Reporter: Vivit Dewi | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan sentimen domestik di tengah pelemahan indeks dolar Amerika Serikat (AS). Salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah perkembangan kasus dugaan penyadapan ilegal yang menyeret sejumlah perwira tinggi Polri dan diduga menyasar Presiden Prabowo Subianto serta sejumlah pejabat negara.
Melansir Bloomberg, rupiah di pasar spot pada perdagangan Rabu (4/11/2026) ditutup melemah 0,04% ke level Rp 18.168 per dolar AS.
Sementara itu, berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), rupiah justru menguat tipis 0,04% ke level Rp 18.140 per dolar AS. Posisi tersebut menguat dibandingkan kurs JISDOR pada Selasa (3/11/2026) yang berada di Rp 18.148 per dolar AS.
Baca Juga: IHSG Ditutup Naik 0,32% ke 4.919 pada Rabu (4/11), PGEO, ANTM, INKP Top Gainers LQ45
Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, perkembangan kasus dugaan penyadapan menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan ketidakpastian politik dan memengaruhi kepercayaan investor.
Menurutnya, pelaku pasar akan mencermati stabilitas pemerintahan, soliditas institusi keamanan, serta kepastian penegakan hukum. Apabila persoalan tersebut berkembang dan mengganggu kepercayaan investor terhadap pemerintah, risiko keluarnya dana asing dari pasar keuangan Indonesia berpotensi meningkat.
"Secara bersamaan, ketegangan politik meningkat setelah tiga perwira tinggi Polri ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan dalam kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto serta sejumlah pejabat negara, tokoh politik, jurnalis, dan pengusaha. Salah satu yang terseret adalah mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo. Kasus ini masih dalam proses penyidikan sehingga dugaan keterlibatan para tersangka perlu dibuktikan melalui proses hukum,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (4/11/2026).
Selain sentimen politik, prospek perlambatan ekonomi Indonesia juga menjadi perhatian pelaku pasar. Tingginya suku bunga yang masih membebani biaya pinjaman serta tekanan harga kebutuhan pokok berpotensi mengurangi daya beli masyarakat, sehingga konsumsi rumah tangga dan aktivitas dunia usaha berisiko melambat.
Perhatian pasar juga tertuju pada proyeksi Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 hanya berada di kisaran 5,4%-5,5%, lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya sebesar 5,6%-6%.
Baca Juga: Kinerja Reksadana di Oktober 2026 Tertekan Koreksi Saham, Pasar Uang Jadi Penopang
Dari eksternal, indeks dolar AS terpantau melemah pada perdagangan Rabu (4/11/2026). Pasar masih mencermati hasil pemilihan paruh waktu AS serta perkembangan konflik AS-Israel dan Iran. Upaya mediasi untuk mencegah eskalasi konflik juga menjadi perhatian investor.
Namun, data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan turut memberikan dukungan bagi dolar AS. Laporan JOLTS Job Openings menunjukkan lowongan pekerjaan AS meningkat menjadi 7,523 juta pada September 2026, dari sebelumnya 7,19 juta dan melampaui ekspektasi pasar sebesar 7,13 juta.
"Pasar saat ini tertuju terhadap hasil pemilihan paruh waktu Amerika Serikat. Penghitungan suara sedang berlangsung dalam pemilihan paruh waktu AS," tutur Ibrahim.
Di tengah berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah pada perdagangan Kamis (5/11/2026) bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp 18.160-Rp 18.210 per dolar AS.
Sementara sepanjang pekan ini, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp 18.000-Rp 18.320 per dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
