kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.964.000   20.000   1,03%
  • USD/IDR 16.370   0,00   0,00%
  • IDX 7.952   15,91   0,20%
  • KOMPAS100 1.106   -0,20   -0,02%
  • LQ45 812   -1,90   -0,23%
  • ISSI 268   1,83   0,69%
  • IDX30 421   0,16   0,04%
  • IDXHIDIV20 488   0,14   0,03%
  • IDX80 122   -0,19   -0,16%
  • IDXV30 132   0,97   0,74%
  • IDXQ30 136   0,14   0,10%

IHSG Masih Atraktif, Asing Diyakini Terus Incar Saham Indonesia


Kamis, 28 Agustus 2025 / 20:21 WIB
IHSG Masih Atraktif, Asing Diyakini Terus Incar Saham Indonesia
ILUSTRASI. Pada akhir perdagangan Kamis (28/8/2025), IHSG ditutup menguat 0,20% atau naik 15,91 poin ke level 7.952,08. KONTAN/Cheppy A. Muchlis/26/08/2025


Reporter: Yuliana Hema | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar saham Indonesia, yang tercermin dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dinilai masih atraktif dalam menarik aliran dana investor asing dibandingkan bursa regional lain.

Pada akhir perdagangan Kamis (28/8/2025), IHSG ditutup menguat 0,20% atau naik 15,91 poin ke level 7.952,08.

Meski begitu, investor asing masih mencatatkan net sell di seluruh pasar senilai Rp 278,61 miliar.

Baca Juga: IHSG Masih Sulit Bertahan di Level 8.000, Ini Sebabnya

Namun secara tren bulanan, arus modal asing masih deras masuk ke pasar saham domestik.

Mandiri Sekuritas mencatat hingga 20 Agustus 2025, investor asing membukukan net buy sebesar US$ 368 juta di Bursa Efek Indonesia.

Dorongan sentimen global

Head of Equity Research and Strategy Mandiri Sekuritas Adrian Joezer menyebut, aliran dana asing masuk tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di sejumlah bursa besar Asia.

Per 20 Agustus 2025, pasar saham Jepang menerima inflow asing sebesar US$ 21,39 miliar, sementara Korea Selatan mencatatkan US$ 1,83 miliar.

Baca Juga: IHSG Menguat ke 7.952 Hari Ini (28/8), Net Buy Asing Terbesar di Saham BBCA

Menurut Joezer, tren masuknya dana asing didorong oleh ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dalam FOMC September 2025 serta pelemahan dolar AS.

“Penurunan yield obligasi juga turut meningkatkan likuiditas yang masuk ke pasar saham,” jelasnya dalam paparan.

Bagi Indonesia, aliran dana asing juga dipicu valuasi saham yang masih relatif tertinggal, setelah IHSG sempat tertekan di paruh pertama tahun ini.

“Selain itu, ekspektasi masuknya sejumlah saham ke indeks global seperti MSCI mendorong inflow tambahan. Momentum ini sudah terlihat pekan lalu,” ujarnya.

Valuasi masih murah

Mandiri Sekuritas menilai, valuasi IHSG saat ini masih rendah, berada di kisaran 11,6 kali Price Earning (PE) dengan dividend yield 5,6%.

Untuk saham big caps yang tergabung dalam IDX30, valuasinya lebih murah lagi yakni 10,6 kali PE dengan proyeksi dividend yield mencapai 5,9%.

“Dengan yield SBN yang mulai menurun, saham blue chip berpotensi jadi pilihan karena memberikan imbal hasil relatif lebih menarik,” kata Joezer.

Baca Juga: IHSG Menguat 0,20% ke 7.952,08, Saham Big Banks Bergerak Variatif Kamis (28/8)

Sejalan, Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menilai, valuasi IHSG masih atraktif di kisaran forward PE 13,5–14 kali, masih di bawah rata-rata historis 10 tahun sekitar 15 kali.

“Dengan foreign net buy yang sudah mencapai Rp 10,5 triliun dalam sebulan terakhir, ruang tambahan inflow tetap terbuka. Kuncinya stabilitas makro tetap terjaga dan kinerja emiten kuartal III solid,” ujar Liza.

Persaingan regional

Meski begitu, Indonesia tetap bersaing ketat dengan pasar saham lain dalam menarik dana asing. Liza menyebut Vietnam dan India menjadi pesaing utama.

“Vietnam unggul dari sisi valuasi yang lebih murah dan prospek industrialisasi cepat, sementara India ditopang konsumsi domestik yang besar,” katanya.

Baca Juga: IHSG dan Rupiah Kompak Menguat pada Kamis (28/8/2025) Siang

Sementara itu, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menambahkan, negara seperti Thailand, China, Filipina, dan Vietnam juga menjadi kompetitor.

“Pada akhirnya, negara yang mampu memberikan kepastian kebijakan akan lebih menarik bagi investor asing,” jelasnya.

Proyeksi akhir tahun

Untuk proyeksi, Nico memperkirakan IHSG hingga akhir 2025 bergerak di kisaran 7.740–7.920. Jika konsisten ditutup di atas 7.900, target berikutnya berada di 8.080 dengan probabilitas 69%.

Kiwoom Sekuritas lebih optimistis, dengan skenario IHSG melaju ke 7.800–8.000, didukung inflow asing positif dan pertumbuhan laba emiten 10%–20% year on year (YoY).

Forward PE di kisaran 14 kali masih tergolong wajar dan tidak terlalu mahal dibanding rata-rata kawasan,” pungkas Liza.

Selanjutnya: IKI vs PMI Manufaktur, Sektor Industri Indonesia Ekspansi atau Kontraksi?

Menarik Dibaca: Ini Manfaat Skin Fasting dan Cara Melakukannya dengan Benar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] AI-Powered Scenario Analysis AYDA dan Penerapannya, Ketika Debitor Dinyatakan Pailit berdasarkan UU. Kepailitan No.37/2004

[X]
×