Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tekanan jual masih membayangi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) setelah ditutup melemah tajam pada awal pekan ini.
Pada perdagangan Senin (2/2/2026), IHSG ambrol sebesar 4,88% ke level 7.922,73, dengan tekanan terjadi hampir di seluruh sektor.
Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menilai pelemahan ini lebih mencerminkan sikap wait and see investor ketimbang meningkatnya pesimisme terhadap prospek pasar.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Rebound Terbatas di Awal Pekan, Cek Saham Rekomendasi Analis
“Tekanan IHSG hari ini lebih dipengaruhi pesan pasar, khususnya dari investor asing, yang masih menantikan tindak lanjut resmi dari pertemuan BEI dengan MSCI terkait transparansi pasar. Selain itu, masa transisi di regulator juga membuat pelaku pasar menunggu langkah konkret yang lebih meyakinkan,” ujar Reza kepada Kontan, Senin (2/2/2026).
Dari sisi domestik, sentimen utama masih berasal dari kebijakan MSCI terkait isu free float dan pembekuan rebalancing pada Februari yang memicu penyesuaian portofolio investor, terutama asing.
Ketidakpastian juga meningkat seiring perubahan jajaran pimpinan di regulator dan otoritas pasar modal.
Sementara dari global, tekanan datang dari pelemahan harga sejumlah komoditas, ketidakpastian geopolitik, serta dinamika kebijakan Amerika Serikat, termasuk pernyataan Presiden Donald Trump terkait arah kebijakan moneter dan isu suksesi pimpinan The Fed yang meningkatkan volatilitas pasar.
Baca Juga: IHSG Diprediksi Rebound Pekan Ini, Cermati Saham Rekomendasi Analis Berikut
Secara teknikal, IHSG masih bergerak volatil dengan kecenderungan terbatas. Reza menyebut indikator MACD berada di zona negatif dan RSI kembali masuk area oversold.
“Untuk perdagangan Selasa, IHSG diperkirakan bergerak mixed cenderung tertekan dengan support di 7.785 dan resistance di 8.232. Jika tekanan berlanjut dan hasil pertemuan dengan MSCI belum menunjukkan kejelasan, IHSG berpotensi menguji area psikologis 7.500-7.600,” jelasnya.
Ia menambahkan, komitmen pemerintah dalam membenahi keterbukaan informasi pasar, khususnya terkait formula free float dan keterbukaan ultimate beneficial owner (UBO), berpotensi menjadi faktor peredam tekanan ke depan.
Senada, VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi menilai pergerakan IHSG dalam jangka pendek masih fluktuatif, dengan peluang tekanan lanjutan jika gagal bertahan di area support.
“Level support penting berada di kisaran 7.600-7.700, sementara resistance terdekat di 8.170-8.400. Selama IHSG belum mampu kembali menembus resistance tersebut, pasar masih rentan terhadap koreksi lanjutan,” katanya.
Baca Juga: IDX Basic Materials Melonjak di Awal 2026, Cermati Saham Rekomendasi Analis
Ia memperkirakan skenario terburuk IHSG berpotensi mengarah ke area 7.250–7.500 apabila tekanan asing berlanjut dan ketidakpastian kebijakan belum mereda.
Untuk strategi jangka pendek, Audi melihat sektor defensif dan konsumer relatif lebih tahan terhadap tekanan pasar. Saham yang dapat dicermati antara lain INDF dengan target resistance di kisaran Rp7.275-Rp7.450 serta PTBA dengan target di area Rp2.700-Rp2.800.
Sementara itu, Reza menilai kebijakan peningkatan likuiditas pasar, seperti rencana penguatan investasi institusional domestik dan dorongan pada saham berlikuiditas besar, berpotensi menguntungkan saham-saham blue chip dan defensif.
Baca Juga: Proyeksi IHSG dan Saham Pilihan Analis Jelang Rebalancing LQ45 dan Update MSCI
“Saham pilihan secara teknikal antara lain INDF dengan support Rp6.700 dan resistance Rp7.400, serta AADI dengan support Rp7.750 dan resistance Rp8.550,” tutupnya.
Selanjutnya: Begini Strategi Erajaya Swasembada (ERAA) Optimalkan Kinerja Bisnis pada 2026
Menarik Dibaca: Ini 5 Aset Kripto Top Gainers saat Pelemahan Pasar Tak Terbendung
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- IHSG
- Indeks Harga Saham Gabungan
- investor
- Pasar Modal
- INDF
- PTBA
- MSCI
- free float
- rekomendasi saham
- strategi investasi
- saham pilihan
- BRI Danareksa Sekuritas
- Volatilitas Pasar
- Kiwoom Sekuritas Indonesia
- Saham Blue Chip
- AADI
- prediksi IHSG
- Analisis IHSG
- Reza Diofanda
- Sektor Defensif
- support resistance IHSG
- Regulator Pasar Modal













