kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.947.000   -7.000   -0,24%
  • USD/IDR 16.802   -28,00   -0,17%
  • IDX 8.291   159,23   1,96%
  • KOMPAS100 1.172   25,90   2,26%
  • LQ45 842   12,51   1,51%
  • ISSI 296   7,86   2,73%
  • IDX30 436   5,12   1,19%
  • IDXHIDIV20 520   1,62   0,31%
  • IDX80 131   2,69   2,10%
  • IDXV30 143   1,37   0,97%
  • IDXQ30 141   0,56   0,40%

IHSG Diproyeksikan Konsolidasi pada Perdagangan Perdana di 2026, Jumat (2/1)


Kamis, 01 Januari 2026 / 11:25 WIB
Diperbarui Kamis, 01 Januari 2026 / 11:26 WIB
IHSG Diproyeksikan Konsolidasi pada Perdagangan Perdana di 2026, Jumat (2/1)
ILUSTRASI. IHSG Melemah-Suasana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat tipis pada perdagangan terakhir tahun 2025, Selasa (30/12/2025). IHSG naik 0,031% atau bertambah 2,68 poin ke level 8.646,94.

Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai secara teknikal IHSG masih berada dalam fase konsolidasi. Hal ini tercermin dari indikator RSI yang masih menunjukkan sinyal negatif, seiring terjadinya penurunan volume transaksi.

“Namun, indikator stochastics K-D mulai mengarah ke sinyal positif, sehingga membuka peluang pergerakan yang lebih stabil dalam jangka pendek,” ujar Nafan kepada Kontan, Kamis (1/1/2026).

Baca Juga: Harga Emas Spot Melonjak 64% di Sepanjang Tahun 2025

Untuk perdagangan Jumat (2/1/2026), IHSG diproyeksikan bergerak konsolidatif dengan level support di 8.506 dan 8.448. Sementara itu, area resistance berada di kisaran 8.600 dan 8.666.

Menurut Nafan, pelaku pasar masih mencermati berbagai sentimen global dan domestik yang berpotensi mempengaruhi arah pergerakan IHSG ke depan. Di antaranya perkembangan kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump, prospek kebijakan moneter The Federal Reserve dan Bank Indonesia, data global serta Indonesia manufacturing PMI, dinamika geopolitik, hingga perkembangan teknologi yang mempengaruhi sentimen pasar.

Dengan masih kuatnya faktor eksternal tersebut, Nafan menilai potensi January Effect pada awal 2026 akan sangat bergantung pada dinamika ekonomi makro global dan domestik.

“Strategi yang dapat diterapkan investor adalah mengakumulasi saham-saham pilihan dengan prospek solid, merealisasikan profit jika diperlukan, serta tetap menerapkan manajemen risiko secara disiplin,” ujar Nafan.

Selanjutnya: Awal 2026, SPBU Swasta Kompak Turunkan Harga BBM, Ini Daftar Lengkapnya

Menarik Dibaca: Bibit Siklon Tropis 90S Berpotensi Jadi Badai, Hujan Lebat di Sebagian Jawa

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×