kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

IHSG rawan profit taking setelah melonjak di pekan lalu


Minggu, 06 Januari 2019 / 16:17 WIB
ILUSTRASI. IHSG Bursa Efek Indonesia


Reporter: Intan Nirmala Sari | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam sepekan depan diyakini masih akan menguat. Hal ini didukung berbagai sentimen positif baik dari dalam, maupun luar negeri.

Jumat (4/1), IHSG menguat 0,86% ke level 6.274 dan menguat 1,29% dalam sepekan. Meskipun sepekan depan IHSG diprediksi menguat pada rentang 6.175 hingga 6.350, perdagangan Senin (7/1) masih rawan akan aksi profit taking. "Perkiraannya koreksi ke kisaran 6.250," kata Analis Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan kepada Kontan, Jumat (4/1).

Secara teknikal, stochastic menunjukkan IHSG sudah sangat overbought. Untuk jangka pendek, dia merekomendasikan jual, sedangkan untuk jangka panjang IHSG masih dalam trend bullish.

"Sentimennya baik dari domestik dan eksternal sama besarnya. Secara teknikal, indikator sudah menunjukkan overbought, ditambah ada penurunan volume transaksi," ujarnya.

Mengacu dengan kondisi tersebut, umumnya kondisi pasar modal akan dibayangi aksi profit taking. Sedangkan secara sentimen jangka panjang masih positif, didukung rencana Amerika Serikat (AS) bertemu dengan China untuk membahas kebijakan perdagangan kedua negara tersebut.

Sedangkan sentimen dari dalam negeri, investor cukup optimis dengan kinerja keuangan emiten di kuartal IV 2018. Beberapa emiten konstruksi sudah mengumumkan perolehan kontrak baru, yang umumnya berhasil mencapai target revisi mereka.

"Selain itu, inflasi Desember juga naik cukup tinggi. Hal ini mengindikasikan konsumsi masyarakat masih cukup tinggi ditengah isu-isu penurunan daya beli, perlambatan pertumbuhan ekonomi dan lainnya," ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×