kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.664.000   -36.000   -1,33%
  • USD/IDR 17.842   -48,00   -0,27%
  • IDX 6.402   100,12   1,59%
  • KOMPAS100 829   5,89   0,72%
  • LQ45 632   5,12   0,82%
  • ISSI 223   5,51   2,54%
  • IDX30 354   2,79   0,80%
  • IDXHIDIV20 430   2,74   0,64%
  • IDX80 95   0,68   0,73%
  • IDXV30 119   1,18   1,00%
  • IDXQ30 112   0,79   0,71%

Persoalan Likuiditas Jadi Masalah Utama GOTO, Analis Sarankan Reverse Stock Split


Jumat, 14 Agustus 2026 / 19:58 WIB
Persoalan Likuiditas Jadi Masalah Utama GOTO, Analis Sarankan Reverse Stock Split
ILUSTRASI. Ojek Online Mengangkut Penumpang (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) resmi mengeluarkan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dari MSCI Global Standard Indexes.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, mengatakan keputusan MSCI mengeluarkan GOTO dari Global Standard Index menghilangkan potensi katalis re-rating bagi saham tersebut. 

Ia menegaskan, GOTO perlu menyelesaikan persoalan likuiditas terlebih dahulu sebelum berpeluang kembali masuk (re-inclusion) ke dalam indeks, dan proses tersebut diperkirakan tidak akan berlangsung cepat.

Baca Juga: Saham GOTO Tertahan di Rp 50 Usai Keluar MSCI, Ada Tiga Katalis Penyelamat

"Minat institusional makin terbatas karena banyak fund dengan mandat berbasis MSCI-tracking yang tidak bisa menahan saham yang bukan lagi konstituen indeks," kata Wafi, kepada Kontan, Jumat (14/8/2026).

Liquidity Trap 

Terkait harga saham GOTO yang masih bertahan di level Rp 50 meski perseroan telah membukukan laba, Wafi menyoroti adanya disparitas harga antara pasar nego dan pasar reguler, di mana transaksi di pasar nego tercatat di level Rp30 per saham sejak awal Agustus 2026, jauh di bawah harga pasar reguler.

Wafi menilai kondisi ini merupakan liquidity trap yang semakin dalam. Menurutnya, perbedaan harga antara pasar nego dan reguler menjadi sinyal bahwa permintaan terhadap saham tersebut sangat terbatas, sehingga penjual yang membutuhkan exit cepat terpaksa menerima diskon signifikan dari harga Rp50.

"Pasar reguler dengan volume offer yang hanya berkisar ratusan juta rupiah membuat sulit bagi investor untuk keluar dari posisi dalam jumlah besar (large position). Pasar negosiasi pun menjadi alternatif, namun dengan opportunity cost yang harus diterima," jelasnya.

Wafi menambahkan, tanpa adanya aksi korporasi seperti reverse stock split atau langkah company action lainnya, kondisi liquidity trap ini berpotensi terus bertahan.

Wafi juga menyarankan agar regulator dapat memfasilitasi opsi reverse stock split atau meninjau ulang mekanisme trading khusus untuk kasus semacam ini. 

Namun, ia mengingatkan bahwa intervensi yang terlalu jauh, seperti dukungan harga secara artifisial (artificial price support), justru bersifat kontraproduktif dan bertentangan dengan prinsip pasar yang tengah direformasi menuju price discovery yang sehat.

Baca Juga: Bursa Mineral & Komoditas Mulai Beroperasi 1 Januari 2027, OJK Siapkan Aturan Turunan

"Saran paling prudent adalah mendorong solusi di level perusahaan seperti reverse stock split, dibandingkan intervensi regulasi yang lebih invasif," ujar Wafi.

Mengenai katalis yang realistis untuk mengembalikan daya tarik saham GOTO di mata investor sekaligus memperbaiki likuiditas perdagangannya, Wafi menyebut reverse stock split sebagai opsi yang paling mungkin ditempuh. Langkah ini dinilai dapat memulihkan eligibility GOTO untuk kembali masuk MSCI jika metrik likuiditas mengalami perbaikan.

Selain itu, Wafi menyoroti pentingnya kelanjutan pencapaian kinerja laba (continued earnings delivery) yang secara genuine mengonfirmasi narasi turnaround perusahaan, serta resolusi terhadap overhang regulasi lain, termasuk dampak Peraturan Presiden (Perpres) 27/2026 terhadap sektor mobility.

"Tanpa kombinasi antara fundamental delivery dan technical fix, likelihood GOTO kembali menarik dalam waktu dekat cukup rendah, mengingat tingkat keparahan dari isu likuiditas yang semakin dikonfirmasi melalui eksklusi resmi MSCI ini," terang Wafi.

Secara terpisah, Co-Founder Alphagate Capital dan Former Chief Indonesia Strategist of J.P. Morgan Henry WIbowo juga memperkirakan tekanan jual terhadap saham GOTO berpotensi meningkat setelah pengumuman dikeluarkannya GOTO dari indeks MSCI Indonesia. Namun, saat ini harga saham GOTO masih bertahan di batas harga minimum Rp 50 per saham.

Situasinya menjadi cukup kompleks karena berdasarkan ketentuan yang berlaku, harga saham di pasar reguler tidak dapat turun di bawah Rp50. Di sisi lain, Henry mulai melihat transaksi di pasar negosiasi terjadi pada kisaran Rp30–Rp 45 per saham. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan antara harga di pasar reguler dan tingkat harga yang terbentuk melalui mekanisme negosiasi.

"Menurut kami, penting bagi GOTO dan regulator untuk mencari mekanisme yang dapat memberikan solusi bagi seluruh pemangku kepentingan, sekaligus memungkinkan proses price discovery yang lebih baik dan meningkatkan likuiditas saham," papar Henry,

Salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan GOTO adalah melakukan reverse stock split sehingga harga saham kembali berada pada level yang lebih kondusif bagi likuiditas perdagangan. 

Baca Juga: Emiten BUMN Karya Masih Rapuh, Simak Prospeknya di Semester II 2026

Alternatif lainnya adalah berdiskusi dengan Bursa Efek Indonesia mengenai kemungkinan adanya mekanisme yang memungkinkan penyesuaian batas harga minimum Rp50 per saham.

Opsi lain adalah GOTO melakukan pembelian kembali saham di sekitar Rp50 per saham untuk memberikan tambahan likuiditas kepada pasar. 

"Secara neraca, perusahaan memiliki kapasitas yang cukup kuat untuk mempertimbangkan langkah tersebut, dengan posisi kas bersih lebih dari US$1 miliar," tambah Henry.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×