Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tanda-tanda hadirnya window dressing di penghujung 2024 tampak semakin nyata. Dalam sepekan terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakumulasi kenaikan sebanyak 3,77% ke posisi 7.382,78.
Posisi dana dari investor asing pun mulai berbalik masuk (capital inflow), dengan mencatatkan aksi beli bersih (net buy) senilai Rp 1,07 triliun. Sebagai perbandingan, pada pekan lalu terjadi jual bersih (net sell) senilai Rp 3,89 triliun.
Hanya saja, pelaku pasar tetap perlu berhati-hati menyikapi potensi window dressing dan kembalinya capital inflow ke pasar saham Indonesia.
Baca Juga: IHSG Melejit 3,77% Pekan Ini, Bakal Berlanjut Pekan Depan?
Certified Elliott Wave Analyst Master Kanaka Hita Solvera Daniel Agustinus mengamati, inflow yang terjadi kemungkinan karena antisipasi investor terhadap window dressing.
Apalagi sejumlah saham berkapitalisasi pasar besar (big cap) maupun blue chip sebelumnya sudah mengalami koreksi. Tapi, Daniel melihat belum ada kepastian inflow akan konsisten mengalir di akhir tahun ini.
Dia menduga investor masih wait and see terhadap sejumlah sentimen, terutama arah kebijakan suku bunga The Fed dan Bank Indonesia (BI).
"Inflow kemungkinan akan kembali masuk apabila The Fed dan BI memangkas suku bunga di Desember ini," ungkap Daniel kepada Kontan.co.id, Kamis (5/12).
Investment Specialist Syailendra Capital Karen Miranti mengamini, kebijakan moneter terutama arah suku bunga The Fed akan menjadi sentimen penting.
Baca Juga: BBCA dan ADMR Tertinggi, Cek Saham yang Banyak Dijual Asing pada Jumat (6/12)
Jika The Fed melanjutkan pemangkasan suku bunga, maka dapat meningkatkan daya tarik emerging market, termasuk Indonesia.
Langkah The Fed juga akan memengaruhi bank sentral lainnya, termasuk BI. Adapun, The Fed akan mengadakan Federal Open Market Committe (FOMC) pada 17 - 18 Desember. BI juga akan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada tanggal yang sama.
Di samping suku bunga, faktor lain yang dapat memengaruhi capital inflow adalah stabilitas nilai tukar rupiah dan pergerakan yield obligasi.
Analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandhu Dewanto menimpali, dalam dua pekan terakhir nilai tukar rupiah sudah mulai stabil di kisaran Rp 15.850 - Rp 15.950 per dolar Amerika Serikat.
Sementara pergerakan yield obligasi Indonesia yang mulai di atas 7% bisa dikatakan mulai menarik minat investor global untuk kembali masuk.
"Namun masih terlalu awal untuk mengatakan capital inflow benar-benar akan kuat berlanjut hingga akhir tahun karena masih minim katalis positif," tegas Pandhu.
Baca Juga: Intip Harga Saham AADI, BBRI, dan BBCA yang Beda Arah di Bursa Jumat (6/12)
Praktisi Pasar Modal & Founder WH Project William Hartanto sepakat, pasar belum mendapat sentimen atau momentum yang signifikan.
Indikasi pembalikkan arah dari outflow ke inflow akan terlihat dari nilai dan konsistensi terjadinya net buy.
Daniel mengamini, indikasi tren inflow telah kembali dapat dilihat dari nilai yang masuk, paling tidak bisa mendekati arus dana yang keluar.
Contohnya, jika pada pekan lalu terjadi net sell senilai Rp 3,89 triliun, maka pada pekan ini mesti net buy dengan mendekati level tersebut.
Catatan Daniel, indikator yang lebih akurat bisa terjadi pada nilai net buy atau net sell di pasar reguler.
"Jadi kalau dalam beberapa waktu ke depan inflow asing mendekati level outflow, bisa dikatakan inflow-nya mulai kembali," terang Daniel.