kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.664.000   -36.000   -1,33%
  • USD/IDR 17.842   -48,00   -0,27%
  • IDX 6.402   100,12   1,59%
  • KOMPAS100 829   5,89   0,72%
  • LQ45 632   5,12   0,82%
  • ISSI 223   5,51   2,54%
  • IDX30 354   2,79   0,80%
  • IDXHIDIV20 430   2,74   0,64%
  • IDX80 95   0,68   0,73%
  • IDXV30 119   1,18   1,00%
  • IDXQ30 112   0,79   0,71%

Kekhawatiran tekanan upah menyeret Wall Street ke zona merah


Senin, 12 November 2018 / 06:21 WIB
ILUSTRASI. Bursa AS


Reporter: Wahyu Tri Rahmawati | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks saham di Amerika Serikat (AS) kompak melemah pada perdagangan terakhir pekan lalu. Jumat (9/11), Dow Jones Industrial Average turun 0,77%.

Indeks S&P 500 turun 0,92% dna Nasdaq Composite tergerus 1,65%. Meski menutup perdagangan di zona merah, Wall Street masih mencetak kenaikan dalam sepekan terakhir.

Dow Jones masih menguat 2,84% dalam lima hari perdagangan. S&P 500 pun masih melaju hingga 2,13%. Indeks Nasdaq mencetak penurunan terkecil, yakni 0,68%.

Beberapa perusahaan AS mengungkapkan bahwa kenaikan upah akan menurunkan margin. Alhasil, pertumbuhan laba tahun depan akan jauh lebih mini ketimbang prediksi semula.

Emiten-emiten ritel dan restoran yang memiliki banyak pekerja akan menjadi perusahaan yang terkena pengaruh besar atas kenaikan upah. Morgan Stanley mengungkapkan bahwa ada beberapa industri yang bakal terkena dampak kenaikan upah ini, seperti hotel, restoran, ritel, jasa dan peralatan energi, dan jasa IT.

"Tekanan upah meningkat beberapa wakt belakangan, tapi hal ini sangat terlihat pada laporan tenaga kerja bulan Oktober. Jadi ini akan tetap menjadi masalah," kata Kristina Hooper, chief global market strategist Invesco kepada Reuters.

Di satu sisi, kenaikan upah bisa mempercepat laju inflasi di AS. Di sisi lain, kenaikan upah ini akan menekan laba per saham emiten S&P. Data IBES Refinitiv menunjukkan, pertumbuhan laba per saham emiten S&P 500 akan melambat menjadi 9% tahun depan. Angka ini berada jauh di bawah prediksi 24% tahun ini, lonjakan laba per saham yang dipicu pemangkasan pajak.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×