kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.880.000   90.000   3,23%
  • USD/IDR 16.850   -59,00   -0,35%
  • IDX 8.951   -41,17   -0,46%
  • KOMPAS100 1.235   -4,75   -0,38%
  • LQ45 874   -1,52   -0,17%
  • ISSI 329   -0,59   -0,18%
  • IDX30 449   0,67   0,15%
  • IDXHIDIV20 532   3,66   0,69%
  • IDX80 137   -0,49   -0,35%
  • IDXV30 148   1,36   0,93%
  • IDXQ30 144   0,72   0,50%

IHSG Melemah 1,37% Selama Sepekan, Ini Sentimen Pemberatnya


Jumat, 23 Januari 2026 / 19:25 WIB
IHSG Melemah 1,37% Selama Sepekan, Ini Sentimen Pemberatnya
ILUSTRASI. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 41 poin atau 0,46% ke level 8.951,01 pada penutupan perdagangan Jumat (23/1/2026).  (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup di zona merah pada perdagangan akhir pekan ini, Jumat (23/1/2026). 

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG turun 41 poin atau 0,46% ke level 8.951,01 pada penutupan perdagangan Jumat (23/1/2026). Secara mingguan, IHSG terkoreksi 1,37%.

Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai, pelemahan IHSG dalam sepekan terakhir terjadi seiring dengan meningkatnya tekanan jual di pasar.

Baca Juga: IHSG Merosot 0,46% ke 8.951, Top Losers LQ45: AMMN, BRPT dan GOTO, Jumat (23/1)

Menurutnya, pergerakan IHSG dipengaruhi sejumlah sentimen eksternal dan domestik. Dari sisi global, salah satu faktor penekan berasal dari memanasnya tensi geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Greenland. Serta ancaman pengenaan tarif impor terhadap negara-negara Eropa yang menentang rencana tersebut.

Kendati begitu, sentimen tersebut dinilai sudah mulai mereda saat ini.

“Dalam kondisi ketidakpastian seperti ini, investor cenderung bersikap wait and see dan mengalihkan dana ke aset berisiko rendah, seperti emas. Ini turut mendorong harga emas dunia menguat hingga mencetak rekor tertinggi baru (all time high),” kata Herditya kepada Kontan, Jumat (23/1/2026).

Selain itu, sentimen negatif juga datang dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Tekanan pada rupiah dipicu kekhawatiran pasar terhadap defisit fiskal Indonesia yang mendekati 3%.

Baca Juga: Rupiah Rebound pada Akhir Pekan, Pekan Depan Masih Dibayangi Tekanan Global

Di sisi lain, kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) masih menjadi perhatian investor, terutama terkait arah pelonggaran kebijakan ke depan serta rencana pergantian Gubernur The Fed. 

Tak kalah penting, koreksi pada saham-saham konglomerasi juga turut membebani IHSG. Koreksi ini dipicu oleh antisipasi perubahan metodologi MSCI yang dikhawatirkan dapat memicu arus keluar dana asing atau outflow dari pasar saham domestik.

Perubahan Hitungan Free Float MSCI

Pengamat pasar modal sekaligus founder Republik Investor, Hendra Wardana mengamini pergerakan IHSG selama sepekan dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik. 

Di tingkat global, keputusan Bank of Japan yang mempertahankan suku bunga, ekspektasi arah kebijakan The Fed, serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi perhatian utama pelaku pasar. 

"Kenaikan harga emas dan logam mulia mencerminkan meningkatnya preferensi investor global terhadap aset lindung nilai," tambah Herditya.

Di dalam negeri, pasar juga mencermati potensi perubahan metode perhitungan free float oleh MSCI yang berisiko mendorong penyesuaian portofolio investor asing. Walaupun nilai tukar rupiah menguat ke kisaran Rp 16.800 per dolar AS, penguatan tersebut belum cukup kuat untuk mendorong penguatan indeks secara signifikan.

Baca Juga: Dibayangi Ketakutan Bubble AI Global, Intip Prospek Saham Teknologi Indonesia di 2026

Secara sektoral, tekanan paling besar terjadi pada sektor konsumer primer yang tertekan oleh kekhawatiran terhadap daya beli dan normalisasi pola konsumsi. 

Sebaliknya, sektor kesehatan justru mencatatkan penguatan dan menjadi penopang indeks, mencerminkan minat investor pada sektor yang relatif defensif di tengah ketidakpastian global. 

Saham-saham berbasis komoditas mulai kembali menjadi magnet utama pasar seiring lonjakan harga emas, penguatan harga minyak, serta rebound harga nikel yang mencerminkan perbaikan sentimen terhadap sektor tambang dan energi.

Selanjutnya: BMW Resmikan Diler Baru di Mampang Berkonsep Retail Next, Investasi Rp 185 miliar

Menarik Dibaca: Ternyata Ini 6 Alasan Sering Lapar saat Cuaca Dingin, Apa Saja ya?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×