kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

IHSG diprediksi tertekan oleh pelemahan rupiah


Jumat, 20 Mei 2016 / 07:28 WIB
IHSG diprediksi tertekan oleh pelemahan rupiah

Berita Terkait

Reporter: Andy Dwijayanto | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. IHSG pada hari ini diprediksi masih akan tertekan karena penutupan kemarin menembus support di level 4.720. Pelemahan rupiah yang telah menembus level psikologis Rp 13.500 per dollar masih akan menjadi perhatian pasar. Saham-saham yang sensitif dengan nilai tukar pada hari ini sebaiknya dihindari.

"Dengan posisi MACD downtrend dan RSI yang menuju area oversold, IHSG akan menguji support di level 4.650 dan resistance di 4735," ujar David Sutyanto, Analis First Asia Capital dalam Market Research, Jumat (20/5).


Sebelumya, IHSG pada perdagangan kemarin mengalami tekanan hingga terkoreksi 30 poin ke posisi 4.704,22. Sebanyak 8 sektor melemah dengan sektor infrastruktur yang menjadi pemimpinnya diikuti dengan sektor pertambangan dan barang konsumsi. Adapun dua sektor yang menghijau adalah sektor keuangan dan perdagangan.

Melemahnya rupiah ke level Rp 13.565 per dollar AS membuat pelaku pasar melakukan aksi jual. Selain itu risalah rapat The Fed yang mengindikasikan kemungkinan kenaikan Fed Rate membuat sentimen yang direspon negatif oleh pasar.

Sementara Wall Street dan bursa saham Eropa seirama bergerak dengan bursa saham kawasan dunia lainnya turut tertekan akibat spekulasi kenaikan bunga di AS Juni mendatang.

Indeks DJIA dan S&P di Wall Street masing-masing koreksi 0,5% dan 0,4% tutup di 17435,40 dan 2040,04. Indeks saham di Eropa seperti indeks Eurostoxx koreksi 1,3% di 2919,22. Spekulasi kenaikan tingkat bunga juga menekan harga sejumlah komoditas akibat penguatan dolar AS.

Bank Indonesia kembali memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di level 6,75%. Keputusan tersebut merupakan langkah aman untuk menjaga pelemahan rupiah dan antisipasi dari kenaikan Fed Fund Rate.

Namun keputusan tersebut juga diikuti dengan pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi ke level 5-5,4%. BI melihat bahwa pertumbuhan konsumsi dan investasi belum cukup kuat meski telah diberikan stimulus moneter dan fiskal.


Tag


TERBARU

Close [X]
×