kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.498   -32,00   -0,18%
  • IDX 6.713   -146,20   -2,13%
  • KOMPAS100 893   -22,92   -2,50%
  • LQ45 657   -12,48   -1,86%
  • ISSI 242   -5,57   -2,25%
  • IDX30 371   -6,01   -1,59%
  • IDXHIDIV20 455   -6,43   -1,39%
  • IDX80 102   -2,19   -2,11%
  • IDXV30 130   -2,09   -1,59%
  • IDXQ30 119   -1,46   -1,21%

Isu mogok kerja angkat harga nikel


Senin, 30 Mei 2016 / 17:11 WIB


Reporter: Namira Daufina | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Peluang harga bijih nikel untuk pertahankan penguatan pada Selasa (31/5) masih terbuka lebar. Beberapa katalis positif sedang menaungi komoditas logam industri ini untuk beberapa waktu ke depan.

Mengutip Bloomberg, Jumat (27/5) harga nikel kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange terangkat 0,29% ke level US$ 8.420 per metrik ton dibanding hari sebelumnya. Meski demikian dalam sepekan terakhir harga sudah merosot 0,94%.

Dipaparkan Andri Hardianto, Research and Analyst PT Asia Tradepoint Futures faktor utama yang jadi penyebab kokohnya harga nikel adalah laporan terjadinya mogok pekerja tambang di South32 Ltd’s Cerro Matoso, perusahaan tambang kedua terbesar di dunia. Terjadi penolakan mengenai upah dan isu pemangkasan tenaga kerja yang menyulut aksi protes pekerja.

“Protes ini memicu kekhawatiran pasar bahwa akan terjadi penurunan produksi lagi yang tentunya itu bisa mengangkat harga nikel,” jelas Andri. Bukan tanpa alasan, sebelumnya pada April 2015 demo serupa pernah terjadi, efeknya produksi di Cerro Matoso tersebut menurun tajam. Sebagai gambaran dalam sembilan bulan terakhir hingga 31 Maret 2016 lalu, produksi South32 Ltd mencapai 27.200 ton.

Kekhawatiran itu berjalan seiringan dengan laporan penurunan stok nikel di LME per Jumat (27/5) lalu. Secara harian terjadi penurunan sebesar 978 ton menjadi 400.886 ton. Tentunya ini turut mendorong harga nikel melaju unggul.

Di saat yang bersamaan, Macquarie Bank menebak permintaan global nikel tahun 2016 akan tumbuh 4,4%. “Yang mana sebagian besar dari pertumbuhan itu datang dari naiknya produksi industri stainless steel di China yang juga menggunakan nikel sebesar 4%,” papar Andri.

Ini mengarahkan pada prediksi masih akan positifnya harga nikel untuk beberapa waktu ke depan. Meski di tengah gempuran penguatan dollar AS.


 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Berita Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×