kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.013,51   -2,48   -0.24%
  • EMAS932.000 0,22%
  • RD.SAHAM -1.07%
  • RD.CAMPURAN -0.35%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.08%

Inilah 3 Saham Blue Chip Baru Mulai 1 Agustus 2022, Saham Apa Yang Terbaik Dibeli?


Rabu, 27 Juli 2022 / 07:41 WIB
Inilah 3 Saham Blue Chip Baru Mulai 1 Agustus 2022, Saham Apa Yang Terbaik Dibeli?
ILUSTRASI. Inilah 3 Saham Blue Chip Baru Mulai 1 Agustus 2022, Saham Apa Yang Terbaik Dibeli?


Reporter: Akhmad Suryahadi | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tiga saham baru akan masuk kategori blue chip di Bursa Efek Indonesia mulai 1 Agustus 2022. Dari tiga saham blue chip yang baru tersebut, saham apa yang memiliki prospek bagus untuk menjadi portofolio investasi?

Saham blue chip adalah jenis saham dari perusahaan dengan kondisi keuangan prima, serta beroperasi selama bertahun lamanya. Di Indonesia, saham-saham yang masuk dalam kategori blue chip berada pada daftar indeks LQ45.

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengocok ulang komposisi saham dalam indeks LQ45 untuk periode Agustus 2022-Januari 2023.

Tiga saham blue chip baru dalam indeks LQ45 adalah PT Bank Jago Tbk (ARTO), PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), dan PT Indika Energy Tbk (INDY).

Pengumuman masuknya tiga saham itu sebagai blue chip menarik perhatian investor. Investor melakukan aksi beli tiga saham blue chip tersebut.

Walhasil, harga tiga saham blue chip baru tersebut meningkat pada perdagangan Selasa 26 Juli 2022. Harga saham BRIS terpantau naik 2,83% ke level Rp 1.635.

Harga saham INDY naik 2,39% ke level Rp 2.570. Bahkan, harga saham ARTO naik 6,12% ke level Rp 10.400.

Baca Juga: Harga Saham BUMI Lewati 100, Saatnya Jual atau beli Pada Perdagangan Hari Ini (27/7)?

Analis MNC Sekuritas Tirta Widi Gilang Citradi rekomendasi beli saham ARTO dengan target harga Rp 15.700. Rekomendasi ini diperoleh menggunakan metode Nilai Umur Pelanggan atau Customer Lifetime Value (CLV), dengan asumsi adanya 12 juta pelanggan pada akhir 2023.

MNC Sekuritas menyesuaikan perkiraan terhadap loan yield di angka 16,8% dari sebelumnya 15,0%, cost of funds (CoF) sebesar 3,3% dari sebelumnya 5,0%, credit cost sebesar 3,0% dari sebelumnya 2,5%,  dan biaya operasional terhadap pendapatan sebesar 45,0% dari sebelumnya 35,0%.

Risiko utama terhadap saham ARTO meliputi kualitas aset yang memburuk, pelaksanaan integrasi ekosistem yang lebih lambat, serta biaya investasi infrastruktur operasional dan teknologi yang lebih tinggi.

Sebagai gambaran, pada kuartal II-2022, ARTO membukukan raihan laba sebesar Rp 29 miliar. Jika menghitung laba pada kuartal kedua sendiri, ARTO hanya membukukan laba Rp 10 miliar.  Hasil ini meleset dari ekspektasi Tirta karena melonjaknya biaya pencadangan seiring dengan penurunan kualitas aset.

Baca Juga: Dinilai Prospektif, Ini Rekomendasi Saham Emiten Kawasan Industri Jagoan Analis

Non performing loans (NPL) bruto ARTO meningkat 120 basis points (bps) secara kuartalan menjadi 2,7%. Lonjakan NPL sebagian besar didorong oleh bisnis syariahnya. 

“Namun, meskipun kualitas aset melemah di kuartal kedua 2022, NPL Bank Jago masih jauh lebih rendah dari rata-rata industri sebesar 3,0%,” terang Tirta, Selasa (26/7).

MNC Sekuritas berekspektasi adanya pertumbuhan pinjaman secara majemuk atau compounded annual growth rate (CAGR) sebesar 191% selama 2020-2023. Pertumbuhan ini didorong oleh dua hal. Pertama, ekosistem digital yang lebih terintegrasi dengan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Kedua, potensi kemitraan dengan PT BFI Finance Tbk (BFIN).

“Ketika bank digital terus berkembang, kami juga melihat jalur yang jelas untuk membangun ekosistem yang lebih terintegrasi dengan GOTO,” sambung Tirta. 

Head of Research Jasa Utama Capital Sekuritas Cheryl Tanuwijaya rekomendasi saham INDY sebagai pilihan dari tiga saham blue chip baru tersebut. Hal ini karena  kinerja INDY ditopang oleh harga komoditas batubara yang kembali naik pasca gangguan supply gas dari Rusia ke Uni Eropa.

“Selain itu juga earning kuartal kedua diperkirakan akan meningkat karena tidak ada pembatasan ekspor batubara lagi,” terang Cheryl kepada Kontan.co.id, Selasa (26/7)

Sebagai gambaran, per kuartal pertama 2022, INDY berhasil meraih laba bersih US$ 75,04 juta. Raihan laba ini membalik kondisi dari rugi bersih US$ 9,36 juta pada kuartal pertama 2021. Cheryl merekomendasikan beli saham INDY dengan target harga Rp 2.720.

Untuk saham BRIS, Analis Panin Sekuritas Christian Anderson Yuwono menilai, saham ini berada dalam fase uptrend. Investor bisa manfaatkan hal ini untuk buy on weakness (BOW) saham BRIS.

Masuknya anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) ke dalam konstituen indeks  LQ45 juga merupakan katalis positif yang bisa membuat saham BRIS semakin atraktif. “Secara likuiditas juga akan lebih menarik karena akan lebih sering diperdagangkan,” terang Anderson, Selasa (26/7).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×