kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.917.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.789   -61,00   -0,36%
  • IDX 8.975   24,32   0,27%
  • KOMPAS100 1.244   9,59   0,78%
  • LQ45 882   8,84   1,01%
  • ISSI 330   0,91   0,28%
  • IDX30 451   1,60   0,36%
  • IDXHIDIV20 533   1,62   0,31%
  • IDX80 138   1,09   0,79%
  • IDXV30 147   -0,35   -0,24%
  • IDXQ30 145   0,87   0,61%

Indeks ESG Berpeluang Pulih Bertahap pada 2026, Simak Rekomendasi Analis Berikut


Senin, 26 Januari 2026 / 18:16 WIB
Indeks ESG Berpeluang Pulih Bertahap pada 2026, Simak Rekomendasi Analis Berikut
ILUSTRASI. Kinerja indeks ESG diperkirakan melonjak di 2026 setelah pertumbuhan terbatas 2025. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja indeks berbasis keberlanjutan atau Environmental, Social, and Governance (ESG) diperkirakan akan membaik pada 2026 setelah mencatatkan pertumbuhan terbatas di kisaran 2%–2,6% sepanjang 2025. Meski belum memasuki fase reli agresif, indeks ESG dinilai berpotensi memasuki periode pemulihan bertahap seiring mulai terealisasinya proyek-proyek transisi energi dan lingkungan yang berdampak langsung pada kinerja emiten.

Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata mengatakan, prospek indeks ESG seperti IDX ESG Leaders, SRI-KEHATI, dan ESG Sector Leaders IDX KEHATI pada 2026 cenderung lebih konstruktif dibanding tahun sebelumnya.

“Setelah kinerja 2025 yang relatif terbatas, tahun 2026 berpotensi menjadi fase pemulihan bertahap seiring mulai terealisasinya proyek ESG yang bersifat operasional, bukan lagi sekadar komitmen kebijakan,” ujar Liza kepada Kontan, Senin (26/1/2026).

Baca Juga: Pengumuman MSCI Berpotensi Picu Arus Dana Asing Keluar, Ini Respons BEI

Ia menilai, struktur indeks ESG di Indonesia yang didominasi saham berkapitalisasi besar dan defensif membuat kinerjanya relatif stabil. Namun, ruang kenaikan akan sangat bergantung pada realisasi proyek lingkungan dan transisi energi yang mampu mendorong pertumbuhan keuangan emiten secara nyata.

Dari sisi katalis, Liza melihat akselerasi proyek hilirisasi dan transisi energi yang dikelola Danantara menjadi motor utama penguatan indeks ESG pada 2026. Beberapa proyek strategis yang disorot antara lain Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) serta gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME).

“Proyek PSEL memperkuat pilar environmental dan social melalui pengurangan timbunan sampah, penurunan emisi, serta penyediaan energi alternatif di wilayah urban. Sementara proyek DME berada dalam kerangka transition energy untuk menekan impor LPG dan meningkatkan ketahanan energi nasional,” jelasnya.

Menurut Liza, keterlibatan Danantara juga meningkatkan kredibilitas tata kelola proyek, yang menjadi faktor penting dalam penilaian ESG dan minat investor terhadap emiten terkait.

Terkait saham penopang indeks ESG ke depan, Liza menilai peluang paling realistis datang dari emiten yang memiliki model bisnis inti di sektor pengelolaan lingkungan dan energi terbarukan. Di antaranya adalah Multi Hanna Kreasindo (MHKI) di sisi waste management, serta Barito Renewables Energy (BREN), Arkora Hydro (ARKO), dan Kencana Energi Lestari (KEEN) di sektor energi hijau.

Baca Juga: Pemerintah Siapkan 8 Seri SBN Ritel 2026, Segini Targetnya

Sementara Maharaksa Biru Energi (OASA) dan Hero Global Investment (HGII) dinilai masih relevan secara tema ESG, namun peluang masuk ke indeks utama tetap bergantung pada konsistensi pendapatan hijau, skala kapitalisasi, likuiditas saham, serta kualitas tata kelola perusahaan.

“Tidak semua saham hijau otomatis berpeluang masuk indeks ESG. Seleksi indeks 2026 akan tetap menitikberatkan pada dampak ESG yang terukur, fundamental keuangan yang berkelanjutan, serta kelayakan pasar, bukan sekadar narasi transisi energi,” tegas Liza.

Selain itu, saham sektor utilitas dan energi yang terhubung langsung dengan agenda transisi energi juga dinilai tetap relevan sebagai konstituen ESG. Di antaranya PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) yang berperan dalam efisiensi emisi dan infrastruktur energi nasional, serta PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) sebagai emiten energi terbarukan murni dengan kontribusi kuat pada pilar environmental.

Ke depan, Liza menilai pergerakan indeks ESG akan semakin mencerminkan kualitas implementasi proyek keberlanjutan yang berdampak langsung terhadap profitabilitas emiten, bukan hanya kepatuhan administratif terhadap standar ESG.

Selanjutnya: OJK: Daya Beli Melemah, Kredit UMKM Masih Melambat hingga Akhir 2025

Menarik Dibaca: Awas Hujan Ekstrem di Sini, Cek Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (27/1) Jabodetabek

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×