Reporter: Muhammad Khairul | Editor: Avanty Nurdiana
JAKARTA. Harga batubara masih lesu. Perusahaan yang memiliki kontrak jangka pendek seperti PT Harum Energy Tbk bisa dipastikan terimbas cukup besar.
Frederick Daniel Tanggela, Analis Trimegah Securities, mengatakan kontrak jangka pendek yang dimiliki Harum tidak menguntungkan. Akibatnya harga jual rerata batubara Harum akan lebih sensitif padahal harga jual batubara sekarang dalam tren turun.
Frederick mencatat, rata-rata kontrak batubara HRUM 3 – 6 bulan. Sementara kontrak perusahaan batubara lainnya 3 – 12 bulan.
Karena itu, dia memproyeksi harga jual rata-rata batubara HRUM di semester II-2012 bisa turun 15% year on year (yoy) ke US$ 80 per ton. Padahal harga jual rata-rata batubara HRUM di kuartal I-2012 naik 6,2% yoy US$ 94 ton.
Meski begitu, di tahun depan, Frederick menduga harga batubara bisa rebound US$ 100 per ton. Karena, ekspor dari AS menurun.
Frederick memperkirakan harga jual rata-rata HRUM tahun depan naik 4% yoy menjadi US$ 83 per ton. Sementara, emiten lain harga jual rata-rata akan turun 11% yoy.
Frederick memperkirakan produksi batubara HRUM tahun ini akan naik 25% yoy menjadi 10 juta ton. Kenaikan didukung produksi dari tambang Mahakam Sumber Jaya (MSJ) dan tambang Santan Batubara. Sementara target produksi Harum tahun ini naik 30% menjadi 13 juta ton.
Kenaikan produksi bisa menimalisir penurunan harga jual emiten berkode HRUM.
Produksi batubara di tahun depan juga masih akan naik. Maxi Liesyaputra, analis BNI Securities, menuturkan kontribusi dari anak usaha Harum PT Tambang Batubara Harum baru terasa di semester II. Yaitu sebanyak 1 juta ton.
Pendapatan turun
Frederick memperkirakan pendapatan HRUM tahun ini akan turun 14% jadi Rp 1,3 triliun yoy. Namun di 2013, pendapatan HRUM naik 34% menjadi Rp 1,7 triliun.
Fajar Indra, analis Panin Sekuritas, mencatat pertumbuhan rata-rata produksi batubara HRUM selama tiga tahun terakhir mencapai 30% CAGR. Dalam lima tahun kedepan, Fajar memperkirakan pertumbuhan rata-rata produksi batubara HRUM bisa mencapai 15,6% CGAR.
Karena pertumbuhan cepat, cadangan batubara akan berkurang banyak dan usianya sudah tidak lama lagi. “Harum nantinya akan bergantung sama akuisisi,” ungkap Fajar.
Cadangan batubara HRUM sampai akhir Desember 2011 mencapai 106 juta ton. Fajar bilang, ini hanya cukup tujuh tahun ke depan. Usia cadangan itu terendah di industri.
Fajar mengatakan peluang ekspansi saat ini ada pada konsensi patungan dengan PT Petrosea Tbk (PTRO) yakni pada PT Santan Batubara. HRUM menggamit 50% kepemilikan Santan Batubara. “Sekitar 70% areanya belum dieksplorasi,” ungkap Fajar.
HRUM juga sedang bersiap merampungkan akuisisi tambang batubara di wilayah Kalimantan Timur tahun ini. Namun, emiten belum mengkonfirmasi hal tersebut.
Fajar merekomendasi netral pada saham HRUM dengan target Rp 6.100. Frederick dan Maxi merekomendasi buy dengan target harga Rp 6.700 dan Rp 9.600. Maxi masih menghitung ulang target. Kemarin (15/8), saham HRUM turun 2% ke harga Rp 6.000.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













