kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.922.000   20.000   0,69%
  • USD/IDR 17.037   37,00   0,22%
  • IDX 7.095   -89,91   -1,25%
  • KOMPAS100 981   -12,12   -1,22%
  • LQ45 720   -7,16   -0,99%
  • ISSI 254   -3,24   -1,26%
  • IDX30 390   -3,04   -0,77%
  • IDXHIDIV20 485   -2,52   -0,52%
  • IDX80 111   -1,22   -1,09%
  • IDXV30 134   -0,39   -0,29%
  • IDXQ30 127   -0,90   -0,70%

Ini alasan Pinnacle Investment setuju dengan pembobotan baru indeks


Senin, 12 November 2018 / 20:56 WIB
ILUSTRASI. Peluncuran Pinnacle FTSE Indonesia ETF


Reporter: Danielisa Putriadita | Editor: Sanny Cicilia

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. President & Chief Executive Officer (CEO) Pinnacle Investment, Guntur Putra menanggapi positif aturan pembobotan indeks dengan metodologi free float di indeks LQ45 dan IDX 30 yang direncanakan Bursa Efek Indonesia akan berlaku pada Februari 2019.

"Aturan ini untuk memastikan penghuni di dalam indeks lebih investable dan mencerminkan struktur market dan likuiditas index yang lebih baik," kata Guntur.

Nyatanya, metode seperti ini sudah Guntur lakukan pada produk reksadana bertajuk Pinnacle FTSE Indonesia ETF . Reksadana berkode XPFT ini merupakan ETF pertama di dunia yang menggunakan indeks FTSE Indonesia sebagai acuannya.

"Sama seperti FTSE Indonesia Index yang kami gunakan di dalam salah satu ETF kami, index itu sudah dari tahun 1986 dan sejak tahun 2000 sudah mengadopsi market cap weighted with free float adjustment,” kata Guntur.

Dengan adanya aturan ini, apakah MI akan menghadapi dampak cukup signifikan?

Menurut Guntur hal ini bergantung pada strategi pengelolaan reksadana tersebut aktif atau pasif. Guntur menilai aturan BEI secara value akan ternormalisasi dan hanya mempengaruhi beberapa nama seperti HMSP dan UNVR yang memiliki free float minim dan bobot pasti akan terpangkas.

Pada reksadana ETF dan indeks yang bersifat pasif maka MI hanya mengikuti pembobotan yang sudah ditentukan pada masing-masing indeks. Dengan begitu MI akan melakukan proses rebalancing bobot yang direncanakan akan berubah pada Februari 2019.

Sedangkan, untuk pengelolaan reksadana saham yang bersifat aktif, maka akan tergantung dari penerapan serta pandangan masing-masing fund manager. Jika mereka memandang saham-saham yang akan dipangkas bobotnya di indeks masih memiliki potensi fundamental yang baik tentu bisa melihat koreksi yang terjadi sebagai kesempatan.

Perlu diketahui, Guntur menyebut, Pinnacle memiliki strategi pengelolaan aktif, pasif, dan smart beta, jadi treatment rebalancing di masing-masing reksadana akan berbeda.

Guntur menambahkan, dari sisi investable dan likuiditas, bursa saham akan lebih baik.

Dahulu, pada reksadana pasif, strategi indeks hanya melihat dari market cap weighted tanpa memperhitungkan free float, jadi ini aturan baru ini jauh lebih baik untuk investor.

Menurut dia, masih banyak pelaku pasar yang kurang mengerti dengan aturan pembobotan indeks yang baru dan efeknya terhadap struktur pasar di bursa Indonesia. Alhasil, banyak reaksi berlebihan dengan menjual saham-saham yang pembobobotannya akan di pangkas di bulan Februari nanti. Ini terjadi pada perdagangan Jumat lalu.

“Setelah koreksi panjang kemarin, indeks pasti akan ternormalisasi kembali,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×