Reporter: Shabrina Almaira | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,80% atau turun 41,01 poin ke level 5.057,05 pada perdagangan Jumat (30/10/2026). Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di rentang 4.979,34 hingga 5.116,01.
Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, tekanan terhadap IHSG menjelang pengumuman evaluasi MSCI pada November masih cukup besar. Pada perdagangan akhir pekan lalu, investor asing kembali mencatatkan net sell sebesar Rp 176 miliar, sehingga akumulasi jual bersih sepanjang tahun berjalan mencapai sekitar Rp 126 triliun.
Menurut Hendra, kondisi tersebut menunjukkan tekanan pasar bukan sekadar koreksi teknikal, melainkan juga mencerminkan krisis kepercayaan investor terhadap transparansi, tata kelola, dan kepastian regulasi pasar modal Indonesia. Selama persoalan tersebut belum terselesaikan secara meyakinkan, investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko di Indonesia.
Baca Juga: Indodax Pulihkan Layanan Kripto Bertahap, Pastikan Dana Member Tetap Aman
“Dari sisi teknikal, IHSG masih berada dalam tren bearish dengan kecenderungan melemah menuju area 4.980. Jika level tersebut ditembus, indeks berpotensi melanjutkan koreksi ke support berikutnya di kisaran 4.907. Sementara itu, skenario menuju level 4.000 tidak dapat sepenuhnya diabaikan, tetapi membutuhkan kombinasi sentimen negatif yang lebih ekstrem, seperti keputusan MSCI yang merugikan, arus keluar asing semakin masif, pelemahan rupiah, dan memburuknya kepercayaan pasar,” ujar Hendra kepada Kontan, Minggu (1/11/2026).
Meski demikian, Hendra menyebut IHSG berpeluang mengalami technical rebound apabila hasil evaluasi MSCI lebih moderat dari perkiraan dan disertai komitmen perbaikan transparansi.
Penurunan IHSG turut menekan kapitalisasi pasar emiten seiring turunnya harga saham. Tekanan berpotensi lebih besar pada saham konglomerasi, energi dan pertambangan, infrastruktur, teknologi, serta properti, terutama emiten dengan free float rendah atau yang menjadi perhatian terkait transparansi kepemilikan dan pembentukan harga.
Menurut Hendra, penurunan valuasi tidak selalu mencerminkan memburuknya fundamental perusahaan, tetapi juga meningkatnya diskon risiko yang diminta investor akibat ketidakpastian tata kelola pasar.
Dari sisi fundamental, investor perlu membedakan emiten yang tertekan akibat sentimen pasar dengan perusahaan yang memang mengalami penurunan kinerja bisnis. Emiten dengan arus kas kuat, utang terkendali, profitabilitas stabil, dan daya tahan terhadap perlambatan ekonomi tetap memiliki peluang mempertahankan kinerja.
Sentimen positif dapat berasal dari penguatan harga komoditas, efisiensi operasional, peningkatan permintaan, dan potensi dividen. Sebaliknya, pelemahan harga komoditas, tekanan nilai tukar, kenaikan biaya pendanaan, serta berlanjutnya arus keluar asing menjadi risiko utama. Karena itu, penurunan harga saham perlu dimanfaatkan secara selektif, bukan menjadi alasan untuk membeli seluruh saham yang sudah terkoreksi.
Baca Juga: OJK Diminta Tak Tebang Pilih dalam Menjatuhkan Sanksi
Di tengah kondisi pasar yang belum stabil, Hendra menilai saham berbasis komoditas dengan fundamental dan potensi arus kas yang relatif kuat masih menarik untuk dicermati.
Ia merekomendasikan strategi speculative buy saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dengan target harga Rp 3.500, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) dengan target Rp 2.600, serta PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dengan target Rp 1.550. Ketiga saham tersebut lebih tepat dikoleksi secara bertahap dengan tetap menjaga likuiditas dan disiplin terhadap risiko.
Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta memperkirakan, IHSG masih berada dalam kondisi bearish momentum pada perdagangan Senin (2/11/2026). Peluang pelemahan limited downside masih terbuka lebar. Kalaupun IHSG memulai penguatan, kemungkinan pergerakannya lebih bergantung pada dead cat bounce.
Menurut Nafan, tekanan tersebut berkaitan dengan net foreign sell akibat dinamika usulan MSCI untuk mengklasifikasikan Indonesia menjadi standalone market.
Dari sisi geopolitik, Nafan menyoroti kenaikan harga minyak mentah global yang didorong kekhawatiran pelaku pasar terhadap kemungkinan pemerintah Amerika Serikat mempertimbangkan aksi militer baru terhadap Iran setelah pemilu AS pada 3 November. Kondisi ini berpotensi memupus harapan penyelesaian diplomatik dalam waktu dekat serta meningkatkan risiko insiden keamanan dan gangguan terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk, termasuk jalur distribusi minyak di Selat Hormuz.
Dinamika politik di AS juga menimbulkan kekhawatiran terhadap potensi pengetatan regulasi pengembangan AI. Sementara itu, pembelian dana miliaran dolar di pasar kripto turut menekan pergerakan harga Bitcoin.
“Dari domestik, pasar akan mencermati implementasi kebijakan baru BEI yang mulai berlaku pada 2 November. Dalam kebijakan tersebut, saham-saham yang tergolong dalam HSC dikecualikan dari perhitungan IHSG. Kebijakan ini merupakan bagian dari reformasi pasar modal untuk meningkatkan transparansi, kredibilitas indeks, dan kepercayaan investor di tengah dinamika evaluasi MSCI,” tutur Nafan.
Investor juga akan mencermati data ekonomi domestik, meliputi PMI manufaktur Oktober, inflasi Oktober, dan neraca perdagangan September. Jika data tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi yang tetap ekspansif, inflasi yang terkendali, serta surplus neraca perdagangan yang terjaga, kondisi ini dapat menjadi katalis positif bagi IHSG. Sebaliknya, inflasi yang lebih tinggi dari target atau ekspektasi maupun surplus neraca perdagangan yang menyusut, bahkan mengalami defisit, berpotensi memberikan tekanan terhadap IHSG dan rupiah.
Secara teknikal, Nafan memproyeksikan IHSG memiliki level support di 4.969 dan 4.907, serta resistance di 5.246 dan 5.326.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














