Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi cukup dalam pada September 2026 akibat akumulasi tekanan makroekonomi global dan teknikal domestik.
Meski pasar saham tertekan, pelemahan harga saat ini membuka momentum bagi investor untuk melakukan aksi beli di harga rendah (bottom fishing) pada sejumlah saham berprospek cerah menjelang akhir tahun 2026.
Berdasarkan data Bloomberg, IHSG mencatatkan penurunan bulanan terburuk di antara instrumen pasar modal dengan koreksi sebesar 6,96% secara month on month (MoM) dari posisi Agustus di level 6.525,47 ke posisi 6.071,13 pada akhir September.
Penurunan ini memperlebar akumulasi koreksi IHSG secara tahunan (YtD) hingga mencapai 29,79%.
Baca Juga: IHSG Tertekan Sentimen Global, Cermati Proyeksi dan Saham Rekomendasi Analis
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengungkapkan bahwa pemicu utama kejatuhan IHSG bersumber dari ranah global, terutama keputusan The Fed menaikkan Fed Funds Rate sebesar 25 bps menjadi 3,75%–4,00% pada pertengahan September.
Kebijakan moneter ketat AS memicu lonjakan yield US Treasury 10 tahun hingga melampaui 5% dan memperkuat dolar AS, sehingga mengikis daya tarik aset pasar berkembang (emerging markets).
Risiko inflasi global pun kian memuncak menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengerek harga minyak mentah jenis Brent ke level US$ 100 per barel.
Tekanan global tersebut langsung mentransmisikan dampak negatif ke pasar domestik. Nilai tukar rupiah bergerak melemah hingga menembus Rp 18.000 per dolar AS, sementara yield Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun naik ke kisaran 7,2%.
Baca Juga: ULTJ, KOTA, MGLV Gelar Rights Issue, Cermati Proyeksi dan Rekomendasi Analis
Kondisi ini memicu aksi lepas portofolio secara masif oleh investor asing (foreign outflow).
Nafan mencatat aksi jual bersih asing mencapai Rp 3,36 triliun pada pekan 7–11 September dan berlanjut sekitar Rp 1,84 triliun pada pekan berikutnya dengan sasaran utama saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) seperti BBCA dan BMRI.
Senada, Direktur Infovesta Utama Wawan Hendrayana menambahkan bahwa total net sell investor asing di pasar saham berkisar antara Rp 7,2 triliun hingga Rp 10,2 triliun sepanjang September.
Tekanan likuiditas kian diperberat oleh keputusan Bank Indonesia (BI) yang menahan suku bunga acuan.
Baca Juga: Saham Lapis Dua Dinilai Tahan Koreksi, Ini Sektor dan Saham Pilihan Analis
Dari sisi internal, faktor profit taking pasca reli Agustus, fenomena musiman September Effect, serta volatilitas menyangkut implementasi kebijakan batas harga terendah Rp 1 di bursa turut memperkuat laju koreksi.
Kendati IHSG tertekan hebat, penurunan harga yang terjadi dinilai menciptakan ruang akumulasi bagi investor.
Wawan menilai saham-saham perbankan besar seperti BBCA, BMRI, dan BBRI sangat layak dicermati untuk aksi bottom fishing karena berpotensi pulih lebih cepat saat arus modal asing berbalik masuk, seiring ekspektasi posisi Indonesia yang tetap dipertahankan dalam indeks MSCI pada November mendatang.
"Saham emas dan logam seperti ANTM dan BRMS juga menarik, apalagi ANTM menjadi saham yang paling banyak dibeli asing di September," ujar Wawan kepada Kontan, Kamis (1/10/2026).
Di luar sektor emas dan perbankan, saham batubara seperti AADI dinilai diuntungkan oleh pendapatan berdenominasi dolar AS di tengah penguatan mata uang Uncle Sam.
Baca Juga: IHSG Berpotensi Lanjut Koreksi Senin (28/9), Ini 4 Saham Rekomendasi BRI Danareksa
Sementara itu, saham konsumer defensif dan perkebunan CPO seperti AMRT, DSNG, dan AALI diproyeksikan relatif tahan banting menghadapi gejolak pasar.
Strategi akumulasi bertahap menjadi opsi rasional menjelang kuartal IV 2026 seiring dengan potensi pembalikan arah arus dana portofolio investor institusi.
"Secara teknikal dan fundamental, koreksi sehat ini dimanfaatkan oleh pelaku pasar untuk melakukan akumulasi bertahap pada saham-saham pilihan sebelum harga memasuki fase pemulihan," kata Nafan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














