Reporter: Danielisa Putriadita | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Efek negatif pandemi corona juga menekan kinerja reksadana pendapatan tetap yang memiliki aset di pasar obligasi. Namun, analis menilai pasar obligasi bisa cepat pulih bila pandemi corona bisa teratasi.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, kepemilikan asing di Surat Berharga Negara menurun Rp 117 triliun dari akhir Februari menjadi Rp 931,63 triliun di Jumat (27/3).
Baca Juga: Wow, sudah ada 53 produk reksadana anyar yang diterbitkan sepanjang 2020
Derasnya aliran dana yang keluar dari pasar obligasi dalam negeri juga mempengaruhi harga Surat Utang Negara (SUN) terkoreksi. Hal ini terlihat dari yield SUN tenor acuan 10 tahun yang cenderung naik hingga sentuh rekor tertinggi ke level 8,3% pada Selasa (24/3). Namun, Senin (30/3) yield bergerak turun ke level 7,8%.
Pasar obligasi yang ikut terkoreksi juga akhirnya membuat kinerja reksadana pendapatan tetap yang tercermin dalam Infovesta Fixed Income Fund Index dalam satu bulan terakhir per Jumat (27/3) terkoreksi 4,3%.
Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management (HPAM) Reza Fahmi mengatakan pandemi corona membuat investor asing keluar dari pasar obligasi. Imbasnya, nilai tukar rupiah juga sempat melemah ke Rp 16.500 per dollar AS dan kinerja reksadana berbasis SUN ikut terkoreksi.
Namun, Reza menilai prospek kinerja di reksadana pendapatan tetap masih cukup menjanjikan saat kondisi pasar keuangan sedang serba tidak pasti. Optimisme Reza muncul karena melihat tingkat yield SUN Indonesia cukup tinggi dibandingkan negara emerging market yang memiliki rating investment grade.
"Kami melihat dari akhir bulan ini hingga akhir tahun ada potensi imbal hasil lebih dari 10% di pasar obligasi, terutama jika pandemi corona berakhir dan rupiah menguat," kata Reza, Jumat (27/3).
Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana juga mengatakan sejak awal tahun kinerja reksadana pendapatan tetap masih bisa tumbuh mengungguli instrumen reksadana jenis lain. Tercatat, secara rata-rata dalam setahun terakhir hingga Jumat (27/3), kinerja reksadana pendapatan tetap tumbuh 3,37%.
Bahkan, Wawan optimistis jika gelombang kepanikan investor asing yang menjual kepemilikan SUN selesai, maka pasar obligasi dan kinerja reksadana pendapatan tetap akan lebih cepat rebound daripada pasar saham.
"Ketika pandemi corona mereda, pelaku pasar akan memperhatikan dampaknya ke ekonomi, pendapatan perusahaan pasti akan menurun, harga saham sulit balik ke level 6.300, sementara fundamental pasar obligasi kembali pelaku pasar lihat seperti tren penurunan suku bunga yang menguntungkan reksadana pendapatan tetap," kata Wawan.
Hingga akhir tahun, Wawan memproyeksikan rata-rata imbal hasil reksadana pendapatan tetap di 7%-8%.
Untuk mencapai kinerja optimal, Wawan mengatakan SUN dengan tenor menengah panjang jadi menarik untuk dimiliki dalam aset reksadana pendapatan tetap. "Secara umum, lebih baik alokasi aset ke reksadana menengah panjang 50%, tenor pendek 30% dan tenor panjang 20%," kata Wawan.
Baca Juga: Anargya Aset Manajemen lucurkan produk reksadana saham dan pendapatan tetap anyar
Kompak, strategi pengelolaan reksadana pendapatan tetap milik Reza juga berkonsentrasi pada SUN dengan tenor 5,7, dan 10 tahun. "Tenor menengah panjang memiliki volatilitas dan risiko dari BI rate yang lebih kecil dibanding pada tenor lebih dari 10 tahun," kata Reza.
Dengan prospek kinerja yang masih menarik, Reza menyarankan investor tetap disiplin menambah investasi (top up) di reksadana pendapatan tetap, terutama yang memiliki aset dasar SUN. Reza memfavoritkan SUN karena risiko likuiditas sangat rendah dan dijamin oleh negara.
Senada, Wawan mengatakan SUN lebih aman daripada obligasi korporasi yang memiliki risiko gagal bayar lebih tinggi saat perlambatan ekonomi mengancam.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)