Reporter: Dyah Megasari |
JAKARTA. Predikat investment grade yang disematkan Fitch Ratings ke Indonesia diprediksi tak memberikan dampak signifikan terhadap ongkos penerbitan surat utang oleh pemerintah.
Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto menyatakan, peringkat BB+ yang naik menjadi BBB- tidak akan berpengaruh besar terhadap pergerakan yield atau imbal hasil Surat Utang Negara (SUN).
"Selama ini Indonesia dianggap layak investasi, sehingga Credit Default Swap (CDS) dan yield global bond sudah masuk peer group investment grade. Tapi kami terus berharap yield bisa turun lebih besar," ungkap Rahmat, kepada Kontan (15/12).
Per 15 Desember 2011, CDS global bond Indonesia tenor 10 tahun berada di level 264,89. Posisi ini jauh lebih rendah dari level tertinggi yang pernah dicapai yaitu 456,22 per 4 Oktober 2011. Tapi, posisi tersebut juga belum mendekati rekor terendah yaitu 181,68 pada 17 Juni 2011.
Jadi benchmark
Analis sudah menebak sebelumnya, bahwa yield tak mungkin langsung tertekan dengan penyematan posisi istimewa ini.
Handy Yunianto, Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas melihat, investment grade hanya berimbas besar pada pasar obligasi pemerintah yang berdenominasi dollar, bukan dalam bentuk rupiah. Tapi, yield akan jalan di tempat lantaran pasar menganggap global bond Indonesia sudah price in (harga investment grade).
Yang pasti, Handi menuturkan ada beberapa potensi positif yang diterima Indonesia. Pertama, global bond Indonesia yang belum menjadi benchmark index akan masuk ke daftar acuan negara lain. Kedua, institusi investasi juga akan mempertimbangkan Indonesia sebagai benchmark. Saat ini baru GPMorgan yang memasukkan pasar Indonesia sebagai benchmark obligasi global.
Ketiga, ada pemilik modal baru yang masuk ke pasar obligasi Indonesia karena menganggap risiko investasi makin kecil di tengah situasi pasar global yang berkecamuk. "Selama ini, investor tersebut tidak pernah mempertimbangkan Indonesia sebagai tempat investasi. Potensi aliran modal asing justru datang dari mereka," jelas Handy, Jumat (16/12).
Berbeda dengan Handy, Analis obligasi NC Securities, I Made Adi Saputra meramal Indonesia akan dibanjiri modal asing dalam waktu dekat. "Meski yield tak bergerak turun signifikan, dana asing yang sempat hengkang dari pasar SUN, akan kembali lagi. Potensinya kepemilikan asing bisa berbalik ke sekitar Rp 240 triliun," ramal Made.
Per 14 Desember, posisi asing di pasar SUN tercatat Rp 224,11triliun. Lebih rendah dari rekor tertinggi yaitu Rp 248,87 triliun pada Juli 2011. "Seharusnya, yield bisa kembali turun. Apalagi yang memberikan peringkat adalah Fitch ratings,” ujar Made.
Hari ini, harga global bond dengan tenor 10 tahun naik ke 114,87 dari 113,75. Secara bersamaan, yield tersebut turun ke 6,16% dari 6,31%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













