilai aset yang riil dan transparan.
“Melalui optimalisasi instrumen keuangan dan penataan akun historis ini, harapan kami neraca tahun 2026 sudah mencerminkan kondisi yang jauh lebih sehat dan kredibel,” paparnya.
Total liabilitas WEGE tercatat turun 33,6% YoY menjadi Rp 2,07 triliun per Desember 2025. Ini didorong oleh pelunasan pinjaman bank jangka pendek yang turun 79,14% YoY dari Rp350,00 miliar menjadi Rp73,04 miliar.
“Langkah strategis ini merupakan komitmen manajemen dalam restrukturisasi struktur permodalan dan efisiensi beban keuangan guna memperkuat arus kas di masa mendatang,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













