kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

IHSG hari ini diprediksi melemah, kenapa?


Selasa, 12 November 2019 / 09:34 WIB
IHSG hari ini diprediksi melemah, kenapa?
ILUSTRASI. Papan elektronik pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Selasa (12/11) pukul 9.32 WIB, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,10% ke 6.142.

Reporter: Benedicta Prima | Editor: Wahyu Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Selasa (12/11) pukul 9.32 WIB, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,10% ke 6.142. Ini adalah penurunan IHSG hari kedua setelah indeks menguat pada Jumat lalu.

Tim riset Pilarmas Investindo Sekuritas melihat, hari ini, Selasa (12/11) IHSG memiliki peluang bergerak melemah di level 6.098-6.208. Direktur Riset dan Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, Analis Johan Trihantiri dan Analis Okie Ardiastama melihat setidaknya ada tiga sentimen pasar pada hari ini.

Baca Juga: IHSG malah turun di tengah kenaikan bursa Asia

Pertama, pabrik di China diprediksi akan menurunkan harga di dunia. Hal ini terjadi karena biaya barang mereka turun paling dalam sejak 2016. Penurunan ini datang di tengah tekanan dan tantangan baru terhadap kemampuan bank sentral global untuk kembali menghidupkan inflasi. "Dan yang terpenting adalah pertumbuhan China yang terus melambat dalam kurun waktu hampir tiga dekade," tulis Nico dan tim.

Penurunan ini dapat membuat setiap perusahaan di dunia dipaksa bersaing dengan perusahaan China untuk menurunkan harganya demi melindungi keuntungan. Ini berpotensi untuk menambah tensi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China saat ini.

Kondisi ini sama dengan tahun 2014-2016, saat harga barang China yang sangat murah mempersulit bank sentral di negara lain untuk menjaga inflasi yang berkelanjutan. Adapun saat ini harga konsumen di Jepang, Jerman dan AS sudah di bawah target inflasi yaitu 2% per tahun.

Baca Juga: Cermati 10 saham yang paling apes terseret penurunan IHSG, Senin (11/11)

Kedua, perusahaan minyak nasional Abu Dhabi yang dikenal dengan nama Adnoc dan sembilan perusahaan energi terbesar di dunia telah bermitra dengan Intercontinental Exchange (ICE) untuk membuat kontrak berjangka minyak mentah Murban pertama di dunia. ICE Futures Abud Dhabi (IFAD) dan ICE Murban Future dijadwalkan untuk diluncurkan pada awal 2020. Sesuai dengan persetujuan regulator benchmark baru tersebut akan berupaya untuk menyaingi harga benchmark dari minyak mentah yang sudah ada sebelumya, yaitu Brent dan WTI.

Murban adalah kelas minyak mentah ringan, yang sebagian besar diekspor dari Fujairah melalui teluk Oman dengan produksi keseluruhan dari Abu Dhabi untuk saat ini berkisar 3 juta barel per hari.

Baca Juga: Simak rekomendasi saham CPIN, BBNI, dan ISAT untuk hari ini

Ketiga, Presiden RI Joko Widodo  menginginkan para menteri terkait memperbesar surplus neraca perdagangan dengan menggenjot ekspor dan fokus mengembangkan sektor pariwisata yang mendatangkan devisa dan mengurangi angka impor bahan bakar minyak (BBM) dengan beberapa hal yang bisa dilakukan adalah pengembangan kilang minyak dan pemanfaatan energi terbarukan.

Pengolahan energi baru terbarukan seperti B20 juga direncanakan segera bisa masuk ke B30, lalu ke B100 sehingga bisa mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM.


Tag


TERBARU

Close [X]
×