kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.576.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.913   -79,00   -0,44%
  • IDX 6.037   27,39   0,46%
  • KOMPAS100 777   3,53   0,46%
  • LQ45 595   3,08   0,52%
  • ISSI 210   1,46   0,70%
  • IDX30 331   2,54   0,77%
  • IDXHIDIV20 423   3,72   0,89%
  • IDX80 89   0,46   0,52%
  • IDXV30 115   0,93   0,82%
  • IDXQ30 108   0,61   0,57%

Rupiah Berpotensi Melemah Pekan Depan, Yield UST dan Minyak jadi Sorotan


Jumat, 02 Oktober 2026 / 16:27 WIB
Rupiah Berpotensi Melemah Pekan Depan, Yield UST dan Minyak jadi Sorotan
ILUSTRASI. Memasuki pekan depan, analis memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah(AFP/YASUYOSHI CHIBA)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan rupiah masih dibayangi tekanan eksternal sepanjang pekan ini. Kenaikan imbal hasil US Treasury, penguatan dolar AS, hingga tingginya harga minyak di tengah ketegangan Timur Tengah menjadi sejumlah sentimen yang menekan mata uang Garuda.

Rupiah spot ditutup pada level Rp 17.882 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Jumat (2/10/2026), menguat 0,47% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.966 per dolar AS. Dalam sepekan, rupiah menguat 0,12%. 

Ada pun rupiah pada kurs JISDOR (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate) juga mengalami penguatan 0,22% secara harian menjadi Rp 17.898 per dolar AS. Sepekan terakir rupiah JISDOR menguat 0,1%.

Baca Juga: IHSG Menguat 0,46% ke 6.036 pada Jumat (2/10/2026), GOTO, PTBA, ADRO Top Gainers LQ45

Meski demikian, Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong, mengatakan penguatan tersebut dinilai belum cukup untuk mengubah tren pergerakan rupiah secara keseluruhan.

“Sepekan ini rupiah masih tertekan oleh kenaikan yield US Treasury, penguatan dolar AS, dan tingginya harga minyak akibat ketegangan di Timur Tengah,” ujar Lukman kepada Kontan, Jumat (2/10/2026).

Tercatat imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun melonjak ke 5,3% pada Kamis (1/10), level tertinggi sejak 2002. Ini didorong inflasi yang membandel, penerbitan obligasi yang besar, dan ledakan investasi berbasis kecerdasan buatan (AI). Di awal tahun, padahal imbal hasil acuan tersebut masih berada di kisaran 4,15%. 

Selain itu, meski The Fed baru saja menaikkan suku bunga acuannya menjadi 3,75%-4% pada FOMC September, masih ada ruang ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed lanjutan oleh pasar, yang turut mendorong arus keluar modal asing dari negara emerging market. Ini turut menjadi beban bagi rupiah.

Jika ditelaah, di awal pekan ini rupiah mengalami tren pelemahan. Meski demikian, rupiah mampu menguat pada perdagangan akhir pekan ini. Menurut Lukman, penguatan tersebut didukung oleh berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober.

Namun, kondisi tersebut belum cukup untuk mengubah tren rupiah secara keseluruhan. Pasalnya, tekanan dari faktor eksternal masih cukup kuat, terutama dari pergerakan yield obligasi AS, dolar AS, dan harga minyak.

Untuk pekan depan, Lukman memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. “Sepekan depan, dengan absennya data-data ekonomi penting, rupiah diperkirakan masih fluktuatif dengan kecenderungan melemah,” kata Lukman.

Baca Juga: Reksadana Campuran Tertekan, Dua Produk Henan Putihrai AM Justru Catat Return Positif

Ia menambahkan, perkembangan konflik di Timur Tengah dan pergerakan harga minyak akan menjadi sentimen utama yang perlu dicermati pasar. Kenaikan harga minyak berpotensi kembali memberikan tekanan terhadap rupiah.

Selain itu, investor akan terus mencermati pergerakan imbal hasil obligasi, khususnya US Treasury. Jika yield obligasi AS kembali meningkat, tekanan terhadap rupiah berpotensi semakin besar.

Untuk perdagangan sepekan ke depan, Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.750-Rp 18.100 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×