Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan jual masih membayangi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga akhir pekan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah 3,09% sepanjang perdagangan pekan ini.
Pada perdagangan Jumat (25/9/2026), IHSG ditutup turun 56,71 poin atau 0,90% ke level 6.241,89. Secara akumulatif, IHSG terkoreksi 3,09% dalam sepekan.
Pada perdagangan hari ini, sebanyak 118 saham tercatat naik, 558 saham turun, dan 117 saham stagnan.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, tekanan jual masih mendominasi pergerakan IHSG sepanjang pekan ini.
Menurut Herditya, terdapat tiga sentimen utama yang menekan pergerakan IHSG sepanjang pekan ini.
Pertama, kenaikan suku bunga acuan The Fed ke level 4% yang mendorong kenaikan yield US Treasury (UST) 10 tahun hingga berada di atas 5%.
Baca Juga: Harga Emas Masih dalam Tren Turun, Analis Ingatkan Investor Belum Aman untuk All-in
“Hal ini turut menguatkan indeks dolar Amerika Serikat (AS) dan membuat aliran dana keluar dari emerging market,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (25/9/2026).
Kedua, pelemahan nilai tukar rupiah yang saat ini berada di level Rp 17.942 per dolar AS.
Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi capital outflow sekaligus memberikan tekanan terhadap pasar surat berharga negara (SBN).
Ketiga, pergerakan harga minyak mentah yang masih menjadi salah satu sentimen negatif bagi pasar saham.
“Saat ini, harganya berada di atas US$ 100 per barel dan akan meningkatkan kekhawatiran inflasi energi global,” paparnya.
Prospek IHSG Pekan Depan
Untuk perdagangan Senin (28/9/2026), Herditya memproyeksikan IHSG masih rawan melanjutkan koreksi. IHSG diperkirakan memiliki level support di 6.186 dan resistance di 6.297.
Menurut Herditya, setidaknya terdapat tiga sentimen yang perlu dicermati investor pada perdagangan pekan depan.
Pertama, pasar akan mencermati pergerakan nilai tukar rupiah yang mulai mendekati level Rp 18.000 per dolar AS. Kondisi tersebut juga membuat pelaku pasar menantikan kemungkinan intervensi Bank Indonesia (BI) ke depan.
Baca Juga: OJK Bertemu Menkeu Suahasil Bahas Insentif di Pasar Modal, Ini Usulannya
Kedua, pasar akan mencermati pergerakan yield UST yang saat ini sudah berada di atas 5% untuk tenor 10 tahun. Menurut Herditya, kondisi tersebut berpotensi menjadi tekanan bagi pasar negara berkembang.
Ketiga, pelaku pasar akan mencermati implementasi kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait batas minimum harga saham Rp 1 per saham.
“Kebijakan ini akan berpengaruh pada peningkatan volatilitas pada emiten-emiten dengan saham di Rp 50,” ungkapnya.
Di tengah kondisi pasar yang masih berisiko terkoreksi, Herditya menyarankan investor mencermati sejumlah saham.
Adapun saham yang direkomendasikan antara lain COIN dengan target harga Rp 915-Rp 965 per saham, INDF dengan target Rp 7.000-Rp 7.225 per saham, serta HMSP dengan target Rp 660-Rp 700 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














