Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan mata uang Asia masih cenderung bervariasi di tengah indeks dolar Amerika Serikat (AS) atau DXY yang tertahan di bawah level 100.
Melansir Trading Economics pada Selasa (18/8/2026) pukul 16.12 WIB, yen Jepang berada di level 159,6 per dolar AS melemah 0,24% dalam sepekan. Valas yen China tercatat berada di level 6,7 per dolar AS atau sedikit menguat 0,01% dalam sepekan, serta won Korea juga tercatat melemah 0,34% dalam tujuh hari terakhir menjadi 1.412,79 per dolar AS.
Sementara nilai tukar rupiah di pasar spot terus tertekan hingga akhir perdagangan hari ini. Selasa (18/8), rupiah spot ditutup di level Rp 17.862 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah melemah 0,26% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.798 per dolar AS.
Baca Juga: Investasi Emas Kini Bisa Mulai 0,1 Miligram, Ini Produk ETF Emas dari Indo Premier
Ada pun demikian, saat ini indeks dolar AS (DXY) berada di level 99,6 atau melemah 0,24% dalam tujuh hari terakhir.
Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, mengatakan pelemahan DXY di bawah level 100 memang memberikan ruang bagi mata uang Asia untuk menguat. Namun, penguatan tersebut belum terjadi secara merata.
"Pasar masih sangat sensitif terhadap arah kebijakan The Fed, terutama ekspektasi pemangkasan suku bunga, data inflasi AS, serta perkembangan pasar tenaga kerja AS," ujar Geraldo, Jumat (14/8/2026).
Menurut dia, pergerakan mata uang Asia saat ini tidak hanya ditentukan oleh posisi DXY. Pasar juga mencermati seberapa cepat ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed terbentuk dibandingkan dengan arah kebijakan bank sentral masing-masing negara Asia.
Selain itu, faktor geopolitik dan harga energi juga menjadi sentimen penting. Ketidakpastian di Timur Tengah serta kenaikan harga minyak dapat kembali mendorong permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS dan memberikan tekanan terhadap mata uang emerging market.
Geraldo melihat perbedaan kinerja antara yen Jepang, won Korea Selatan, rupiah dan yuan China terutama disebabkan oleh faktor domestik masing-masing negara.
Untuk yen, tekanan terutama berasal dari selisih suku bunga atau interest rate differential yang masih lebar dengan AS. Meskipun Bank of Japan (BOJ) telah menaikkan suku bunga hingga 1% dan membuka peluang kenaikan berikutnya, pasar masih menilai normalisasi kebijakan BOJ berjalan relatif gradual.
Baca Juga: Saham KIJA Melonjak 34%, Sucor Sekuritas Masih Melihat Ruang Naik Menuju Rp 250
Di sisi lain, level yen yang sudah sangat lemah meningkatkan risiko intervensi pemerintah Jepang. Karena itu, Geraldo menilai yen sudah berada pada level yang relatif murah secara fundamental, meski belum tentu langsung berbalik menguat secara agresif.
"Yen lebih jelas menunjukkan karakteristik undervalued, tetapi untuk rupiah saya lebih berhati-hati," katanya.
Sementara itu, tekanan terhadap KRW lebih banyak berasal dari arus modal dan sensitivitas won terhadap pergerakan pasar saham serta sektor teknologi. Volatilitas KRW juga relatif tinggi karena dipengaruhi oleh arus dana asing di pasar ekuitas Korea Selatan.
Ada pun rupiah memiliki sejumlah faktor domestik tambahan, seperti persepsi terhadap kebijakan fiskal dan moneter, kebutuhan dolar AS korporasi, arus modal asing, serta kredibilitas stabilisasi nilai tukar.
Dengan demikian, meskipun DXY melemah, rupiah belum tentu otomatis menguat secara signifikan. Geraldo menilai rupiah memang sudah berada di level yang relatif murah secara historis, tetapi belum dapat disebut undervalued sepenuhnya karena faktor fundamental dan arus modal domestik masih menjadi hambatan.
Berbeda dengan mata uang tersebut, yuan China cenderung lebih kuat. Menurut Geraldo, kondisi ini ditopang oleh surplus transaksi berjalan China yang besar, aliran ekspor yang kuat, serta kebijakan People's Bank of China (PBoC) yang belum menunjukkan keinginan untuk mendorong depresiasi yuan secara agresif.
Ke depan, Geraldo mengatakan investor valas Asia perlu mencermati setidaknya lima indikator utama. Pertama, data inflasi AS dan Non-Farm Payrolls (NFP) yang akan menentukan ekspektasi terhadap suku bunga The Fed.
Kedua, pergerakan imbal hasil atau yield US Treasury, terutama tenor dua tahun yang sensitif terhadap ekspektasi kebijakan The Fed.
Ketiga, pergerakan DXY, khususnya apakah indeks dolar mampu kembali menembus level 100 atau justru melanjutkan tren pelemahan.
Baca Juga: Harga Minyak Mentah Kembali Memanas, Rupiah Melemah ke Rp 17.862 per Dolar AS
Keempat, kebijakan BOJ, PBoC, Bank of Korea dan Bank Indonesia, termasuk komunikasi mengenai intervensi maupun stabilisasi mata uang.
Kelima, harga minyak dan perkembangan geopolitik yang dapat memengaruhi permintaan terhadap dolar AS serta mata uang Asia.
Untuk akhir 2026, Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, memproyeksikan nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang Asia sebagai berikut: USD/JPY di level 155-165, USD/IDR bakal bertengger di Rp 17.500-Rp 18.000, USD/CNY bisa bergerak di kisaran 6,68-6,90, dan USD/KRW diproyeksi berada di level 1.350-1.450.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
