kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.633.000   -8.000   -0,30%
  • USD/IDR 18.135   100,00   0,55%
  • IDX 5.912   39,07   0,67%
  • KOMPAS100 769   5,82   0,76%
  • LQ45 587   4,49   0,77%
  • ISSI 203   0,67   0,33%
  • IDX30 333   2,19   0,66%
  • IDXHIDIV20 411   0,93   0,23%
  • IDX80 88   0,82   0,94%
  • IDXV30 111   0,16   0,14%
  • IDXQ30 107   0,26   0,24%

Indeks Keyakinan Konsumen Turun ke 117,8 Cermati Saham Rekomendasi Analis


Kamis, 09 Juli 2026 / 18:07 WIB
Indeks Keyakinan Konsumen Turun ke 117,8 Cermati Saham Rekomendasi Analis
ILUSTRASI. Produk mi instan Indomie produksi PT Indofood ICBP Sukses Makmur (ICBP) (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Optimisme masyarakat terhadap perekonomian nasional kembali turun. Ini tercermin dalam Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang melemah dari 120,9 pada Mei menjadi 117,8 pada Juni 2026.

Ini merupakan penurunan selama tiga bulan berturut-turut  dan menjadi level terendah sejak September 2025.

Tim riset Samuel Sekuritas Indonesia mengatakan, meskipun indeks masih berada di atas ambang batas 100 yang memisahkan optimisme dan pesimisme, penurunan terbaru ini menunjukkan bahwa rumah tangga semakin berhati-hati di tengah meningkatnya inflasi, kondisi keuangan yang semakin ketat, dan melemahnya pasar tenaga kerja. 

Melemahnya keyakinan konsumen sejalan dengan berbagai indikator makroekonomi yang mengindikasikan perlambatan permintaan domestik.

Baca Juga: IHSG Berpotensi Terkoreksi pada Senin (12/1), Intip ​Saham Rekomendasi Analis

Indeks PMI Manufaktur kembali masuk ke zona kontraksi pada Juni, kinerja perdagangan melemah tajam hingga mencatat defisit pertama sejak 2020, sementara Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif sebesar 100 basis poin sejak Mei untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi. 

Meskipun kenaikan suku bunga tersebut membantu menjaga stabilitas makroekonomi dan memberikan dukungan terhadap rupiah, kondisi keuangan yang lebih ketat diperkirakan akan membatasi permintaan kredit rumah tangga dan belanja konsumsi yang bersifat diskresioner.

Penurunan keyakinan terhadap pembelian barang tahan lama juga mencerminkan meningkatnya kehati-hatian masyarakat dalam melakukan pengeluaran bernilai besar seiring naiknya biaya pembiayaan.

Ke depan, Samuel Sekuritas memperkirakan keyakinan konsumen masih akan menghadapi tekanan moderat dalam beberapa bulan mendatang seiring rumah tangga menyesuaikan diri terhadap biaya pinjaman yang lebih tinggi dan inflasi yang masih elevated, terutama di tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang berlanjut

Baca Juga: Dana Asing Kabur Rp 8,5 Triliun Karena Rebalancing MSCI, Cek Saham Rekomendasi Analis

"Kami memperkirakan konsumsi domestik akan melambat," tulis tim riset Samuel Sekuritas Indonesia, Rabu (8/7/2026).

Secara terpisah, Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama,  penurunan IKK memang menjadi sinyal konsumen mulai lebih berhati-hati dalam melakukan pengeluaran.

Namun, perlu dilihat bahwa level IKK masih berada di atas 100, sehingga secara agregat masyarakat masih berada dalam zona optimistis. 

"Jadi belum bisa langsung disimpulkan bahwa konsumsi akan mengalami penurunan drastis," ucap Elandry kepada Kontan, Kamis (9/7/2026).

Tapi, Elandry juga bilang, faktor yang perlu diperhatikan adalah tren penurunannya selama beberapa bulan terakhir.

Jika berlanjut, kondisi ini bisa menjadi tantangan bagi emiten yang sangat bergantung pada konsumsi discretionary atau belanja yang sifatnya bisa ditunda, seperti ritel fesyen, lifestyle, elektronik, maupun barang konsumsi non-primer.

"Emiten yang paling sensitif terhadap pelemahan IKK adalah emiten yang memiliki eksposur besar terhadap konsumsi discretionary dan ritel. Contohnya seperti sektor ritel, restoran, department store, maupun barang konsumsi sekunder," ujarnya.

Sementara itu, emiten consumer staples seperti produsen makanan, minuman, dan kebutuhan rumah tangga biasanya lebih defensif karena permintaannya relatif lebih stabil.

Namun tetap perlu diperhatikan tekanan dari sisi margin apabila terjadi kenaikan biaya bahan baku atau pelemahan daya beli yang membuat konsumen melakukan downtrading ke produk yang lebih murah.

Baca Juga: IHSG Berpeluang Lanjut Menguat, Cermati Saham Rekomendasi Analis, Kamis (5/2)

Investor sebaiknya tidak hanya melihat penurunan IKK sebagai sinyal negatif, tetapi menjadikannya sebagai bahan evaluasi terhadap sektor yang dipilih. 

Dalam kondisi seperti ini, investor bisa lebih selektif dengan mengutamakan emiten yang memiliki fundamental kuat, neraca sehat, arus kas baik, serta memiliki kemampuan mempertahankan margin. 

Selain itu, investor juga dapat memperhatikan valuasi. Jika sentimen negatif membuat saham terkoreksi cukup dalam sementara fundamental perusahaan masih terjaga, kondisi tersebut justru dapat menjadi peluang akumulasi secara bertahap.

Rekomendasi Saham

Untuk saat ini Elandry melihat sektor consumer sebagai sektor yang perlu dipilih secara selektif. Emiten dengan karakter defensif masih menarik untuk diperhatikan, terutama yang memiliki brand kuat, pangsa pasar besar, dan histori kinerja yang konsisten. 

Investor dapat mencermati saham seperti ICBP dan MYOR di sektor consumer staples karena memiliki fundamental yang relatif kuat. Untuk sektor ritel, investor perlu lebih berhati-hati karena sangat bergantung pada pemulihan daya beli masyarakat. 

Terkait target harga, Elandry merekomendasikan saham ICBP di target Rp 8.000-Rp 9.000. Emiten ini didukung bisnis consumer staples, brand kuat, dan permintaan yang relatif stabil.

 

Lalu, MYOR target harga Rp 2.000-Rp 2.500. Emiten produsen Kopiko ini berpotensi mendapat katalis dari perbaikan margin dan konsumsi mass market.

Baca Juga: IHSG Berpeluang Lanjut Reli, Cermati Saham Rekomendasi Analis, Rabu (17/6)

Selanjutnya, KLBF memiliki target harga di level Rp1000-Rp 1.500, saham ini menjadi pilihan karena lebih defensif karena bergerak di sektor kesehatan, serta MAPI berada di target harga Rp1.700–Rp 1.900 lantaran menarik jika ada pemulihan daya beli, namun lebih sensitif terhadap pelemahan konsumsi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×