Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) terus memperkuat ekspansi pasar ekspor, terutama ke Australia dan Selandia Baru, untuk menopang pertumbuhan kinerja hingga 2026 dan 2027.
Strategi tersebut dinilai dapat menjadi salah satu motor pertumbuhan baru bagi IMPC, seiring kontribusi ekspor yang telah mencapai sekitar 32% terhadap omzet pada semester I 2026. IMPC juga menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar Rp 500 miliar untuk penambahan mesin dan bangunan pabrik.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, ekspansi ke Australia dan Selandia Baru berpotensi memperkuat diversifikasi pasar IMPC sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap permintaan domestik.
Baca Juga: Yield SUN Diprediksi Bergerak di 7,05%-7,20%, Seri FR0109 Masih Menarik
“Dengan kontribusi ekspor yang sudah mencapai sekitar 32% terhadap omzet pada semester I-2026, pasar internasional sudah menjadi bagian yang cukup signifikan bagi kinerja perseroan,” ujar Nafan kepada Kontan, Jumat (25/9/2026).
Menurutnya, peningkatan volume penjualan ekspor yang diikuti dengan optimalisasi utilisasi kapasitas produksi dapat mendorong pertumbuhan pendapatan sekaligus memperbaiki operating leverage. Namun, kemampuan ekspor dalam menjaga margin tetap dipengaruhi oleh komposisi produk, biaya logistik, nilai tukar, serta pricing power IMPC di pasar Australia dan Selandia Baru.
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menambahkan, ekspansi tersebut cukup strategis karena membuat sumber pertumbuhan IMPC lebih terdiversifikasi.
“Dengan kontribusi ekspor yang sudah cukup besar, penetrasi yang lebih dalam di dua pasar tersebut bisa menjadi growth driver baru sekaligus membantu menjaga margin, terutama jika IMPC bisa meningkatkan porsi produk bernilai tambah,” kata Elandry.
Selain ekspansi pasar, tren harga bahan baku yang mulai melandai menjadi faktor lain yang berpotensi menopang profitabilitas IMPC.
Nafan mengatakan, moderasi harga bahan baku dapat mengurangi tekanan biaya produksi dan memberikan ruang bagi IMPC untuk mempertahankan atau meningkatkan margin.
Meski demikian, ia bilang, faktor tersebut tidak cukup menjadi satu-satunya penopang profitabilitas. Pertumbuhan volume penjualan, efisiensi biaya, utilisasi kapasitas, serta pengelolaan biaya logistik dan energi juga akan menentukan kinerja margin hingga akhir 2026.
“Dengan demikian, apabila harga bahan baku tetap terkendali sementara permintaan dan volume penjualan meningkat, maka terdapat ruang bagi margin IMPC untuk tetap terjaga hingga akhir tahun,” jelas Nafan.
Elandry menambahkan, tren bahan baku yang mulai melandai telah menjadi sentimen positif bagi margin IMPC.
Pada semester I 2026, laba bersih IMPC tumbuh sekitar 51% menjadi Rp 446,5 miliar, sementara net profit margin meningkat menjadi sekitar 18,1%.
“Jadi kalau harga bahan baku relatif stabil dan efisiensi operasional tetap terjaga, target laba bersih di atas Rp 800 miliar cukup realistis untuk dikejar sampai akhir tahun,” ujar Elandry.
Dari sisi kinerja, Nafan menjelaskan, prospek IMPC hingga akhir 2026 masih positif. Target pendapatan sebesar Rp 5,1 triliun dinilai masih memiliki basis yang cukup realistis untuk dikejar apabila pertumbuhan ekspor dan pasar domestik berlanjut pada semester II-2026.
Untuk 2027, ruang pertumbuhan masih terbuka melalui peningkatan kapasitas produksi, ekspansi pasar ekspor, pengembangan produk bernilai tambah, serta optimalisasi fasilitas yang dibangun melalui capex.
Elandry mengatakan, arah pertumbuhan IMPC pada 2027 berpotensi mulai bergeser dari ekspansi kapasitas menuju monetisasi kapasitas baru. Pasalnya, pendapatan semester I 2026 telah mencapai sekitar Rp 2,5 triliun atau hampir separuh dari target pendapatan 2026 sebesar Rp 5,1 triliun.
“Untuk 2027, ruang pertumbuhan masih terbuka dari tambahan kapasitas produksi, ekspansi pasar ekspor, serta optimalisasi capex yang dilakukan tahun ini. Jadi pertumbuhannya berpotensi mulai bergeser dari capacity expansion menuju monetisasi kapasitas baru,” kata Elandry.
Sejumlah katalis masih perlu dicermati, mulai dari pertumbuhan ekspor, tambahan kapasitas produksi, normalisasi harga bahan baku, efisiensi operasional, hingga permintaan produk bahan bangunan.
Baca Juga: IHSG Turun 0,46% ke 6.213 Awal Perdagangan Senin (28/9) Pagi, Saham GOTO Anjlok 14%
Di sisi lain, risiko yang perlu diperhatikan mencakup volatilitas harga bahan baku polimer, kenaikan biaya logistik dan energi, fluktuasi nilai tukar, perlambatan sektor konstruksi dan properti, serta persaingan di pasar ekspor.
Nafan juga menekankan pentingnya efektivitas penggunaan capex. Menurutnya, ekspansi kapasitas akan memberikan dampak optimal terhadap kinerja apabila diikuti dengan peningkatan utilisasi dan arus kas.
Dari sisi saham, Elandry bilang, IMPC masih menarik dicermati seiring pertumbuhan laba dan ekspansi bisnis yang berjalan. Ia mengatakan, area Rp 1.630 hingga Rp 1.700 per saham sebagai area yang dapat dicermati untuk buy on weakness, dengan target terdekat Rp 1.825 per saham.
“Jika momentum dan kinerja fundamental tetap terjaga, peluang menuju area psikologis Rp 1.900-Rp 2.000 terbuka, tetapi tetap perlu memperhatikan market sentiment dan volatility pasar,” pungkas Elandry.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














