kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.695.000   18.000   0,67%
  • USD/IDR 17.887   62,00   0,35%
  • IDX 6.450   47,94   0,75%
  • KOMPAS100 831   1,62   0,20%
  • LQ45 631   -1,25   -0,20%
  • ISSI 227   4,63   2,08%
  • IDX30 352   -1,25   -0,35%
  • IDXHIDIV20 429   -1,46   -0,34%
  • IDX80 95   0,08   0,09%
  • IDXV30 119   0,94   0,79%
  • IDXQ30 112   -0,32   -0,28%

Saham KIJA Melonjak 34%, Sucor Sekuritas Masih Melihat Ruang Naik Menuju Rp 250


Selasa, 18 Agustus 2026 / 16:23 WIB
Saham KIJA Melonjak 34%, Sucor Sekuritas Masih Melihat Ruang Naik Menuju Rp 250
ILUSTRASI. Kawasan Ekonomi Khusus Kendal (DOK/KEK Kendal)


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) pada kuartal II-2026  tertekan cukup dalam. Perusahaan ini membukukan rugi bersih Rp 236 miliar, sementara pendapatan pada periode tersebut turun 13% secara tahunan  menjadi sekitar Rp 1,2 triliun.

Namun, tekanan tersebut dinilai belum mencerminkan pelemahan fundamental KIJA secara keseluruhan. Cheryl Jennifer Wang Analis Sucor Sekuritas menilai penurunan kinerja lebih banyak dipengaruhi oleh faktor sementara, terutama timing penyerahan lahan industri dan lonjakan beban non-operasional serta biaya terkait restrukturisasi utang.

Dalam risetnya pada 3 Agustus 2026 Sucor Sekuritas mencatat total beban non-operasional KIJA pada semester I-2026 mencapai Rp 444 miliar. Beban tersebut antara lain berasal dari rugi selisih kurs sebesar Rp 264 miliar serta biaya penghentian derivatif dan amortisasi dipercepat sebesar Rp 155 miliar terkait pelunasan Senior Notes.

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Kembali Memanas, Rupiah Melemah ke Rp 17.862 per Dolar AS

Jika berbagai pos non-operasional tersebut dikeluarkan, kinerja laba bersih operasional atau underlying PATMI KIJA pada semester I-2026 sebenarnya masih berada di zona positif.

Di tengah tekanan laba, aktivitas penjualan lahan KIJA justru mulai menunjukkan perbaikan. Sepanjang semester I-2026, perusahaan ini mencatat marketing sales Rp 1,19 triliun, setara 32% dari target setahun penuh 2026 sebesar Rp 3,75 triliun.

Momentum tersebut semakin terlihat pada kuartal II-2026. KIJA membukukan marketing sales Rp 648 miliar pada periode tersebut, dengan total lahan terjual mencapai 51 hektare. Penjualan terutama berasal dari kawasan industri Kendal, sementara sisanya berasal dari Cikarang.

Sucor Sekuritas melihat prospek semester II-2026 masih cukup menjanjikan. Perseroan memiliki pipeline sekitar 42 hektare lahan di Cikarang dan Kendal yang berpotensi menopang akselerasi penjualan hingga akhir tahun.

Dengan demikian, pelemahan kinerja pada paruh pertama tahun ini dinilai lebih mencerminkan masalah timing daripada perubahan struktural terhadap permintaan kawasan industri.

Selain penjualan lahan, bisnis infrastruktur juga memberikan sinyal positif. Pendapatan segmen infrastruktur tumbuh 15% secara year on year (yoy) sehingga kontribusinya terhadap pendapatan berulang (recurring revenue) semakin besar.

Meski demikian, kualitas laba masih menghadapi tekanan dari bisnis ketenagalistrikan (power). Margin kotor segmen tersebut anjlok menjadi hanya 2% pada semester I-2026, dari sebelumnya 22%.

Sucor Sekuritas menyebut penurunan tersebut terutama disebabkan perselisihan penagihan (billing dispute) dengan PLN yang menunda pengakuan pendapatan. Perselisihan ini diperkirakan dapat terselesaikan pada kuartal III-2026, sehingga terdapat peluang bagi margin segmen power untuk kembali normal.

Baca Juga: Laba Avian Brands (AVIA) Tumbuh 20,7%, Tetap Ngebut Meski Harga Cat Naik 2 Kali

Di sisi arus kas, KIJA masih menghadapi tantangan. Arus kas operasional turun menjadi sekitar Rp 300 miliar dan arus kas bebas alias free cash flow (FCF) berada di posisi negatif. Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan net gearing menjadi 21%, dari sebelumnya 12%.

Dengan mempertimbangkan tekanan kinerja dan biaya pendanaan, Cheryl memangkas proyeksi laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk (PATMI) KIJA menjadi Rp 203 miliar pada 2026 dan Rp 362 miliar pada 2027.

Angka tersebut berarti laba bersih 2026 diperkirakan turun 52% dari Rp 423 miliar pada 2025. Namun, pada 2027 laba diproyeksikan kembali tumbuh 78% menjadi Rp 362 miliar.

Proyeksi pendapatan juga menunjukkan pertumbuhan yang relatif terbatas. Pendapatan KIJA diperkirakan mencapai Rp 5,277 triliun pada 2026, dibandingkan Rp 5,149 triliun pada 2025, sebelum sedikit turun menjadi Rp 5,113 triliun pada 2028.

Sementara itu, proyeksi laba per saham alias earnings per share (EPS) Sucor Sekuritas berada di Rp 10 untuk 2026, Rp 17 pada 2027, dan Rp 19 pada 2028. Sebagai perbandingan, EPS 2025 berada di sekitar Rp 20 per saham.

Kendati memangkas proyeksi laba dan target harga, Sucor Sekuritas masih mempertahankan rekomendasi buy untuk saham KIJA.

Target harga ditetapkan di Rp 250 per saham dengan metode sum-of-the-parts (SOTP). Harga saham KIJA naik 34,96% di Rp 166 per saham pada Selasa (18/8/2026).

Sucor menilai valuasi KIJA masih tergolong murah atau undervalued, terutama jika dilihat dari rasio price-to-book value (P/BV). Normalisasi margin bisnis power, penyelesaian persoalan penagihan dengan PLN, serta membaiknya profil risiko utang menjadi sejumlah katalis yang dapat mendukung pemulihan kinerja.

Baca Juga: Prabowo Minta BEI Harus Naik Kelas Jadi Bursa Dunia, Ini PR Besar yang Harus Dibenahi

Adapun risiko utama yang perlu dicermati investor mencakup potensi keterlambatan transaksi maupun penyerahan lahan, margin segmen power yang tetap lemah lebih lama dari perkiraan, serta kemungkinan berlanjutnya pelemahan arus kas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×